Kamis, 21 Februari 2013

skrpsi

STUDI PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA DI DUSUN BADEGAN DESA BANTUL KECAMATAN BANTUL KABUPATEN BANTUL SKRIPSI Diajukan kepada Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta untuk memenuhi sebagian persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Pendidikan Disusun Oleh : RIKI PRASOJO 08405241004 PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GEOGRAFI FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2012 BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Negara Indonesia merupakan negara sedang berkembang yang telah melakukan pembangunan dalam segala bidang. Pada dasarnya pembangunan adalah suatu perubahan melalui intervensi manusia atau perubahan yang sengaja dilakukan manusia dengan mendayagunakan sumber daya. Dalam hal ini, perubahan sengaja dibuat atau dirancang, dengan tujuan untuk mencapai kondisi yang lebih baik dibanding dengan sebelumnya. Dengan perkataan lain, kegiatan pembangunan merupakan pendayagunaan sumber daya (alam, buatan, manusia) dan lingkungan sehingga harkat dan kesejahteraan masyarakat meningkat (Karden Edy Sontang Manik, 2007: 40-41). Dalam kegiatan pembangunan ini dapat menimbulkan dampak bagi kehidupan, baik dampak positif maupun dampak negatif. Untuk mencapai tujuan pembangunan, upaya memaksimalkan dampak positif dan meminimalkan dampak negatif menjadi satu-satunya alternatif yang harus dilaksanakan oleh pelaku pembangunan (Karden Edy Sontang Manik, 2007: 41). Dampak negatif dari kegiatan pembangunan yaitu masalah kerusakan lingkungan. Masalah lingkungan hidup sebenarnya sudah lama terjadi, bahkan tanpa campur tangan manusia. Kerusakan dan pencemaran lingkungan makin dipercepat karena meningkatnya aktivitas manusia yang serakah (Karden Edy Sontang Manik, 2007: 54). Masalah lingkungan pada umumnya disebabkan oleh peristiwa alam, pertumbuhan penduduk yang pesat, pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan, industrialisasi, dan transportasi (Karden Edy Sontang Manik, 2007: 56). Peristiwa alam atau kejadian alamiah, seperti gempa bumi akan mengakibatkan kerusakan lingkungan hidup baik di daratan maupun lautan. Pertumbuhan penduduk yang tidak terkendali mengakibatkan masalah dalam menyediakan lahan untuk permukiman dan untuk usaha, fasilitas pelayanan sosial (pendidikan, rumah ibadah, kesehatan, air bersih, dan transportasi), serta masalah ekonomi dan budaya lainnya. Pemanfaatan sumber daya yang berlebihan atau kurang bijaksana akan mengakibatkan terjadinya perubahan bentang alam, meningkatnya frekuensi tanah longsor, terbentuknya terowongan, terjadinya genangan air yang tidak dikehendaki, serta kerusakan ekosistem lainnya. Perkembangan industrialisasi akan menghasilkan produk sampingan yaitu berupa limbah. Limbah yang tidak dikelola dengan baik akan mengakibatkan kerusakan lingkungan. Transportasi juga dapat mengakibatkan pencemaran udara serta suara yang bising. Salah satu masalah lingkungan yang tidak kalah pentingnya adalah persoalan sampah. Berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2008, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Menurut Kuncoro Sejati (2009: 15), secara garis besar jenis sampah dapat dibedakan menjadi tiga yaitu sampah organik/basah, sampah anorganik/kering, dan sampah berbahaya. Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk di sejumlah kota besar di Indonesia, serta mobilitas penduduk yang pesat mengakibatkan bertambahnya volume sampah. Disamping itu, pola konsumsi masyrakat memberi kontribusi dalam menimbulkan jenis sampah yang semakin beragam, antara lain, sampah kemasan yang berbahaya dan/atau sulit diurai oleh proses alam. Tabel 1. Jumlah penduduk dan volume rata-rata timbunan sampah harian kota besar di Indonesia tahun 2005 - 2007 No Kota Jumlah Penduduk (jiwa) Rata – Rata Timbunan Sampah (m3/hari) 2005 2006 2007 2005 2006 2007 1 Banjarmasin 600.000 572.300 602.725 1.200 900 1.200 2 Pekanbaru 671.435 682.945 741.700 1.426,6 Td 1.800 3 Bogor 820.707 831.671 879.138 1.966 Td 2.210 4 Malang 780.863 770.818 820.373 820 820 700 5 Samarinda 561.471 579.933 593.853 2.844 Td 1.553,22 6 Batam Td 591.253 729.029 400 558,3 463,03 7 Surakarta 556.257 559.057 560.000 1.280 588 1.180 8 Yogyakarta 512.464 520.575 526.470 1.571 Td 1.132 9 Padang 780.125 781.125 832.206 1.768 Td 1.600 10 Balikpapan 535.201 542.630 577.675 1.001,5 1.211 2.168 11 Bandar Lampung 742.749 880.490 844.606 Td Td 867 12 Denpasar 585.150 Td Td 2.320 2.374 Td 13 Kabupaten Tangerang Td 875.034 Td Td Td Td Keterangan: Td = Tidak ada data Sumber : Diolah dari Data Non Fisik Adipura, 2007 (Dalam http://narasibumi.blog.uns.ac.id/2009/04/17/kondisi-persampahan-kota-di-indonesia/, diakses pada 31-05-2012) Dari data Adipura pada tabel 1. dapat diperhitungkan bahwa kenaikan jumlah penduduk juga dapat mempengaruhi timbunan sampah. Hal ini dikarenakan semakin besar jumalah penduduk, semakin banyak pula sampah yang ditimbulkan. Namun ada juga kota yang mengalami pertambahan penduduk tetapi timbunan sampah makin berkurang. Hal ini karena kota tersebut sudah memberdayakan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Sampah rumah tangga merupakan salah satu sumber sampah yang cukup besar peranannya dalam pencemaran lingkungan. Kehadiran sampah rumah tangga dalam lingkungan merupakan suatu yang tidak dapat dihindarkan. Hal ini diakibatkan oleh suatu metode pengelolaan sampah yang masih didominasi sistem pengumpulan sampah, pengangkutan sampah, kemudian pembuangan ke tempat pembuangan akhir (TPA). Selama ini sebagian besar masyarakat masih memandang sampah sebagai barang sisa yang tidak berharga, bukan sebagai sumber daya yang masih dapat dimanfaatkan. Masyarakat dalam mengelola sampah masih bertumpu pada pendekatan akhir (end-of-pipe), yaitu sampah dikumpulkan, diangkut, dan dibuang ke tempat pemrosesan akhir sampah. Padahal, timbunan sampah dengan volume yang besar di lokasi tempat pemrosesan akhir sampah berpotensi melepas gas metan (CH4) yang dapat menimbulkan emisi gas rumah kaca dan memberikan kontribusi terhadap pemanasan global. Agar timbunan sampah dapat terurai melalui proses alam diperlukan jangka waktu yang lama dan diperlukan penanganan dengan biaya yang besar. Pengelolaan sampah kurang mendapat perhatian dan penanganan yang maksimal dari berbagai pihak, baik dari masyarakat, maupun pemerintah. Padahal masalah sampah merupakan tanggungjawab yang harus diselesaikan secara bersama. Apabila penanganan sampah tidak dilakukan secara maksimal maka akan timbul berbagai masalah lingkungan seperti banjir, mempercepat pemanasan global, menurunnya kandungan organik kebun dan pertanian, sanitasi lingkungan semakin buruk dan ancaman meningkatnya berbagai penyakit. Dengan adanya pengelolaan, sampah akan menjadi berkah, dan sebaliknya, tanpa itu, sampah akan menimbulkan banyak masalah. (Dalam www.alamendah.wordpress.com diakses 22-02-2012). Masalah sampah mutlak harus ditangani secara bersama-sama antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat itu sendiri. Oleh karena itu dibutuhkan kesadaran dan komitmen bersama menuju perubahan sikap, perilaku dan etika yang berbudaya lingkungan. Peran serta masyarakat merupakan salah satu faktor penting untuk memecahkan permasalahan sampah. Sampai saat ini peran serta masyarakat secara umum hanya sebatas pembuangan sampah saja, belum sampai pada tahapan pengelolaan sampah yang dapat bermanfaat kembali bagi masyarakat. Pengelolaan sampah yang paling sederhana, yaitu dengan memisahkan sampah organik dan anorganik, hal ini memerlukan sosialisasi yang intensif dari pemerintah kepada masyarakat. Salah satu bentuk pengelolaan sampah yang dapat dilakukan oleh masyarakat untuk mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA (tempat pembuangan akhir) adalah pengomposan. Manfaat pengomposan adalah dapat digunakan untuk pupuk yang dapat menyuburkan tanaman. Sistem pengelolaan sampah mandiri merupakan sistem manajemen (pilih, kumpul, angkut, dan daur ulang) berbasis pada masyarakat yang diawali dengan pendidikan lingkungan, disiplin dan etika, baik untuk mengurangi jumlah sampah yang diproduksi setiap hari, yang dimulai dari pengelolaan sampah di tingkat rumah tangga (dalam http//: sumapua.mellh.go.id, diakses pada 31-05-2012). Pada sistem ini masyarakat dilibatkan secara penuh, dalam hal ini masyarakat akan mengelola sampah secara mandiri, sehingga masyarakat akan merasa memiliki dan juga akan memperoleh pendapatan dari pengelolaan ini. Dusun Badegan merupakan salah satu Dusun yang telah melakukan pemberdayaan masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga. Pemberdayaan masyarakat ini membutuhkan peran aktif warga masyarakat Badegan. Peran serta masyarakat di Dusun Badegan hanya sampai tahap pemilahan saja, belum sampai ke pengolahan. Hal ini disebabkan kurangnya sumber daya yang ahli dalam pengolahan sampah. Dengan pengelolaan secara mandiri mereka dapat mengubah sampah yang sebelumnya tidak berguna menjadi barang yang mempunyai nilai guna atau manfaat yang tinggi. Namun dalam pengelolaannya masih terdapat beberapa kendala, salah satunya masih ada sebagian masyarakat yang membakar sampah, sehingga menyebabkan pencemaran lingkungan sekitar. Pengelolaan sampah berbasis masyarakat sudah diterapkan di Dusun Badegan. Dari pengelolaan tersebut ternyata banyak hasil yang diraih baik dari segi ekonomi maupun dari segi kesehatan lingkungan. Pengolahan sampah di Dusun Badegan tersebut untuk menggali potensi masyarakat, khususnya para ibu rumah tangga dalam merintis Usaha Kecil dan Menengah (UKM), sehingga dapat memberikan kontribusi bagi keluarga dan lingkungannya melalui program pemberdayaan perempuan. Pemberdayaan perempuan tersebut salah satunya dengan mengubah pandangan menjadikan sampah rumah tangga menjadi berkah. Dalam pengelolaan sampah di Dusun Badegan, sampah organik dapat dijadikan sebagai pupuk kompos, sedangkan sampah anorganik dapat diolah menjadi bahan pembuatan tas, dompet, serta kerajinan pernak-pernik lainnya. Dari kerajinan tersebut tentu mempunyai nilai ekonomis yang menguntungkan. Dusun Badegan juga menpunyai teknik tersendiri dalam pengelolaan sampah, yaitu dengan mengadakan paguyuban bank sampah. Bank sampah di Dusun Badegan dinamai Bank Sampah “Gemah Ripah”. Bank tersebut menghimpun sampah rumah tangga yang dihasilkan oleh warga. Sudah banyak yang menjadi nasabah bank sampah “Gemah Ripah”. Dalam sistem bank tersebut, nasabah hanya menyetorkan sampah. Sampah dari nasabah langsung dipilah sesuai jenisnya. Total tabungan anggota hanya dipotong lima belas persen untuk biaya administrasi bank. Sampah anorganik seperti botol bekas, kertas, kardus, dan sebagainya selanjutnya akan dijual ke pengepul, sebagian lagi dikelola warga untuk dijadikan berbagai kerajinan seperti tas dan dompet. Sampah yang tidak dimanfaatkan dikumpulkan dalam wadah tersendiri dan dibuang di tempat pembuangan akhir. Upaya yang dilakukan masyarakat Dusun Badegan dapat mengurangi volume sampah di TPA, serta dapat menjadikan umur TPA lebih panjang. Pengelolaan sampah di Dusun Badegan tidak dapat terlepas dari kesadaran warga. Namun demikian masih terdapat sebagian warga yang kurang sadar dalam mengelola sampah secara mandiri seperti yang dilakukan oleh dusun tersebut. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti pendidikan dan pekerjaan. Dari uraian tersebut peneliti tertarik melakukan penelitian di Dusun Badegan, dengan judul “Studi Pengelolaan Sampah di Dusun Badegan, Desa Bantul, Kacamatan Bantul, Kabupaten Bantul”. B. Identifikasi Masalah 1. Jenis dan jumlah sampah. 2. Keberadaan paguyuban Bank Sampah “Gemah Ripah”. 3. Cara masyarakat mengelola sampah. 4. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah. 5. Tingkat kebersihan dan kesehatan lingkungan. C. Pembatasan Masalah 1. Paguyuban Bank Sampah “Gemah Ripah” 2. Cara pengelolaan sampah rumah tangga di Dusun Badegan 3. Partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah di Dusun Badegan. D. Rumusan Masalah 1. Bagaimanakah profil Paguyuban Bank Sampah “Gemah Ripah” yang berjalan di Dusun Badegan? 2. Bagaimana cara pengelolaan sampah rumah tangga di Dusun Badegan? 3. Seberapa besar partisipasi masyarakat Dusun Badegan dalam proses pengelolaan sampah? E. Tujuan Penelitian 1. Untuk mengetahui profil Paguyuban Bank Sampah “Gemah Ripah” yang berjalan di Dusun Badegan. 2. Untuk mengetahui cara pengelolaan sampah rumah tangga di Dusun Badegan. 3. Untuk mengetahui tingkat partisipasi masyarakat dalam pengelolaan sampah di Dusun Badegan. F. Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat secara teoritis dan praktis. 1. Manfaat Teoritis a. Sebagai bahan referensi peneliti sejenis, khususnya dalam metode pengelolaan sampah dalam skala rumah tangga. b. Memberikan sumbangan khasanah keilmuan geografi, khususnya dibidang studi lingkungan serta PKLH (pendidikan kependudukan dan lingkungan hidup). 2. Manfaat Praktis a. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah Kabupaten Bantul untuk menentukan kebijakan-kebijakan dalam hal pengelolaan sampah. b. Untuk mendorong masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga yang ramah lingkungan sehingga sampah tersebut dapat bermanfaat dan memiliki nilai ekonomis, serta dapat menumbuhkan kepedulian masyarakat guna meningkatkan kualitas lingkungan hidup. 3. Manfaat bagi Pendidikan Dalam kurikulum mata pelajaran Geografi SMA kelas XI semester 2 (dua) akan menjadi bahan pengayaan pada Standar Kompetensi 3. Menganaisis pemanfaatan dan pelestarian lingkungan hidup, dengan Kompetensi Dasar 3.1 Mendeskripsikan pemanfaatan lingkungan hidup dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan. BAB II KAJIAN PUSTAKA A. Kajian Tentang Geografi a. Definisi Geografi Istilah Geografi berasal dari bahasa Yunani ”geo” yang artinya bumi dan ”graphien” yang artinya pencitraan. Geografi adalah ilmu pengetahuan yang menggambarkan segala sesuatu yang ada di permukaan bumi. Beberapa definisi Geografi yang dikemukakan para ahli geografi, antara lain sebagai berikut: 1) Menurut Alexander dan Gibson (dalam Suharyono dan Moch. Amien, 1994: 12), geografi adalah studi tentang variasi keruangan di muka bumi yang secara lengkapnya dikemukakan bahwa geografi merupakan disiplin ilmu yang menganalisis variasi keruangan dalam artian kawasan-kawasan (regions) dan hubungan antara variabel-variabel keruangan. 2) Menurut Richard Hartshorne (dalam Suharyono dan Moch. Amien, 1994: 14), geografi adalah sebuah ilmu yang menafsirkan realisme diferensiasi area muka bumi seperti apa adanya, tidak hanya dalam arti perbedaan-perbedaan dalam hal tertentu, tetapi juga dalam arti kombinasi keseluruhan fenomena di setiap tempat, yang berbeda keadannya dengan di tempat lain. 3) Menurut SEMLOK (Seminar Loka Karya) tahun 1988, geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan (Suharyono dan Moch. Amien, 1994: 15). Dari definisi-definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pada intinya ilmu geografi terpusat pada gejala geosfer dalam kaitan hubungan persebaran dan interaksi keruangan. Jika kita perhatikan, terdapat suatu kesan bahwa definisi geografi selalu mengalami perubahan sesuai dengan perkembangan dan tingkat keluasan ilmu geografi saat definisi itu dikemukakan. Namun, jika dicermati lebih jauh terdapat suatu kesamaan sudut pandang dari para ahli tersebut, mereka memandang permukaan bumi sebagai lingkungan yang mempengaruhi kehidupan manusia, dimana manusia mempunyai pilihan untuk membangun atau merusaknya. Persamaan pandang yang lain adalah adanya suatu perhatian dari definisi geografi yang menelaah tentang persebaran manusia dalam ruang dan keterkaitan manusia dengan lingkungannya. Jelaslah di sini bahwa kajian ilmu geografi yang paling utama adalah menelaah bumi dalam konteks hubungannya dengan kehidupan manusia. b. Pendekatan Geografi Dalam geografi terpadu (Integrated Geography) untuk mendekatkan atau menghampiri masalah dalam geografi digunakan bermacam-macam pendekatan, yaitu: 1) Pendekatan Keruangan Pendekatan keruangan merupakan suatu cara pandang atau kerangka analisis yang menekankan eksistensi ruang sebagai penekanan. Eksistensi ruang dalam pendekatan geografi dapat dipandang dari struktur (spatial structure), pola (spatial pattern), dan proses (spatial process). Pada pendekatan keruangan terdapat beberapa pendekatan, antara lain pendekatan topik yaitu dalam mempelajari suatu masalah geografi di suatu wilayah tertentu dimulai dari suatu topik yang menjadi perhatian utama, pendekatan aktivitas manusia yaitu pendekatan yang diarahkan kepada aktivitas manusianya, dan pendekatan regional yaitu pendekatan terhadap suatu masalah yang terletak pada region atau wilayah dimana masalah tersebut tersebar (Nursid Sumaatmadja, 1981: 77-78). 2) Pendekatan Kelingkungan (Ekologi) Pendekatan ekologi mempelajari mengenai interaksi antara organisme hidup dengan lingkungannya. Dalam hal ini organisme hidup mengadakan interaksi dengan organisme hidup yang lainnya. Menurut Nursid Sumaatmadja (1981: 82), pendekatan kelingkungan adalah suatu metodologi untuk mendekati, menelaah, dan menganalisa suatu gejala atau suatu masalah dengan menerapkan konsep dan prinsip ekologi. 3) Pendekatan Kompleks Wilayah Pendekatan kompleks wilayah merupakan kombinasi antara analisa keruangan dan analisa ekologi. Pada analisa ini, wilayah-wilayah tertentu didekati atau dihampiri dengan pengertian areal differentiation, yaitu anggapan bahwa interaksi antar wilayah akan berkembang karena pada hakekatnya suatu wilayah berbeda dengan wilayah yang lain, oleh kerena itu terdapat permintaan dan penawaran antara wilayah tersebut. Pada analisa demikian diperhatikan pula mengenai penyebaran fenomena tertantu (analisa keruangan) dan interaksi antara variabel manusia dan lingkungannya untuk kemudian dipelajari kaitannya (analisa ekologi). Ramalan wilayah dan perancangan wilayah merupakan aspek dalam analisa kompleks wilayah (Bintarto dan Surastopo Hadisumarmo, 1991: 24-25). Dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kelingkungan (ekologi), mempelajari mengenai interaksi antara organisme hidup dengan lingkungannya. Penelitian ini mengkaji tindakan atau perilaku manusia (masyarakat) terhadap sampah rumah tangga yang dihasilkan. c. Prinsip Geografi Dalam studi geografi digunakan beberapa prinsip yang disebut dengan prinsip-prinsip geografi. Prinsip-prinsip tersebut digunakan sebagai dasar uraian, dasar pengkajian, dasar pengungkapan gejala dan fakta geografi (Nursid Sumaatmadja, 1981: 43-44). Prinsip-prinsip geografi terdiri atas: 1) Prinsip Persebaran Gejala dan fakta geografi tersebar tidak merata di permukaan bumi, baik yang berkenaan dengan gejala alam maupun gejala kemanusiaan. Dengan melakukan pengkajian dan penggambarannya pada peta, dapat diungkapkan hubungan gejala satu dengan yang lain. 2) Prinsip Interelasi Setelah memperhatikan penyebaran gejala dan fakta dalam ruang, selanjutnya dicari hubungan satu dengan yang lain. Diungkapkan antara faktor fisis dengan faktor fisis, antara faktor fisis dengan faktor manusia, serta hubungan antara faktor manusia dengan faktor manusia. Dengan mengkaji hubungan dari berbagai faktor yang terdapat di suatu tempat atau wilayah saja, dapat diungkapkan karakteristik gejala dan fakta geografi di suatu tempat tertentu di muka bumi. 3) Prinsip Deskripsi Penjelasan atau deskripsi merupakan penggambaran lebih lanjut tentang gejala dan fakta geografi yang sedang dipelajari. Untuk memperjelas dan mempermudah penggambaran berbagai fenomena geografi tersebut meka dapat digunakan kata, peta, diagram, grafik, tabel, dan sebagainya. 4) Prinsip Korologi Merupakan prinsip geografi yang bersifat komprehensif. Pada prinsip ini, fenomena geografis diungkapkan penyebarannya, interelasi dalam hubungan dengan terdapatnya di dalam ruang atau tempat tertentu. Dalam penelitian ini menggunakan prinsip deskripsi yaitu memberikan penjelasan yang lebih mendalam tentang peran serta masyarakat Dusun Badegan dalam mengelola sampah rumah tangga. Penjelasan tersebut menggunakan tabel dari hasil pengolahan data yang telah diperoleh dari lapangan yang kemudian diinterpretasikan. d. Konsep Dasar Geografi Konsep dasar merupakan konsep-konsep penting yang menggambarkan sosok atau struktur ilmu. Konsep dasar ilmu sering diartikan sebagai konsep-konsep utama yang menggambarkan esensi ataupun hakikat ilmu. Konsep dasar dalam ilmu geografi menurut Suharyono dan Moch. Amien (1994: 27-34) meliputi: 1) Konsep Lokasi Konsep lokasi atau letak merupakan konsep utama yang sejak awal pertumbuhan geografi telah menjadi ciri khusus ilmu atau pengetahuan geografi dan merupakan jawaban atas pertanyaan pertama dalam geografi, yaitu “dimana?”. Secara pokok, konsep lokasi dibedakan menjadi 2 (dua) yaitu lokasi absolut dan lokasi relatif. Lokasi absolut (bersifat tetap) menunjukkan letak berupa titik koordinat. Dalam penentuan lokasi absolut di muka bumi menggunakan koordinat garis lintang dan garis bujur yang dinyatakan dalam satuan derajat. Garis ekuator untuk garis lintang dan garis meridian untuk garis bujur. Lokasi relatif sering disebut letak geografis, yang dimaksud disini bahwa lokasi ini berubah-ubah sesuai dengan keadaan daerah di sekitarnya. 2) Konsep Jarak Jarak berkaitan erat dengan arti lokasi dan upaya pemenuhan kebutuhan hidup, pengangkutan barang dan penumpang. Oleh karena itu, jarak tidak hanya dinyatakan dalam ukuran tetapi dapat pula dinyatakan sebagai jarak tempuh. Jarak sebagai pemisah antara dua tempat dapat berubah sejalan dengan kemajuan sarana komunikasi disamping sarana angkutan. 3) Konsep Keterjangkauan Konsep keterjangkauan berkaitan dengan kondisi medan atau ada tidaknya sarana angkutan atau komunikasi yang dapat dipakai. Suatu tempat dapat dikatakan daam keadaan terasing atau terisolasi kalau tempat itu sukar dijangkau (dengan sarana komunikasi atau angkutan) dari tempat-tempat lain meski tempat tersebut relatif tidak jauh dari tempat-tempat lain itu. 4) Konsep Pola Pola berkaitan dengan susunan bentuk atau persebaran fenomema dalam ruang di muka bumi, baik fenomena yang bersifat alami (aliran sungai, persebaran vegetasi, jenis tanah, curah hujan) ataupun fenomena sosial budaya (permukiman, persebaran penduduk, pendapatan, matapencaharian, jenis rumah tempat tinggal, dan sebagainya). 5) Konsep Morfologi Konsep morfologi menggambarkan perwujudan daratan muka bumi sebagai hasil pengangkatan atau penurunan wilayah (secara geologi) yang pada umumnya disertai dengan erosi dan sedimentasi hingga ada yang berbentuk pulau-pulau, daratan luas yang berpegunungan dengan lereng-lereng tererosi, lembah-lembah dan dataran aluvialnya. 6) Konsep Aglomerasi Konsep aglomerasi ditekankan pada kecenderungan persebaran yang bersifat mengelompok pada suatu wilayah yang relatif sempit dan paling menguntungkan baik berdasarkan kesejenisan gejala maupun adanya faktor-faktor umum yang menguntungkan. 7) Konsep Nilai Guna Konsep nilai kegunaan fenomena atau sumber-sumber di muka bumi bersifat relatif, tidak sama bagi semua orang atau golongan penduduk tertentu. 8) Konsep Interaksi/Interdependensi Interaksi merupakan peristiwa saling mempengaruhi daya-daya, objek atau tempat satu dengan yang lain. Setiap wilayah/tempat memiliki potensi sumber dan kebutuhan yang berbeda-beda dengan wilayah lain. Oleh karena itu senantiasa terjadi interaksi bahkan interdependensi antara wilayah satu dengan wilayah yang lain. 9) Konsep Deferensiasi Setiap wilayah terwujud sebagai hasil dari integrasi berbagai unsur atau fenomena lingkungan baik yang bersifat alam atau kehidupan. Integrasi fenomena menjadikan suatu wilayah memiliki corak individualitas sendiri sebagai suatu wilayah yang berbeda dengan wilayah yang lain. 10) Konsep Keterkaitan ruang Keterkaitan keruangan menunjukkan derajat keterkaitan persebaran suatu fenomena yang lain di satu tempat atau ruang, baik yang menyangkut fenomena alam, tumbuhan atau kehidupan sosial. Dalam penelitian ini menggunakan konsep lokasi. Penelitian hanya dilakukan di dusun Badegan. 2. Kajian Tentang Lingkungan a. Pengertian Lingkungan Pengertian lingkungan menurut beberapa ahli adalah sebagai berikut: 1) Menurut Nursid Sumaatmadja (1981: 230-231), lingkungan dapat didefinisikan sebagai semua kondisi di sekitar makhluk hidup yang berpengaruh terhadap pertumbuhan dan karakternya. 2) Menurut Karden Edy Sontang Manik, (2007: 31), lingkungan hidup adalah kesatuan ruang dengan semua benda, daya, keadaan, dan makhluk hidup, termasuk di dalamnya manusia dan perilakunya, yang mempengaruhi kelangsungan peri kehidupan dan kesejahteraan manusia serta makhluk hidup lainnya. 3) Menurut Bintarto dan Surastopo Hadisumarmo (1991: 22), lingkungan hidup manusia dapat digolongkan dalam beberapa kelompok yaitu lingkungan fisikal (physical environment), lingkungan biologis (biological environment), dan lingkungan sosial (social environment). Lingkungan fisikal adalah segala sesuatu di sekitar manusia yang berbentuk mati seperti pegunungan, sungai, udara, air, sinar matahari, rumah, dan sebagainya. Lingkungan biologis adalah segala sesuatu yang berada di sekitar manusia yang berupa organisme hidup, sedangkan lingkungan sosial mempunyai beberapa aspek seperti sikap kemasyarakatan, sikap kejiwaan, sikap kerohanian, dan sebagainya. b. Studi Lingkungan Studi lingkungan adalah suatu studi tentang gejala dan masalah kehidupan manusia yang ditinjau antara hubungannya dengan lingkungan tempat kehidupan. Studi lingkungan merupakan pengkajian praktis tentang masalah kehidupan dan masalah lingkungan, yang menerapkan konsep dan prinsip ekologi serta prinsip dan konsep ilmu sosial, oleh karena itu studi lingkungan dapat dikatakan sebagai ekologi manusia terapan (Nursid Sumaatmadja, 1981: 229). Kaitan antara studi geografi dengan peran serta masyarakat dalam pengelolaan sampah rumah tangga yaitu berkaitan dengan studi lingkungan yang mengkaji hubungan manusia dengan lingkungan alam dan pemanfaatan sumber daya alam bagi kepentingan hidup manusia. Kaitan antara kajian geografi dengan lingkungan adalah menelaah aktivitas/kegiatan manusia dengan lingkungan dalam sebuah ruang tertentu. Dalam penelitian ini menyoroti pada aktivitas/kegiatan manusia dalam mengelola dan memanfaatkan sumber daya berupa sampah dari hasil kegiatan rumah tangga. 3. Kajian Tentang Sampah a. Definisi Sampah Pengertian sampah menurut UU No 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, disebutkan sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Sementara itu menurut Karden Edy Sontang Manik, (2007: 67), mendefinisikan sampah sebagai suatu benda yang tidak digunakan atau tidak dikehendaki dan harus dibuang, yang dihasikan oleh kegiatan manusia. Sampah dapat berasal dari kegiatan industri, pertambangan, pertanian, peternakan, perikanan, transportasi, rumah tangga, perdagangan, dan sisa aktivitas manusia lainnya. b. Sumber sampah Menurut Gilbert (dalam Ni Komang Ayu Artiningsih, 2008:19), sumber-sumber timbulan sampah adalah sebagai berikut : 1) Sampah dari pemukiman penduduk Pada suatu pemukiman biasanya sampah dihasilkan oleh suatu keluarga yang tinggal disuatu bangunan atau asrama. Jenis sampah yang dihasilkan biasanya cenderung organik, seperti sisa makanan atau sampah yang bersifat basah, kering, abu plastik dan lainnya. 2) Sampah dari tempat-tempat umum dan perdagangan Tempat- tempat umum adalah tempat yang dimungkinkan banyaknya orang berkumpul dan melakukan kegiatan. Tempat – tempat tersebut mempunyai potensi yang cukup besar dalam memproduksi sampah, termasuk tempat perdagangan seperti pertokoan dan pasar. Jenis sampah yang dihasilkan umumnya berupa sisa – sisa makanan, sampah kering, abu, plastik, kertas, dan kaleng- kaleng serta sampah lainnya. 3) Sampah dari sarana pelayanan masyarakat milik pemerintah Yang dimaksud di sini misalnya tempat hiburan umum, pantai, masjid, rumah sakit, bioskop, perkantoran, dan sarana pemerintah lainnya yang menghasilkan sampah kering dan sampah basah. 4) Sampah dari industri Dalam pengertian ini termasuk pabrik – pabrik sumber alam perusahaan kayu dan lain – lain, kegiatan industri, baik yang termasuk distribusi ataupun proses suatu bahan mentah. Sampah yang dihasilkan dari tempat ini biasanya sampah basah, sampah kering, abu, sisa – sisa makanan, sisa bahan bangunan. 5) Sampah Pertanian Sampah dihasilkan dari tanaman atau binatang daerah pertanian, misalnya sampah dari kebun, kandang, ladang atau sawah yang dihasilkan berupa bahan makanan pupuk maupun bahan pembasmi serangga tanaman. c. Jenis Sampah Menurut Kuncoro Sejati (2009: 15), secara garis besar jenis sampah dapat dibedakan menjadi tiga yaitu sampah organik/basah, sampah anorganik/kering, dan sampah berbahaya. Secara terperinci akan dijelaskan sebagai berikut: 1) Sampah organik/basah Sampah basah adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur, sampah restoran, sisa sayur, sisa buah, dan lain-lain. Sampah jenis ini dapat terdegradasi (membusuk/hancur) secara alami. 2) Sampah anorganik/kering Sampah kering adalah sampah yang tidak dapat terdegradasi secara alami. Contohnya adalah logam, besi, kaleng, plastik, karet, botol, dan lain-lain. 3) Sampah berbahaya Sampah jenis ini berbahaya bagi manusia. Contohnya adalah baterai, jarum suntik bekas, limbah racun kimia, limbah nuklir, dan lain-lain. Sampah jenis ini memerlukan penanganan khusus. d. Dampak Negatif Sampah Menurut Gelbert (dalam Ni Komang Ayu Artiningsih, 2008: 32), ada tiga dampak sampah terhadap manusia dan lingkungan yaitu : 1) Dampak Terhadap Kesehatan Lokasi dan pengelolaan sampah yang kurang memadai (pembuangan sampah yang tidak terkontrol) merupakan tempat yang cocok bagi beberapa organisme dan menarik bagi berbagai binatang seperti, lalat dan anjing yang dapat menjangkitkan penyakit. Potensi bahaya kesehatan yang dapat ditimbulkan adalah sebagai berikut : a) Penyakit diare, kolera, tifus menyebar dengan cepat karena virus yang berasal dari sampah dengan pengelolaan tidak tepat dapat bercampur air minum. Penyakit demam berdarah (haemorhagic fever) dapat juga meningkat dengan cepat di daerah yang pengelolaan sampahnya kurang memadai. b) Penyakit jamur dapat juga menyebar (misalnya jamur kulit) c) Penyakit yang dapat menyebar melalui rantai makanan. Salah satu contohnya adalah suatu penyakit yang dijangkitkan oleh cacing pita (taenia). Cacing ini sebelumnya masuk ke dalam pencernakan binatang ternak melalui makanannya yang berupa sisa makanan/sampah. 2) Dampak Terhadap Lingkungan Cairan rembesan sampah yang masuk ke dalam drainase atau sungai akan mencemari air. Berbagai organisme termasuk ikan dapat mati sehingga beberapa spesies akan lenyap, hal ini mengakibatkan berubahnya ekosistem perairan biologis. Penguraian sampah yang di buang ke dalam air akan menghasilkan asam organik dan gas cair organik, seperti metana. Selain berbau kurang sedap, gas ini pada konsentrasi tinggi dapat meledak. 3) Dampak Terhadap Keadaan Sosial dan Ekonomi Dampak-dampak tersebut adalah sebagai berikut : a) Pengelolaan sampah yang tidak memadai menyebabkan rendahnya tingkat kesehatan masyarakat. Hal penting dalam hal ini adalah meningkatnya pembiayaan (untuk berobat ke rumah sakit). b) Infrastruktur lain dapat juga dipengaruhi oleh pengelolaan sampah yang tidak memadai, seperti tingginya biaya yang diperlukan untuk pengolahan air. Jika sarana penampungan sampah kurang atau tidak efisien, orang akan cenderung membuang sampahnya di jalan. Hal ini mengakibatkan jalan perlu lebih sering dibersihkan dan diperbaiki. e. Pengelolaan Sampah Menurut Kuncoro Sejati (2009: 24), pengolahan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Secara umum, dalam pengelolaan sampah meliputi pengendalian timbulan sampah, pengumpulan sampah, transfer dan transport, pengolahan, dan pembuangan akhir. 1) Penimbulan sampah (solid waste generated) Pada dasarnya sampah tidak diproduksi, tetapi ditimbulkan. Oleh karena itu dalam menentukan metode penanganan yang tepat, penentuan besarnya timbulan sampah sangat ditentukan oleh jumlah pelaku dan jenis kegiatan. 2) Penanganan di tempat (on site handling) Penanganan sampah di tempat adalah semua perlakuan terhadap sampah yang dilakukan sebelum sampah ditempatkan di lokasi tempat pembuangan. Suatu material yang sudah dibuang atau tidak dibutuhkan, sering kali masih memiliki nilai ekonomis. Penanganan sampah di tempat, dapat memberikan pengaruh yang signifikan terhadap penanganan sampah pada tahap selajutnya. Kegiatan pada tahap ini bervariasi menurut jenis sampahnya, antara lain meliputi pemilahan (sorting), pemanfaatan kembali (reuse), dan daur ulang (recycle). Tujuan utamanya adalah untuk mereduksi besarnya timbulan sampah (reduce). 3) Pengumpulan (collecting) Pengumpulan merupakan tindakan pengumpulan sampah dari sumbernya menuju ke TPS dengan menggunakan gerobak dorong atau mobil pick-up khusus sampah. 4) Pengangkutan (transfer/transport) Pengangkutan merupakan usaha pemindahan sampah dari TPS menuju TPA dengan menggunakan truk sampah. 5) Pengolahan (treatment) Sampah dapat diolah tergantung pada jenis dan komposisinya. Berbagai alternatif yang tersedia dalam proses pengolahan sampah di antaranya adalah sebagai berikut: a) Transformasi fisik, meliputi pemisahan sampah dan pemadatan yang bertujuan untuk mempermudah penyimpanan dan pengangkutan. b) Pembakaran (incinerate), merupakan teknik pengolahan sampah yang dapat mengubah sampah menjadi bentuk gas, sehingga volumenya dapat berkurang hingga 90-95%. Meski merupakan teknik yang efektif, tetapi bukan merupakan teknik yang dianjurkan. Hal ini disebabkan karena teknik tersebut sangat berpotensi untuk menimbulkan pencemaran udara. Di samping itu teknik baru ini akan berfungsi dengan baik bila kualitas sampah yang diolah memenuhi syarat tertentu, seperti tidak terlalu banyak mengandung sampah basah dan mempunyai nilai kalori yang cukup tinggi. c) Pembuatan kompos (composting), yaitu mengubah sampah melalui proses mikrobiologi menjadi produk lain yang dapat dipergunakan. Output dari proses ini adalah kompos dan gas bio. d) Energy recovery, yaitu transformasi sampah menjadi energi, baik energi panas maupun energi listrik. Metode ini telah banyak dikembangkan di negara maju. 6) Pembuangan akhir Pembuangan akhir sampah harus memenuhi syarat kesehatan dan kelestarian lingkungan. Teknik yang saat ini dilakukan adalah open dumping, yaitu sampah yang ada hanya ditempatkan begitu saja hingga kapasitasnya tidak lagi terpenuhi. Teknik ini berpotensi menimbulkan gangguan terhadap lingkungan. Adapun teknik yang direkomendasikan adalah sanitary landfill, yaitu pada lokasi TPA dilakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mengolah timbunan sampah. B. Penelitian Yang Relevan Tabel 2. Penelitian Relevan No Peneliti Judul Desain Penelitian Hasil 1 Dede Rostiana “Partisipasi Masyarakat Dalam Penerapan Program Swakelola Sampah Rumah Tangga di Dusun Sukunan Dusun Banyuraden Kecamatan Gamping Kabupaten Sleman (2008) Deskriptif Kuantitatif 1. Tingkat partisipasi masyarakat dalam penerapan program swakelola sampah rumah tangga tergolong tinggi yang meliputi tahap rencana (72,9%), tahap pelaksanaan (72,3%), tahap evaluasi (79,8%). 2. Faktor yang paling dominan mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam penerapan program swakelola sampah rumah tangga adalah perasaan memiliki. 2 Fran. Restu Kuntari Dewi Yuliadi Partisipasi Masyarakat Dalam Pengelolaan Sampah Rumah Tangga di Kelurahan Bener Kecamatan Tegalrejo Yogyakarta (2010) Deskritif Kuantitatif Faktor yang paling dominan yang mempengaruhi partisipasi masyarakat dalam penerapan program pengelolaan sampah rumah tangga adalah lamanya tinggal. Tingkat partisipasi tergolong rendah. 3 Dewi Euis Rostiana Upaya Meningkatkan Partisipasi Masyarakat Melalui Pengelolaan Sampah Berbasis Masyarakat di Kelurahan Gegerkalong (2007) Deskriptif Kualitatif Masih terdapat warga masyarakat yang belum mendapatkan sarana prasarana, khususnya tong sampah yang disediakan oleh pihak KPK/LPM karena keterbatasan bantuan dari pemerintah kota. C. Kerangka Berpikir Pertumbuhan penduduk diakui atau tidak, telah menimbulkan akibat bertambahnya pola konsumsi masyarakat yang pada akhirnya menyebabkan bertambahnya volume sampah. Bertambahnya sampah bukan hanya jumlahnya, tetapi juga jenis sampah yang semakin beragam. Kondisi ini diperparah dengan pola hidup mesyarakat yang instan dan paradigma masyarakat yang masih menganggap sampah sebagai sesuatu yang harus dibuang dan disingkirkan. Oleh karena itu masyarakat harus merubah kebiasaan dalam membuang sampah yang biasa dilakukan dengan sistem pengelolaan sampah berbasis masyarakat seperti yang telah diterapkan di Dusun Badegan. Masyarakat Dusun Badegan telah menerapkan pengelolaan sampah berbasis masyarakat yang melibatkan masyarakat secara aktif dengan cara pengolahan dan pemanfaatan sampah berbasis masyarakat, sehingga sampah bisa menjadi berkah dan sumber tambahan penghasilan. Keberadaan paguyuban Bank Sampah “Gemah Ripah” sangat berpengaruh dalam pengelolaan sampah di Dusun Badegan. Bank Sampah ini menghimpun sampah rumah tangga masyarakat Dusun Badegan dan sampah yang dapat didaur ulang akan diolah dan dijadikan produk yang akan dimanfaakan kembali. Berdasarkan uraian tersebut maka dapat digambarkan alur piker penelitian sebagai berikut: Bagan 1. Skema Kerangka Berpikir BAB III METODE PENELITIAN A. Desain Penelitian Desain penelitian merupakan keseluruhan proses pemikiran dan penentuan tentang hal-hal yang tersusun secara sistematis. Rancangan penelitian merupakan landasan berpijak dan berfikir yang dijadikan pedoman penelitian baik untuk peneliti maupun orang lain terhadap kegiatan penelitian tersebut (Muh. Pabundu Tika, 2005:6). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yaitu penelitian yang lebih mengarah pada pengungkapan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan mengungkapkan fakta-fakta yang ada. Penelitian deskriptif perlu memanfaatkan atau menciptakan konsep-konsep ilmiah, sekaligus berfungsi dalam mengadakan suatu spesifikasi mengenai gejala-gejala fisik maupun sosial yang dipersoalkan. Hasil penelitian difokuskan untuk memberi gambaran keadaan yang sebenarnya dari objek yang akan diteliti. B. Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini akan dilaksanakan di Dusun Badegan Kecamatan Bantul Kabupaten Bantul Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada bulan Oktober-Nopember 2012. C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 1. Variabel Penelitian Menurut Sugiyono (2009: 61), variabel penelitian adalah suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel dalam penelitan ini adalah: a. Paguyuban Bank Sampah “Gemah Ripah” 1) Sejarah 2) Stuktur kepengelolaan 3) Sistem tabungan b. Pengelolaan sampah 1) Panimbulan 2) Penanganan di tempat 3) Pengeumpulan 4) Pengangkutan 5) Pengolahan a) Organik b) Anorganik 6) Pembuangan akhir 2. Definisi Operasional Variabel a. Paguyuban Bank Sampah “Gemah Ripah” adalah suatu paguyuban dalam bentuk Bank tetapi yang ditabung adalah sampah. 1) Sejarah adalah yang melatarbelakangi berdirinya Bank Sampah “Gemah Ripah”. 2) Stuktur kepengelolaan adalah susunan kepengurusan Paguyuban Bank Sampah “Gemah Ripah”. 3) Sistem tabungan adalah tata cara menabung di Bank Sampah “Gemah Ripah”. b. Pengelolaan sampah adalah semua kegiatan yang dilakukan untuk menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir (Kuncoro Sejati, 2009: 24). 1) Panimbulan adalah hasil sampah yang ditimbulkan pada kegiatan rumah tangga. 2) Penanganan di tempat adalah semua perlakuan terhadap sampah yang dilakukan sebelum sampah ditempatkan di lokasi tempat pembuangan (Kuncoro Sejati, 2009: 24). 3) Pengeumpulan merupakan tindakan pengumpulan sampah dari sumbernya menuju ke TPS dengan menggunakan gerobak dorong atau mobil pik-up khusus sampah (Kuncoro Sejati, 2009: 24).. 4) Pengolahan merupakan kegiatan mentransformasi sampah, sehingga sampah dapat dimanfaatkan kembali. a) Sampah organik adalah sampah yang berasal dari makhluk hidup, seperti daun-daunan, sampah dapur, sampah restoran, sisa sayur, sisa buah, dan lain-lain (Kuncoro Sejati, 2009: 15). b) Sampah anorganik adalah sampah yang tidak dapat terdegradasi secara alami. Contohnya adalah logam, besi, kaleng, plastik, karet, botol, dan lain-lain (Kuncoro Sejati, 2009: 15).. c) Sampah elektronik (electronic waste) adalah sampah yang ditimbulkan oleh barang elektronik yang sudah tidak terpakai lagi. Sampah jenis ini dapat mencemari lingkungan melalui bahan kimia beracun dan logam berat. 5) Pembuangan akhir kegiatan pengangkutan sampah dari TPS ke TPA. D. Populasi Penelitian dan Sampel Penelitian 1. Populasi Menurut Sugiyono (2009: 117), populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas: objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini terdiri dari 626 kepala keluarga yang mengelola sampah secara mandiri di Dusun Badegan. Populasi tersebut tersebar di 13 RT. 2. Sampel Menurut Sugiyono (2009: 118), sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut. Untuk menentukan jumlah sampel dalam penelitian ini, menggunakan tabel nomogram Isaac dan Michael (dalam Sugiono, 2009: 128) dengan taraf kesalahan 10%, sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 191 kepala keluarga. 3. Teknik Pengambilan Sampel Dalam penelitian ini, teknik pengambilan sampel yang dipergunakan adalah kombinasi antara proportional sampling dan simple random sampling. Proportional sampling artinya semua anggota diberi peluang yang sama untuk dijadikan sampel, sedangkan simple random sampling adalah setiap unsur dari keseluruhan populasi mempunyai kesempatan yang sama untuk dipilih atau tiap-tiap individu dalam populasi diberi peluang yang sama untuk dijadikan anggota sampel. Penentuan jumlah sampel, di Dusun Badegan yang tersebar di 13 RT dalam penelitian ini sebagai berikut: Tabel 3. Penentuan Jumlah Sampel No RT Jumlah Kepala Keluarga Jumlah Sampel 1 1 24 7 2 2 45 14 3 3 49 15 4 4 38 12 5 5 46 14 6 6 36 11 7 7 80 24 8 8 51 16 9 9 44 13 10 10 73 22 11 11 41 12 12 12 61 19 13 13 38 12 Total 626 191 E. Metode Pengumpulan Data Dalam penelitian ini, metode pengumpulan data menggunakan metode observasi, dokumentasi, dan wawancara yang diuraikan sebagai barikut: 1. Observasi Observasi adalah cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala atau fenomena yang ada pada objek peneliti (Moch. Pabundu Tika, 2005: 44). Metode observasi digunakan untuk mengamati gejala-gejala yang diselidiki berupa keadaan lokasi daerah penelitian yang meliputi keadaan lingkungan dan hal-hal yang berkenaan dengan pengelolaan sampah di daerah penelitian. 2. Dokumentasi Dokumentasi adalah pengumpulan data mengenai hal-hal atau variabel tertulis berupa catatan, buku-buku, majalah, dokumen, peraturan, notulen rapat, catatan/agenda, dan sebagainya (Suharsimi Arikunto, 2002: 206). Metode ini digunakan untuk mendapakan data sekunder dan primer. Data sekunder merupakan data yang tidak langsung yang dapat memberikan data tambahan serta memberika penguatan dalam penelitian. Data sekunder ini dapat dieroleh dari media cetak maupun media elektronik dan buku yang relevan. Sedangkan data primer merupakan data yang diperoleh dengan menggali informasi-informasi dar para respnden secara langsung. 3. Wawancara Wawancara adalah metode pengumpulan data dengan cara Tanya jawab yang dikerjakan secara sistematis dan berdasarkan pada tujuan penelitian (Moch. Pabundu Tika, 2005: 49). Wawancara yang dilakukan adalah wawancara terstruktur, yaitu dilakukan dengan menggunakan pedoman wawancara. Metode wawancara ini digunakan untuk memberikan pertanyaan kepada responden tentang bagaimana peran responden dalam pengelolaan sampah. F. Teknik Pengolahan Data 1. Editing Editing adalah penilaian kembali data yang telah dikumpulkan dengan menilai apakah data yang telah dikumpulkan tersebut cukup relevan untuk diproses dan diolah lebih lanjut (Moh. Pabundu Tika, 2005: 63). Dalam penelitian ini data primer yang telah didapat dari responden dicek ulang sehingga didapat data yang layak untuk diolah lebih lajut. 2. Koding Koding adalah usaha pengklasifikasian jawaban dari para responden menurut macamnya (Moh. Pabundu Tika, 2005: 64). Dalam kegiatan ini dilakukan dengan cara memberikan kode yang berupa angka-angka terhadap data yang masuk berdasar variabelnya masing-masing, baik pada jawaban terbuka maupun pada jawaban tertutup. Proses ini juga meliputi skoring, yaitu pemberian skor terhadap item-item yang perlu diberi skor. 3. Tabulasi Tabulasi adalah proses penyusunan dan analisis data yang berbentuk tabel, cara memasukkan data, dengan harapan akan memudahkan daam pelaksanaan analisis (Moh. Pabundu Tika, 2005: 66). Dalam kegiatan ini adalah memasukkan data kedalam tabel, dan akan mempermudah dalam analisis data. G. Teknik Analisis Data Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif. Teknik analisis deskriptif kuantitatif adalah proses penyederhanaan data secara deskriptif, yaitu dengan tabel frekuensi dan tabel silang. Analisis deskriptif kuantitatif merupakan langkah-langkah melakukan penelitian secara objektif tentang gejala-gejala yang terdapat di dalam masalah yang akan diteliti. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk menjelaskan peran serta masyarakat dalam mengelola sampah di Dusun Badegan. Teknik analisis ini dengan cara memasukkan data ke dalam tabel frekuensi dan tabel silang, baik dalam bentuk angka maupun persentase. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Deskeripsi Wilayah Penelitian 1. Kondisi Geografis Daerah Penelitian a. Letak, Luas, dan Batas Wilayah Penelitian Dusun Badegan merupakan salah satu dusun yang terletak di Desa Bantul, Kecamatan Bantul, Kabupaten Bantul. Berdasarkan letak astronomis Dusun Badegan terlrtak antara 7º 52’ 94” LS - 7º 53’ 17” LS dan 110º 19’ 42” BT - 110º 19’ 89” BT. Luas wilayah Dusun Badegan yaitu 829.237 m² dengan sebagian besar wilayahnya berupa permukiman dan sebagian lagi berupa sawah. Dusun Badegan pada tahun 2012 terdapat 626 KK yang tersebar di 13 RT. Julmah KK yang tersebar di 13 RT dapat disajikan dalam tabel 4. berikut: Tabel 4. Jumlah KK di setiap RT No RT Jumlah Kepala Keluarga Jumlah Sampel 1 1 24 7 2 2 45 14 3 3 49 15 4 4 38 12 5 5 46 14 6 6 36 11 7 7 80 24 8 8 51 16 9 9 44 13 10 10 73 22 11 11 41 12 12 12 61 19 13 13 38 12 Sumber : Data monografi Dusun Badegan, 2012 Secara administratif Dusun Badegan berbatasan langsung dengan wilayah sekitar meliputi:  Sebelah utara berbatasan dengan Dusun Nyangkringan, Dusun Bogoran, dan Desa Trirenggo  Sebelah timur berbatasan dengan Dusun Bejen dan Dusun Bantul  Sebelah selatan berbatasan dengan Dusun Karanggayam dan Dusun Bejen  Sebelah barat berbatsan dengan Dusun Krajan b. Topografi Topografi adalah kenampakan bentuk lahan (permukaan bumi). Sebagian besar lahan yang ada di Dusun Badegan dipergunakan untuk areal permukiman, sedangkan untuk areal pertaniannya sangat minim sekali. Berdasarkan data monografi Kecamatan Bantul Tahun 2012, Dusun Badegan memiliki ketinggian 45 m di atas permukaan air laut (dpal), sehingga termasuk dataran rendah, dengan curah hujan 0-215 mm/tahun dan suhu rata-rata 22ºC - 34ºC. c. Kondisi Demografi Demografi adalah siau kajian mengenai srukur dan proses penduduk di suau wilaah. Srukur penduduk melipui: jumlah penduduk, persebaran, dan komposisi penduduk. Srukur penduduk ini selalu berubah-ubah, dan perubahan ersebu karena proses demografi, aiu: kelahiran (ferilias), kemaian (moralias), dan migrasi penduduk. 1) Jumlah Penduduk Menurut data monografi Dusun Badegan ahun 2011 jumlah penduduk di Dusun Badegan yaitu 1844 jiwa, dengan penduduk laki-laki berjumlah 928 jiwa, dan penduduk perempuan berjumlah 916 jiwa. Pedukuhan Badegan memiliki 626 kepala keluarga, dimana 492 kepala keluarga laki-laki dan 134 kepala keluarga perempuan Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 5. Jumlah penduduk di Dusun Badegan menurut jenis kelamin Jenis Kelamin Jumlah Persentase Laki-laki 928 50,3 Perempuan 916 49,7 Total 1.844 100 Sumber: Daa Monografi Dusun Badegan 2011 Dari tabel 5. dapat menunjukkan perhitungan perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan perempuan (Sex Raio). Perhitunggannya adalah sebagai beriku: Sex Ratio = Jumlah penduduk laki-laki x 100 Jumlah penduduk perempuan Sex Ratio = 928 x 100 916 = 1,01 x 100 = 101 Bedasarkan perhitungan di atas dapat diketahui bahwa sex ratio penduduk di Dusun Badegan sebesar 101. Hal ini dapat diartikan bahwa setiap 100 penduduk perempuan, terdapat 101 penduduk laki-laki. 2) Komposisi Penduduk Untuk mengetahui komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan di Dusun Badegan, Desa Bantul, Kecamatan Bantul dapat dijelaskan sebagai berikut: a) Menurut Tingkat Pendidikan Kemajuan suatu daerah dapat dilihat dari tinggkat pendidikan. Menuru UU no 20 ahun 2003 pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dengan proses pembelajaran agar siswa atau pesera didik secara akif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, keagamaan, kepribadian, kecerdasan akhlak mulia, sera kerampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat bangsa dan negara. Berdasarkan undang-undang tersebut, maka pendidikan merupakan hal yang wajib dilakukan oleh setiap individu. Komposisi penduduk menurut tingkat pendidikan dapat dilihat pada tabel 6. berikut: Tabel 6. Tingkat pendidikan Dusun Badegan No Tingkat Pendidikan Jumlah (Jiwa) Persentase 1 Belum Sekolah 177 9,6 2 Tidak Sekolah 69 3,7 3 Masih Sekolah 321 17,4 4 Tamat SD 222 12,0 5 Tamat SMP 225 12,2 6 Tamat SMA 570 30,9 7 Tamat PT/Akademi 260 14,2 Total 1.844 100 Sumber: Data monografi Dusun Badegan tahun 2011 Dari tabel 6. tersebut dapat dilihat bahwa mayoritas pendidikan terakhir daerah penelitian adalah pada tingkat SMA, sedangkan yang tamat Perguruan tinggi atau akademi sebesar 14,2%. Dengan demikan daerah penelitian masyarakatnya sudah sadar dengan pentinggnya pendidikan. b) Menurut Jenis Pekerjaan Pekerjaan merupakan matapencaharian penduduk yang menjadi gambaran perekonomian daerah. Maju mundurnya daerah dapat dilihat dari sektor ekonominya. Untuk variasi pekerjaan dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 7. Jenis pekerjaan di Dusun Badegan. No Pekerjaan Jumlah Persentase 1 TNI/Polri 25 1,8 2 PNS 175 13,0 3 Karyawan Swasta 587 43,6 4 Pedagang 48 3,5 5 Petani 23 1,7 6 Buruh 13 0,9 7 Jasa 16 1,1 8 Pensiunan 270 20,0 9 Lainnya 189 14,4 Total 1.346 100 Sumber: Data monografi Dusun Badegan tahun 2011 Berdasarkan tabel 7. dapat diketahui total penduduk yang bekerja di daerah penelitian sebanyak 1.346 jiwa, dapat dikategorikan sebagai tenaga kerja produktif. Namun tidak semua penduduk dikategorikan dalam kategori tenaga kerja produktif, karena masih banyak diantara mereka yang masih bersekolah dan usia lanjut sehingga belum/tidak dapat dimasukkan dalam salah satu diantara pengelompokan pekerjaan. Mayoritas penduduk di daerah penelitian pekerjaannya adalah karyawan swasta sebanyak 587 jiwa (43,6%). Sedangkan penduduk yang bekerja sebagai petani sebanyak 23 jiwa (1,7%). Jumlah ini relatif kecil dikarenakan area lahan pertanian di Dusun Badegan lebih sempit dibandingakan dengan lahan permukiman. c) Penduduk Menurut Agama (Religi) Religi atau keagamaan merupakan salah satu dari hak setiap individu untuk memeluknya. Karena dengan agama dapat mengarahkan seseorang untuk menjalankan kehidupan dengan bermoral baik. Mayorias agama yang dianut oleh masyarakat Dusun Badegan adalah agama Islam dengan dengan 98% hal ini dapat dilihat banyaknya Masjid yang ada di Dusun Badegan, dan sisana 2% beragama Krisen, Khaolik, sera Hindu. d. Sarana. Sarana merupakan suatu alat penunjang dalam menjalankan aktivitas kehidupan sehari-hari. Sarana yang terdapat di Dusun Badegan adalah sebagai berikut: 1) Sarana Pendidikan Di Dusun Badegan terdapat 1 (satu) SMA Muhammadyah 1 Bantul, 1 (satu) TK (Taman Kanak-kanak) Bhayangkari, 2 (dua) Playgroup Primagama dan Ratnaningsih, dan 1 (satu) SD (sekolah dasar) Kanisius. 2) Sarana Kesehatan Sarana kesehatan yang terdapat di Dusun Badegan yaitu Rumah Sakit PKU Muhammadyah Bantul. 3) Sarana Keagamaan Sarana keagamaan merupakan tempat untuk ibadah dan atau untuk kegiatan dalam bidang keagamaan. Sarana keagamaan yang terdapat di Dusun Badegan yaitu terdiri dari 3 (tiga) Musholla dan 2 (dua) Bangunan Masjid. Dari sarana keagamaan tersebut dapat diketahui bahwa sebagian besar masyarakat Dusun Badegan menganut agama Islam. 4) Kepemerintahan Kantor kepemerintahan yang terdapat di Dusun Badegan adalah Kantor Polres Bantul dan Samsat Bantul serta Kantor Bank BPD Bantul. 5) Distro Bank Sampah “Gemah Ripah” Distro Bank Sampah “Gemah Ripah” merupakan salah satu tampat yang digunakan untuk memasarka sekaligus memamerkan hasil produksi daur ulang sampah. 6) Kantor Bank Sampah “Gemah Ripah” Kantor Bank Sampah “Gemah Ripah” merupakan tempat untuk menabung sampah rumah tangga. B. Pembahasan 1. Karakteristik Responden Karakteristik dalam penelitian ini meliputi jenis kelamin, usia responden, tingkat pendidikan responden, dan pekerjaan responden di daerah penelitian. a. Jenis Jelamin Responden Berdasarkan penelitian ini, mengenai karakteristik jenis kelamin responden dapat disajikan dalam tabel berikut: Tabel 8. Jenis kelamin responden No Jenis Kelamin Frekuensi ( f ) Persentase 1 Laki-laki 47 24 2 Perempuan 144 76 Total 191 100 Sumber : Data primer, 2012 Berdasarkan tabel tersebut dapat diketahui jumlah responden laki-laki sebesar 24% sedangkan jumlah responden perempuan sebasar 76%. Dapat dinyatakan bahwa yang berperan aktif dalam pengelolaan sampah di Dusun Badegan adalah perempuan. Hal ini berkaitan dengan banyaknya perempuan yang menjadi ibu rumah tangga. b. Usia Responden Usia merupakan lamanya waktu hidup sejak dilahirkan. Usia tepat seseorang dapat dihitung mulai dari hari, tanggal, bulan, dan tahun. Dalam penelitian ini usia seseorang dapat dihitung dengan satuan tahun. Berdasarkan penelitian ini, mengenai karakteristik usia responden dapat disajikan dalam tabel 9. berikut: Tabel 9. Tingkat usia responden No Tingkat Usia Frekuensi ( f ) Persentase 1 24-33 30 15,7 2 34-43 58 30,3 3 44-53 89 46,6 4 54-63 14 7,4 Total 191 100 Sumber : Data primer, 2012 Berdasarkan tabel 9. Diketahuai bahwa sebagian pelaku pengelolaan sampah rumah tangga di daerah penelitian berada pada tinggkat usia 44-53 tahun dengan perolehan 46,6%. Hal ini berkaitan dengan banyaknya ibu rumah tangga yang berada pada usia tersebut. c. Tingkat Pendidikan Responden Dalam penelitian ini yang dimaksud dengan tingkat pendidikan adalah pendidikan formal terakhir responden. Berdasarkan penelitian ini, mengenai karakteristik tingkat pendidikan responden dapat disajikan dalam tabel berikut: Tabel 10. Tingkat pendidikan responden No Tingkat Pendidikan Frekuensi Persentase 1 SD 27 14,2 2 SMP 46 23.9 3 SMA 82 42,8 4 Akademi/Perguruan Tinggi 36 19,1 Total 191 100 Sumber : Data primer, 2012 Berdasarkan tabel 10. diketahui bahwa pendidikan responden sebagian besar adalah berpendidikan SMA dengan perolehan 42,8%. Dengan demikian dapat disimpulkan secara umum pendidikan responden sudah dianggap cukup, sedangkan yang berpendidikan tinggi diperoleh 19,1%. d. Jenis Pekerjaan Responden Berdasarkan penelitian ini, mengenai variasi pekerjaan responden dapat disajikan dalam tabel berikut: Tabel 11. Jenis pekerjaan responden No Pekerjaan Frekuensi ( f ) Persentase 1 TNI/Polri 4 2,0 2 PNS 28 14,6 3 Karyawan Swasta 59 30,9 4 Pensiunan 19 9,9 5 Pedagang 48 25,1 6 Lainnya 33 17,5 Total 191 100 Sumber : Data primer, 2012 Berdasarkan tabel 11. dapat diketahui bahwa pekerjaan responden di daerah penelitian mayoritas bekerja sebagai karyawan swasta sebesar 30,9%, hal tersebut tingkat pendapatan dapat dikategorikan relatif sedang. Dengan pendapatan yang relatif sedang seseorang tidak terlalu memikirkan dalam pemenuhan kebutuhan hidupnya sehari-hari yang layak, tetapi juga menyediakan sarana prasarana untuk menampung dan mengelola sampah. e. Jumlah Anggota Keluarga Responden Jumlah anggota keluarga sangat berpengaruh banyaknya timbulan sampah rumah tangga. Semakin banyak anggota keluarga, semakin banyak pula pemenuhan kebutuhan hidup sehari-hari, hal ini dapat mempengaruhi volume timbulan sampah. Berdasarkan penelitian banyaknya jumlah anggota keluarga dapat disajikan dalam tabel berikut: Tabel 12. Jumlah anggota keluarga responden. No Jumlah Anggota Keluarga Frekuensi (F) Persentase 1 ≤ 3 59 30,8 2 4-5 112 58,6 3 ≥6 20 10,6 191 100 Sumber : Data primer, 2012 Berdasarkan tabel 12. dapat diketahui bahwa jumlah anggota keluarga terbanyak adalah 4-5 jiwa dengan perolehan 58,6%. Dapat dikatakan bahwa sebagian besar keluarga responden termasuk keluarga yang produktif. 2. Bank Sampah “Gemah Ripah” Bank Sampah “Gemah Ripah” berdiri sejak 5 juli 2008. Bank Sampah “Gemah Ripah” beralamat di Jl. A Yani Bantul, tepatnya yaitu di RT 12 dusun Badegan Desa Bantul Kecamatan Bantul Kabupaten Bantul. Letak dari Bank Sampah ini sangat strategis sekali karena terletak di pinggir jalan, sehingga mudah dijangkau. Sarana perhubungan untuk menuju Bank Sampah ini juga sangat baik. Gambar 3. Plang Bank Sampah “Gemah Ripah” Gambar 4. Kantor Bank Sampah “Gemah Ripah” a. Sejarah Bank Sampah “Gemah Ripah” Penggagas utama dari Bank Sampah ini adalah seorang dosen dari sebuah poltekes yang terdapat di Yogyakarta, yaitu bapak Bambang Suwerda. Gagasan awal datang bahwa kesadaran masyarakat tentang masalah sampah masih rendah. Dulunya sejak gempa bumi 27 mei 2006 yang melanda Bantul dan DIY (daerah Iastimewa Yogyakarta) banyak sampah sejenis gabus (stereofoam) dan sampah daur ulang plastik (aluminium foil). Masyarakat yang pergi bekerja membawa sampah, dan dibuang begitu saja. Karena pembuangan tersebut di TPS (tempat pembuangan sementara) liar maka DPU (Dinas Pekerjaan Umum) tidak mengambilnya. Melihat keberadaan sampah itu munculah ide dari Pak Bambang Sewerda yang dimusyawarahkan dengan paguyuban RT 12 Dusun Badegan terbentuklah Bengkel Kesehatan Lingkungan. Bengkel Kesehatan tersebut berdiri sejak bulan februari 2008. Bengkel Kesehatan Lingkungan memiliki program kerja yaitu pengolahan sampah stereofoam (gabus) dan daur ulang plastik aluminium foil. Pada tanggal 5 juli 2008 Bengkel Kesehatan Lingkungan berubah menjadi Bank Sampah “Gemah Ripah”. Dimanakan “Gemah Ripah” diambil dari kepanjangan yaitu gerakan memilah dan me-reuse sampah, sedangkan jika dimaknai dengan bahasa jawa, arti dari “Gemah Ripah” bermakna temtram, makmur, dan damai. Bank Sampah “Gemah Ripah” masih berupa paguyuban, dan rencananya akan diubah menjadi yayasan untuk di daftarkan di Pemerintah Kabupaten Bantul. Adapun visi dan misi dari Bank Sampah “Gemah Ripah” yaitu: Visi 1) Terwujudnya bengkel kerja kesehatan lingkungan sebagai tempat untuk mengenalkan, mendidik, mempromosikan, dan melatih berbagai teknologi tepat guna dibidang kesehtan lingkungan kepada masyarakat, mahasiswa, dan pelajar. Misi 1) Memvisualisasikan teknologi tepat guna dididang kesehatan lingkungan. 2) Meningkatkan jangkauan pelayanan dibidang kesehatan lingkungan kepada masyarakat. 3) Meningkatkan kualitas kesehatan lingkungan melalui pendidikan, promosi, pelatihan, dibidang kesehatan lingkungan. Dalam menjalankan visi dan misinya Bank Sampah “Gemah Ripah” melakukan sosialisasi. Sosialisasi Bank Sampah “Gemah Ripah” pertama dilakukan yaitu di 13 RT yang tersebar di Dusun Badegan. Sosialisasi tersebut lewat dari perkumpulan tiap-tiap RT dan perkumpulan dasawisma di Dusun Badegan. Selain sosialisasi Bank Sampah “Gemah Ripah” juga sangat terbuka untuk kunjungan-kunjungan dari luar. Hampir setiap hari Bank Sampah “Gemah Ripah” dikunjungi tamu dari luar. Kunungan tersebut biasanya dari instansi kepemerintahan, universitas, sekolah, ataupun organisasi lain bahkan juga pernah dikunjungi oleh negara Jepang. Gambar 5. Kunjngan dari Pemerintah Kabupaten Oku Sumatra Selatan Fokus dari gerakan Bank Sampah “Gemah Ripah” adalah bergerak dibidang sampah atau barang-barang yang sudah tidak terpakai lagi. Salah satu penanganan sampah yang efektif tentang sampah dan dapat dilakukan oleh warga yaitu dengan cara menabung sampah di Bank Sampah Gemah Ripah. Barang-barang yang ditabung berupa sampah rumah tangga seperti sampah anorganik (plastik, kertas, botol minuman, dan sebagainya) dan sampah organik (sisa sayuran dan seresah daun). Sampah tersebut diolah dan didaur ulang sehingga dapat dipergunakan lagi. Dalam perjalananya Bank Sampah bekerja sama dengan pihak ketiga. Pihak ketiga itu adalah tukang pengepul sampah atau barang bekas (tukang rongsokan). Hal ini dikarenakan tidak semua sampah yang ditabung olah masyarakat dapat didaur ulang, sehingga sampah yang didaur ulang itu akan diambil olah pengrajin sampah daur ulang diambil oleh tukang rongsok untuk dibeli. Pihak ketiga inilah yang akan memberikan harga pada setiap jenis sampah yang dikumpulkan oleh warga. Pihak ketiga akan memberikan harga dari setiap masing-masing jenis sampah dan memberikan nominal yang berbeda pada setiap kali panen karena tergantung pada harga sampah pada saat itu, atau dapat dikatakan harga sampah bersifat fluktuatif. Untuk kedepanya pengelola Bank Sampah berharap dapat bekerjasama dengan banyak pihak tujuanya agar dapat lebih mempermudah lagi dalam memanen sampah. Setiap sebulan sekali pengelola bank sampah akan memanen sampah kemudian menghubungi pengepul sampah yang sudah ditunjuk oleh pengelola untuk mengambil sampah-sampah warga di Bank Sampah. Jumlah panenan sampah dalam satubulannya dapat mencapai 1 ton sampah. Gambar 6. Pihak ketiga/pengepul mengambil sampah Bank Sampah “Gemah Ripah” juga memiliki sub bagian pengelolaan sampah stereofoam (gabus). Sampah stereofoam merupakan sampah yang sulit terurai dan dapat mencemari lingkungan, khususnya tanah. Apabila tanah tercemari oleh limbah stereofoam maka dapat mempengaruhi berkurangnya unsur hara tanah. Dalam pengolahan stereofoam ini mula-mula stereofoam digiling terlebih dahulu, kemudian dicampur dengan semen. Setelah tercampur kemudian dicetak sesuai dengan jenis kerajinan. Berikut merupakan hasil kerajinan dari stereofoam: Gambar 7. Kerajinan dari stereofoam. Bank Sampah “Gemah Ripah” buka setiap hari senin sampai sabtu. Jam buka Bank Sampah yaitu pukul 09.00 - 16.00 WIB, dengan waktu istirahat pukul 12.00-13.00 WIB. b. Struktur Kepengelolaan Bank Sampah “Gemah Ripah” Kepengelolaan Bank Sampah “Gemah Ripah” ini masih suka rela. Masyarakat yang tergabung dalam tim pengelola umunya adalah mereka yang memiliki waktu luang. Tim pengelola tersebut nantinya akan mendapatkan uang lelah. Uang lelah yang diperoleh tentu berbeda-beda, tergantung pada keaktifan anggotanya. Berikut merupakan susunan tim pengurus Bank Sampah “Gemah Ripah” : Pembina : Bapak M. Taufik Santoso Ketua : Bapak Bambang Suwerda Diretur : Juniati Sekretaris : Freddy Bimo Leksono Accounting : Ibu Panut Teller : Astireda, Andin Melindawati, Sony Masing-masing pengelola memiliki tuga yaitu:  Pembina dan ketua bertugas sebagai penanggung jawab semua kegiatan yang ada.  Direktur bertugas mengkoordinasi dan bertanggung jawab terhadap kegiatan yang ada di Bank Sampah “Gemah Ripah”.  Sekretaris bertugas sebagai penanggung jawab terhadap kelancaran dan ketertiban administrasi yang ada di Bank Sampah “Gemah Ripah”.  Accounting bertugas sebagai penenggungjawab terhadap keuangan yang ada di Bank Sampah “Gemah Ripah”.  Teller bertugas untuk melayani para nasabah baik secara komunal maupun individual jika menabung di Bank Sampah “Gemah Ripah”. c. Sistem Tabungan Sistem tabungan dalam Bank Sampah Bank Sampah “Gemah Ripah” terdapat 2 (dua) sistem yaitu sistem tabungan individual dan system tabungan konunal. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat sebagai berikut: 1) Tabungan individual Dalam sistem tabungan secara individual ini masyarakat harus datang langsung ke Bank Sampah “Gemah Ripah”, membawa sampah yang akan ditabung. Sampah yang akan ditabung diharuskan dalam keadaan terpilah. Tujuan dari memilah-milah sampah tersebut adalah agar sampah-sampah yang dibawa di bank sampah sudah sesuai dengan kategori masing-masing sampah seperti sampah kertas, plastik, dan botol. Nasabah yang datang dengan membawa sampah nantinya sampah-sampah tersebut akan ditimbang oleh teller yang melayani setiap nasabah. Kemudian teller akan mencatat nama penabung, jenis dan juga berat sampah pada buku induk dan slip setoran penabung sampah. Buku slip setoran sampah ada 2 lembar kecil. Lembar tersebut berwarna merah dan putih. Petugas akan memberi lembar warna putih kepada nasabah untuk di bawa pulang dan disimpan, sedangkan yang berwarna merah disimpan untuk arsip dari bank sampah. Kemudian teller akan membeli sampah sebelum ditaruh ditempat yang sudah disediakan di kantor bank sampah. Untuk mengetahui nominal setiap sampah yang masyarakat tabung biasanya tim pengelola ini akan menempelkan jumlah tabungan sampah dikantor bank sampah. Gambar 8. Slip storan untuk nasabah Gambar 9. Slip setoran asip Bank Sampah Berikut merupakan alur tabungan secra individual: Gambar 10. Alur tabungan individual 2) Tabungan Komunal Sistem tabungan secara komunal ini berpusat di 13 RT yang tersebar di Dusun Badegan. Dalam penabungan komunal ini, pihak dari Bank Sampah telah menyediakan bak sampah/tong sampah sistem pilah. Tong sampah warna hijau dugunakan untuk meletakkan sampah botol atau kaleng, warna kuning untuk plastik, dan warna biru untuk sampah kertas. Setiap masyarakat yang menabung secara komunal ini sifatnya haya menyumbang saja, karena setiap warga yang mengumpulkan sampah secara komunal ini hasil dari tabungannya akan dimasukkan ke kas masing-masing RT. Gambar 11. Tong sampah tabungan komunal. Sampah-sampah yang terkumpul di tong sampah di setiap RT akan diambil oleh petugas dari Bank Sampah. Pengambilan sampah ini dilakukan 2-3 hari sekali dan waktunya tergantung waktu luang petugas. Dalam sistem tabungan secara komunal ini juga dikenai potongan sebesar 30% biaya operasional Bank Sampah dan 70% dimasukkan ke kas RT. Berikut merupakan alur tabungan secra individual: Gambar 12. Alur tabungan individual 3. Cara Pengelolaan Sampah Pengelolaan sampah merupakan semua kegiatan yang dilakukan dalam menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. Pengelolaan sampah tersebut dari mulai dari pengumpulan, pengangkutan, hingga pembuangan. Dusun Badegan merupakan dusun yang telah memberdayakan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Dalam pengelolaan sampah peran aktif masyarakat sangat dibutuhkan. Jenis sampah di Dusun Badegan sangat beranekaragam. Hal ini dikarenakan berkembangnya pola hidup masyarakat Dusun Badegan. Jenis sampah yang terdapat di Dusun Badegan yaitu sampah organik (sisa makanan dan seresah daun) dan sampah anorganik (plastik, kertas, dan botol/kaleng). a) Volume Timbulan Sampah Rumah Tangga di Dusun Badegan Berdasarkan hasil peneltian yang mengambil sampel 191 KK di Dusun Badegan maka dapat diketahui volume timbulan sampah rumah tangga, baik sampah organik maupun sampah anorganik setiap KK. Untuk lebih jelaskan dapat disajikan pada tabel berikut: Tabel 13. Timbulan sampah rumah tangga dalam 1 minggu. No Rata-rata Berat Sampah Jumlah KK Persentase 1 < 1 kg/minggu 23 12 2 1-3 kg/minggu 85 44,5 3 >3 kg/minggu 83 43,5 Total 191 100 (sumber : Data Primer, 2012) Berdasarkan Tabel 13. maka dapat diketahui jumlah timbulan sampah rata-rata dalam 1 (satu) minggu dengan volume timbulan sampah terbanyak antara 1-3 kg dengan perolehan 44,5%. Variasi dari volume timbulan sampah ini tergantung dengan banyaknya anggota keluarga. Semakin banyak anggota keluarga, kebutuhan konsumsi barang semakin banyak hal ini yang menyebabkan semakin banyak timbulan sampah. b) Penanganan di tempat (on site handling) Penanganan sampah di tempat adalah semua perlakuan terhadap sampah yang dilakukan sebelum sampah ditempatkan di lokasi tempat pembuangan (Kuncoro Sejati, 2009: 24). Kegiatan pada tahap ini dilakukan dengan 3R (Reduce, Reuse, dan Recycle). 1) Reduce (Mengurangi), melalui tindakan:  Menghindari pemakaian dan pembelian produk yang menghasilkan sampah dalam jumlah besar.  Menggunakan produk yang bisa di isi ulang, misalnya penggunan lahan pencuci yang menggunakan wadah isi ulang.  Mengurangi penggunaan bahan sekali pakai, misalnya penggunaan tissu dapat dikurangi, menggantinya dengan serbet atau sapu tangan. 2) Reuse (menggunakan kembali), melalui tindakan:  Gunakan kembali wadah/ kemasan untuk fungsi yang sama atau fungsi lainnya, misalnya penggunaan kaleng bekas dan botol bekas.  Gunakan wadah atau kantong yang dapat digunakan berulang ulang misalnya, wadah untuk belanja kebutuhan pokok yang terbuat dari bahan yang tahan lama sehingga dapat digunakan dalam waktu yang lama. 3) Recycle (daur ulang), melalui tindakan:  Pilih produk atau kemasan yang dapat di daur ulang dan mudah terurai.  Lakukan penggunaan sampah organik menjadi kompos dengan berbagai cara yang telah ada atau memanfaatkan sesuai kreaktifitas masing-masing.  Lakukan penanganan untuk sampah anorganik menjadi barang yang bermanfaat. Sampah yang dimanfaatkan kembali oleh masyarakat di daerah penelitian umumnya adalah kaleng cat dan botol minuman baik dari kaca maupun dari plastik. Kaleng cat biasanya digunakan untuk pot tanaman hias, sedangkan botol minuman digunakan untuk menyimpan minuman dalam kulkas. Gambar 13. Pemanfaatan kembali sampah dari kaleng cat. c) Pengumpulan (collecting) Pengumpulan merupakan tindakan pengumpulan sampah dari sumbernya menuju ke TPS (tempat pembuangan sementara). Untuk kegiatan pengumpulan ini masyarakat daerah penelitian sudah disediakan tong sampah sistem pilah. Setiap masyarakat sudah diwajibkan untuk membuang sampah di TPS tersebut, tujuanya yaitu menciptakan suasana yang asri dan bersih dari sampah. Tong sampah warna hijau dugunakan untuk meletakkan sampah botol atau kaleng, warna kuning untuk plastik, dan warna biru untuk sampah kertas. Untuk penanganan sampah organik disarankan agar dengan melakukan pengomposan. Gambar 14. TPS sistem pilah. Sampah-sampah yang sudah terkumpul dari TPS (tempat pembuangan sementara) tersebut oleh petugas Bank Sampah “Gemah Ripah” diangkut dengan menggunakan sepeda motor Viar. Pengambilan sampah dilakukan setiap 2-3 hari, dan waktu penganbilan sampah ini tergantung dengan waktu luang petugas. Gambar 15. Motor Viar yang digunakan sebagai sarana pengankut sampah. d) Pengolahan (treatment) 1) Pengolahan Sampah Organik Dalam hal pengolahan sampah, ada beberapa alternatif yang bisa diterapkan sesuai dengan jenis sampah, antara lain: sampah organik bisa dimanfaatkan untuk komposting. Pengomposan merupakan upaya pengelolaan sampah sekaligus usaha untuk mendapatkan bahan kompos yang dapat menyuburkan tanah. Proses ini merupakan proses penguraian bahan-bahan organik secara terkontrol hingga menjadi bahan-bahan anorganik dengan memanfaatkan aktivitas organisme. Agar pertumbuhan mikroorganisme optimal, diperlukan beberapa kondisi ideal yang antara lain meliputi: adanya campuran yang seimbang dari berbagai komponen, suhu yang sesuai, kelembaban udara yang sesuai, dan kandungan oksigen yang mencukupi. Proses pengomposan yang dilakukan oleh warga Dusun Badegan yaitu :  Tong komposter dalam kesehariannya bisa dimasukkan segala jenis sisa-sisa dari makanan dan seresah dedaunan, untuk mendapatkan aroma yang bagus, disarankan atau lebih baik dicuci terlebih dahulu sebelum memasukkan. Cara yang tepat adalah, jika ingin memasukkan sisa makanan dibuat lubang diantara inokulan kemudian sisa-sisa makanan dimasukkan, setelah itu lubang tersebut ditutup kembali, sehingga mempercepat proses penghancuran pada sisa makanan tersebut. Kompos dapat dipanen selama 2-3 bulan, jika ingin lebih cepat dapat menggunakan ragi. Biasanya jikan menggunakan ragi prosespengomposa bisa lebih cepat dan sampah dapat dipanen kurang dari 2 bulan.  Tanda-tanda dari kompos yang sudah siap untuk dimanfaatkan yaitu : berwarna hitam, sedangkan yang berwarna kecoklatan baru setengah jadi dan belum maksimal dipakai. Gambar 16. Komposter yang digunakan warga Dusun Badegan. Gambar 17. Mesin penggiling seresah daun sebagai bahan kompos. Gambar 18. Kompos yang siap panen. Dalam penerapan komposter ini masih terdapat sebagian warga yang belum menerapkannya. Hal ini dikarenakan pola pikir warga yang masih membakar sampah. Selain itu proses kompos yang terlalu lama dan rumit. Masyarakat memandang lebih cepat dibakar dari pada sistem pengomposan. Padahal jika dibakar akan menyebabkan terjadinya polusi udara. Sebagian masyarakat yang memiliki pekarangan juga memilih membakar sampah organik ketimbang melakukan komposter. Gambar 19. Pembakaran sampah organik yang dilakukan oleh warga di pekarangan saping rumahnya. Dari hasil penelitian ini jumlah responden yang melakukan proses pengolahan sampah organik dapat disajikan pada tabel berikut: Tabel 14. Cara pengolahan sampah organik. No Cara Pengolahan Jumlah Responden Persentase 1 Dibuat kompos 76 39,7 2 Ditimbun 13 6,8 3 Dibakar 102 53,5 Total 191 100 (sumber : Data Primer, 2012) Berdasarkan Tabel 14. maka dapat diketahui jumlah responden yang melakukan pengomposan sebesar 39,7% yang sebagian besar dilaksanakan oleh RT 12, penimbunan sebesar 6,8% dan yang paling banyak melakukan pembakaran yaitu sebesar 53,5%. Masyarakat yang masih melakukan penimbunan dan pembakaran umumnya mereka memiliki lahan pekarangan. Alasan bagi sebagian masyarakat yang melakukan penimbunan yaitu lebih mudah dari pada pengomposan, sedangkan alasan yang melakuka pembakaran yaitu prosesnya lebih cepat dalam penghancuran walaupun dapat menimbulkan pencemaran udara. Sebagian besar masyarakat yang melakukan pengomposan ini hasil komposnya digunakan sebagai pupuk tanaman hias ataupun tanaman buah yang berada di sekeliling rumahnya. Dari pupuk kompos yang dilakukan secara mandiri, masyarakat lebih hemat dalam kebutuhan pupuk tanaman. Gambar 20. Tanaman hias yang manggunakan pupuk kompos. 2) Pengolahan Sampah Anorganik Sampah jenis anorganik masih mungkin untuk dimanfaatkan ulang maupun didaur ulang. Sampah anogranik dari bungkus makanan/minuman, misalnya bungkus kopi, bungkus minuman instan, mie instan, deterjen dan lain-lain dapat dimanfaatkan untuk bahan pembuatan kerajinan tangan seperti: tas, dompet, bantal, jepit rambut dan aneka pernak-pernik lainnya. Gambar 21. Pernak-pernik kerajinan dari sampah Anorganik Dalam penelitian ini jumlah responden yang melakukan proses pengolahan sampah anorganik dapat disajikan pada tabel berikut: Tabel 15. Cara pengolahan sampah anorganik. No Cara Pengolahan Jumlah Responden Persentase 1 Dijual/ditabung di Bank sampah “Gemah Ripah” untuk dibuat kerajinan 149 78 2 Dibuat kerajinan sendiri 11 5,7 3 Dijual sendiri di tengkulak bila laku dijual 31 16,3 Total 191 100 (sumber : Data Primer, 2012) Berdasarkan Tabel 15. maka dapat diketahui sebagian besar responden dengan perolehan 78% menabung sampahnya di Bank Sampah “Gemah Ripah” untuk dijadikan kerajinan pernak-pernik. Masyarakat menabungkan sampahnya secara komunal. Hasil tabungannya dimasukkan diKas RT masing-masing RT. Masyarakat menabung di TPS yang sudah disediakan oleh Bank Sampah “Gemah Ripah”. Masyarakat yang menjual di tengkulak beralasan karena harga di tengkulak lebih mahal ketimbang ditabung di Bank Sampah “Gemah Ripah”. Dalam sistem tabungan secara komunal di Bank Sampah dikenai potongan sebesar 30% biaya operasional, sehingga sampah dihargai lebih murah. Pemasaran pernak-pernik kerajinan dari daur ulang sampah ini melalui distro Bank Sampah “Gemah Ripah”. Dalam sebulan rata-rata hasil dari penjualannya dapat mencapai dua juta rupiah. Biasanya hasil kerajinan banyak terjual jika ada kunjungan-kunjungan dari masyarakat luar. Gambar 22. Distro Bank Sampah “Gemah Ripah” 3) Pengolahan Sampah Elektronik Sampah elektronik (electronic waste) merupakan sampah yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan melalui bahan kimia beracun dan logam berat. Pertumbuhan sampah elektronik dipicu maraknya pertumbuhan bisnis elektronik. Harga produk yang makin murah menyebabkan menurunnya biaya untuk mangganti computer, ponsel, dan perangkat elektronik lainnya. Makin pesatnya perkembangan teknologi, menyebabkan makin singkatnya usia produk. Begitu adanya yang baru konsumen ingin mengganti segera karena merasa produk yang lama sudah ketinggalan zaman (Kuncoro Sejati, 2009: 63). Sebenarnya sampah elektronik dapat menjadiksn peluang bisnis. Sampah-sampah elektronok seperti komputer dan aksesorisnya, radio, kabel, handphone, serta berbagai peralatan elektronik lainya mengandung bahan yang berniai tinggi seperti tembaga, emas, dan paladium yang bisa dijual kembali dan menghasilkan uang. Di Dusun Badegan dalam penanganan sampah elektronik masih kurang optimal. Dari hasil penelitian, berikut merupakan tabel perlakuan masyarakat dalam penanganan sampah elektronik: Tabel 16. Cara pengolahan sampah elektronik. No Penanganan Sampah Elektronik Jumlah responden Persentase 1 Menjualnya bila laku 121 63,3 2 Memperbaiki bila dapat diperbaiki 18 9,4 3 Membiarkan begitu saja 52 27,3 Total 191 100 (sumber : Data Primer, 2012) Berdasarkan Tabel 16. maka dapat diketahui sebagian besar responden dengan perolehan 63,3% menjualnya bila laku dijual. Biasanya mereka menjualnya ditengkulak barang bekas, karena di Bank Sampah “Gemah Ripah” tidak menerima sampah elektronik dengan alasan belum ada tenaga yang menanganinya. e) Pembuangan akhir Pembuangan akhir merupakan kegiatan pengangkutan sampah dari TPS ke TPA. Pembuangan akhir sampah harus memenuhi syarat kesehatan dan kelestarian lingkungan. Teknik yang saat ini dilakukan adalah open dumping, yaitu sampah yang ada hanya ditempatkan begitu saja hingga kapasitasnya tidak lagi terpenuhi. Teknik ini berpotensi menimbulkan gangguan terhadap lingkungan. Adapun teknik yang direkomendasikan adalah sanitary landfill, yaitu pada lokasi TPA dilakukan kegiatan-kegiatan tertentu untuk mengolah timbunan sampah (Kuncoro Sejati, 2009: 24). Sampah-sampah yang tidak layak dikelola atau layak buang akan diangkut oleh petugas Dinas PU (Pekerjaan Umum) ke TPA dengan menggunakan truk khusus pengangkut sampah. Truk sampah biasanya mengambil sampah di Dusun Badegan satu bulan sekali dengan biaya retribusi 100.000 rupiah perbulannya. Setiap warga yang menitipkan sampah layak buang di Bank Sampah “Gemah Ripah” dikenai biaya 20.000 rupiah tiap bulannya. Dengan pengelolaan sampah seperti yang dilakukan oleh warga Dusun Badegan ini, maka umur TPA dapat lebih lama lagi. Sampah-sampah yang dapat didaur ulang dan memiliki nilai ekonomis dikelola oleh masyarakat Badegan, khususnya Bank Sampah “Gemah Ripah”. Sampah yang dibuang di TPA hanya sampah yang layak buang saja, sehingga dapat mengurangi volume sampah di TPA. BAB V KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan analisa dan pembahasan pada bab IV, maka dapat disimpilkan bahwa : 1. Bank Sampah “Gemah Ripah” berdiri sejak 5 juli 2008. Bank Sampah “Gemah Ripah” beralamat di Jl. A Yani Bantul, tepatnya yaitu di RT 12 dusun Badegan Desa Bantul Kecamatan Bantul Kabupaten Bantul. a. Sejarah Bank Sampah “Gemah Ripah” berdiri sejak 5 juli 2008. Gagasan awal datang bahwa kesadaran masyarakat tentang masalah sampah masih rendah. Masyarakat yang pergi bekerja membawa sampah, dan dibuang begitu saja. Karena pembuangan tersebut di TPS (tempat pembuangan sementara) liar maka DPU (Dinas Pekerjaan Umum) tidak mengambilnya. Melihat keberadaan sampah itu munculah ide dari Pak Bambang Sewerda yang dimusyawarahkan dengan paguyuban RT 12 Dusun Badegan terbentuklah Bengkel Kesehatan Lingkungan. Bengkel Kesehatan tersebut berdiri sejak bulan februari 2008. Bengkel Kesehatan Lingkungan memiliki program kerja yaitu pengolahan sampah stereofoam (gabus) dan daur ulang plastik aluminium foil. Pada 5 juli 2008 Bengkel Kesehatan Lingkungan diubah namanya menjadi Bank Sampah “Gemah Ripah”. b. Struktur kepegelolaan Kepengelolaan Bank Sampah “Gemah Ripah” ini masih suka rela. Masyarakat yang tergabung dalam tim pengelola umunya adalah mereka yang memiliki waktu luang. Struktur kepengelolaan terdiri dari Pembina, ketua, direktur, sekretaris, accounting, dan teller yang masing-masing memiliki tugas yang berbeda. c. Sistem tabungan Sistem tabungan dalam Bank Sampah Bank Sampah “Gemah Ripah” terdapat 2 (dua) sistem yaitu sistem tabungan individual dan sistem tabungan konunal. Tabungan individual memiliki prasyarat bagi hasil yaitu 15% untuk pengelola Bank Sampah “Gemah Ripah” dan 85% yang diterima oleh nasabah. Sedangkan tabungan komunal bagi hasilnya yaitu 30% untuk pengelola Bank Sampah “Gemah Ripah” 70% masuk kas di setiap RT yang tersebar di Dusun Badegan. Bagi hasil untuk pengelola digunakan untuk biaya operasional Bank Sampah “Gemah Ripah”. 2. Cara pengelolaan sampah merupakan semua kegiatan yang dilakukan dalam menangani sampah sejak ditimbulkan sampai dengan pembuangan akhir. a. Penimbulan Dari 191 responden yang jadikan sampel penelitian, volume timbulan sampah rata-rata satu minggunya tiap KK adalah < 1 kg sebesar 12%, 1-3 kg sebesar 44,5%, dan > 3 kg sebesar 43,5%. Variasi dari volume timbulan sampah ini tergantung dengan banyaknya anggota keluarga. b. Penanganan ditempat (on site handling) Kegiatan on site handling meliputi 3R (reduce, reuse, dan recycle). Sampah yang dimanfaatkan kembali oleh masyarakat di daerah penelitian umumnya adalah kaleng cat dan botol minuman baik dari kaca maupun dari plastik. Kaleng cat biasanya digunakan untuk pot tanaman hias, sedangkan botol minuman digunakan untuk menyimpan minuman dalam kulkas. c. Pengumpulan (collecting) Kegiatan pengumpulan sampah rumah tangga telah disediakan tong sampah sistem pilah oleh pihak Bank Sampah “Gemah Ripah”. Tong sampah warna hijau dugunakan untuk meletakkan sampah botol atau kaleng, warna kuning untuk plastik, dan warna biru untuk sampah kertas. Setiap masyarakat diwajibkan untuk mengumpulkan sampah rumah tangga di tong sampah sistem pilah. Sampah yang dikumpulkan termasuk tabungan komunal di setiap RT. d. Pengolahan 1) Pengolahan sampah organik Jumlah responden yang melakukan pengomposan sebesar 39,7% yang sebagian besar dilaksanakan oleh RT 12, penimbunan sebesar 6,8% dan yang paling banyak melakukan pembakaran yaitu sebesar 53,5%. Masyarakat yang masih melakukan penimbunan dan pembakaran umumnya mereka memiliki lahan pekarangan. Alasan bagi sebagian masyarakat yang melakukan penimbunan yaitu lebih mudah dari pada pengomposan, sedangkan alasan yang melakuka pembakaran yaitu prosesnya lebih cepat dalam penghancuran walaupun dapat menimbulkan pencemaran udara. 2) Pengolahan sampah anorganik Dalam pengolahan sampah anorganik sebagian besar responden (78%) menabung sampahnya di Bank Sampah “Gemah Ripah” untuk dijadikan kerajinan pernak-pernik, 5,7% dibuat kerajinan sendiri, dan 16,3% menjualnya di tengkulak karena harganya lebih tinggi dibandingkan dengan harga di Bank Sampah “Gemah Ripah”. 3) Pengolahan sampah eletronik Perlakuan dalam pengolahan sampah elektronik di Dusun Badegan sebagian besar (63,3%) menjualnya bila laku jual, 9,4% memperbaki, dan 27,3 % membiarkan begitu saja. e. Pembuangan akhir Pembuangan akhir merupakan kegiatan pengangkutan sampah dari TPS ke TPA. Sampah-sampah rumah tangga yang tidak layak kelola atau layak buang akan diambil oleh Dinas Pekerjaan Umum dengan menggunakan truk skhusus sampah untuk dibuang di TPA Piyungan. Setiap bulannya Bank Sampah “Gemah Ripah” dikenei biaya 100.000 rupiah untuk biaya operasional pembuangan sampah. B. Saran Berdasarkan analisa dan pembahasan pada bab IV, maka saran peneliti adalah: 1. Bagi Masyarakat Perlu menumbuhkan kesadaran masyarakat guna meningkatkan partisipasi atau peran sertanya dalam melaksanakan kegiatan pengolahan sampah rumah tangga secara mandiri. Dengan cara: a) Memberikan sosialisasi secara rutin kepada masyarakat khususnya dalam pengolahan sampah organik dan elektronik. b) Melibatkan masyarakat dalam partisipasi pengolahan sampah. 2. Bagi Pengurus Bank Sampah “Gemah Ripah” Untuk kemajuan dalam pengelolaan sampah dan pemanfaatnya, sebaiknya pengurus saling bekerja sama dengan masyarakat sehingga program pengelolaan sampah dapat terorganisir dengan baik. Dengan cara: a) Mengontrol, memonitoring dan mengevaluasi jalannya kegiatan. b) Untuk memenuhi sarana dan prasarana yang belum memadai, maka pihak Bank Sampah bisa mengatur dari hasil penjualan aneka kerajinan sampah anorganik untuk bisa memenuhi sarana dan prasarana pengolahan sampah, misalnya dengan cara menyisihkan sedikit hasil penjualan aneka kerajinan sampah anorganik dimanfaatkan untuk membeli sarana dan prasarana pengomposan sehingga semua warga bisa melakukan pengomposan. 3. Bagi Pemerintah a) Memberikan bantuan berupa fasilitas pengolahan sampah. b) Mengadakan penyuluhan-penyuluhan secara rutin. c) Memberikan dukungan berupa penghargaan. d) Mematenkan Bank Sampah “Gemah Ripah” sebagai bagian rintisan Pemerintah yang memiliki badan hukum yang resmi. e) Menganggarkan sebagian APBD untuk menggaji pengelola Bank Sampah “Gemah Ripah”. Daftar Pustaka Anonim. 2010. Pengelolaan Sampah Terpadu Berbasis Masyarakat. Dalam www.green.kompasiana.com. Diakses 23 Februari 2012. Bintarto dan Surastopo. 1991. Motode Analisis Geografi. Jakarta : LP3ES. Hdr, Black Community. 2010. Pengelolaan Sampah Kesalahan Pola Pikir dan Gaya Hidup. Dalam www.alamendah.wordpress.com diakses 22 Februari 2012. Karden Edy Sontang Manik. 2007. Pengelolaan Lingkungan Hidup. Jakarta: Djambatan. Kuncoro Sejati. 2009. Pengolahan Sampah Terpadu. Yogyakarta: Kanisius. Moch. Pabundu Tika. 2005. Metode Penelitian Geografi. Jakarta: Bumi Aksara. Ni Komang Ayu Artiningsih. 2008. Peran Serta Masyarakat dalam Pengelolaan Rumah Tangga (Studi kasus di Sampangan dan Jomblang, kota semarang). Semarang: Thesis, UNDIP. Nursid Sumaatmaja. 1981. Studi Geografi Suatu Pendekatan dan Analisis Keruangan. Bandung: Alumni. Putra, M.B. 2008. Prinsip Partisipasi Dalam Undang-undang Pengelolaan Sampah. www.muslimindaenglalo.blogspot.com. Diakses 23 Februari 2012. Sessario bayu mangkara.2010. Penerapan Sistem Pengelolaan Sampah Kota Dengan Pemberdayaan Fungsi TPS Sebagai Solusi Pengurangan Timbunan Sampah Di Tpa Kota Surakarta. www.avidcho.blog.uns.ac.id. Diakses 23 Februari 2012. Suharsimi Arikunto. 2002. Pesedur Penelitian. Jakata: PT Rineka Cipta. Suharyono dan Moch. Amien. 1994. Pengantar Filsafat Geografi. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Sugiyono. 2009. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: CV.Alvabeta. Tim Penulis PS. 2008. Penanganan dan Pengolahan Sampah. Jakarta: Penebar Swadaya. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah. Undang-undang Republik Indonesia Nomor 23 tahun 1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Sabtu, 16 April 2011

SUKU BADUY

SUKU Banten atau lebih tepatnya orang Banten, adalah penduduk asli yang mendiami bekas daerah kekuasaan Kesultanan Banten di luar Parahyangan, Cirebon, dan Jakarta. Menurut sensus Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2000, suku Banten populasinya 2,1% dari penduduk Indonesia. ORANG Banten menggunakan bahasa Banten. Bahasa Banten adalah salah satu dialek bahasa Sunda yang lebih dekat kepada bahasa Sunda kuno, pada tingkatan bahasa Sunda modern dikelompokkan sebagai bahasa kasar. Bahasa ini dilestarikan salah satunya melalui program berita Beja ti Lembur dalam bahasa Banten yang disiarkan siaran televisi lokal di wilayah Banten. Kata Banten muncul jauh sebelum berdirinya Kesultanan Banten. Kata ini digunakan untuk menamai sebuah sungai dan daerah sekelilingnya, yaitu Cibanten atau sungai Banten. Rujukan tertulis pertama mengenai Banten, dapat ditemukan pada naskah Sunda Kuno Bujangga Manik, yang menyebutkan nama-nama tempat di Banten dan sekitarnya sebagai berikut: Tanggeran Labuhan Ratu, Ti kaler alas Panyawung, tanggeran na alas Banten, Itu ta na gunung (…) ler, tanggeran alas Pamekser, nu awas ka Tanjak Barat, Itu ta pulo Sanghiang, heuleut-heuleut nusa Lampung, Ti timur pulo Tampurung, ti barat pulo Rakata, gunung di tengah sagara. Itu ta gunung Jereding, tanggeran na alas Mirah, ti barat na lengkong Gowong, Itu ta gunung Sudara, na gunung Guha Bantayan, tanggeran na Hujung Kulan, ti barat bukit Cawiri. Itu ta na gunung Raksa, gunung Sri Mahapawitra, tanggeran na Panahitan. Dataran lebih tinggi yang dilalui sungai ini, disebut Cibanten Girang atau disingkat Banten Girang. Berdasarkan riset yang dilakukan di Banten Girang pada 1988 dalam program Franco-Indonesian excavations, di daerah ini telah ada pemukiman sejak abad ke 11 sampai 12 (saat kerajaan Sunda). Berdasarkan riset ini juga, diketahui bahwa daerah ini berkembang pesat pada abad ke-16 saat Islam masuk pertama kali di wilayah ini. Perkembangan pemukiman ini kemudian meluas atau bergeser ke arah Serang dan ke arah pantai. Pada daerah pantai inilah kemudian didirikan Kesultanan Banten oleh Sunan Gunung Jati. Kesultanan ini seharusnya menguasai seluruh bekas Kerajaan Sunda di Jawa Barat. Hanya saja Sunda Kalapa atau Batavia, direbut oleh Belanda serta Cirebon dan Parahyangan direbut oleh Mataram. Daerah kesultanan ini kemudian diubah menjadi keresidenan pada zaman penjajahan Belanda. Orang asing kadang menyebut penduduk yang tinggal pada bekas keresidenan ini sebagai Bantenese, yang mempunyai arti “orang Banten”. Contohnya, Guillot Claude menulis pada halaman 35 bukunya The Sultanate of Banten: “These estates, owned by Bantense of Chinese origin, were concentrated around the village of Kelapadua.” Dia menyatakan bahwa keturunan Cina juga adalah Bantenese atau penduduk Banten. Hanya setelah dibentuknya Provinsi Banten, ada sebagian orang menerjemahkan Bantenese menjadi suku Banten sebagai kesatuan etnik dengan budaya yang unik.
1.Pahami Aturan Adat Sebelum ke Baduy
SELAIN mempersiapkan fisik jika ingin menginap di Kampung Baduy, kita juga harus siap untuk menghormati dan mematuhi peraturan adat yang berlaku di kawasan ulayat masyarakat Baduy. Paling tidak, mematuhi peraturan yang dibuat Jaro (Kepala Desa) Kanekes, Dainah, bagi pendatang yang akan memasuki wilayahnya.
Aturan bagi pendatang antara lain larangan membawa tape atau radio, tidak membawa gitar, tidak membawa senapan angin, tidak menangkap atau membunuh binatang, tidak membuang sampah sembarangan, tidak menebang pohon, tidak meninggalkan api di hutan, tidak mengonsumsi minuman memabukkan, dan tidak melanggar norma susila. Khusus untuk warga asing, diharamkan untuk masuk ke wilayah Baduy Dalam yang warganya selalu berpakaian putih, yakni wilayah Kampung Cibep-Cikartawana-Cikeusik. Orang asing hanya diizinkan masuk hingga ke wilayah Baduy Luar yang warganya selalu berpakaian hitam.
Sementara itu, pada bulan Kawalu (masa panen tiga bulan berturut-turut pada bulan Februari hingga April), Baduy Dalam ditutup sama sekali untuk semua orang luar. Namun, bagi pengunjung pada bulan Kawalu tetap bisa bertemu dengan warga Baduy Dalam saat keluar dari kampung mereka.
Adat Baduy yang sangat membatasi sentuhan dengan dunia modern, terutama pada listrik, dan peralatan elektronik lainnya juga memaksa pengunjung yang akan menginap harus melengkapi peralatan yang relatif banyak, terutama membawa senter untuk memudahkan saat ke kamar kecil pada malam hari.
Jaket cukup membantu untuk mengusir hawa dingin di perkampungan Baduy yang memiliki ketinggian di atas 500 meter di atas permukaan laut ini. Kantong tidur pun tidak ada salahnya dibawa untuk membantu menghangatkan badan ketika tidur pada malam hari. Malam di Baduy sangat dingin. Rasa dingin itu sangat menusuk tulang, karena warga Baduy tidurnya di lantai panggung, bukan di atas dipan. Angin tidak hanya dirasakan dari embusan di atas, tetapi juga dari bawah rumah panggung. yang masuk dari sela dinding bilik bambu.
Apabila datang ke Baduy di musim hujan, pengunjung sebaiknya menggunakan alas kaki yang cocok dipakai di tanah licin dan berlumpur. Sepatu atau sandal gunung direkomendasikan untuk dipakai, karena solnya telah didesain mampu ”mencengkeram” ketika berpijak, sehingga tidak mudah tergelincir, apalagi di jalan menanjak. Jangan lupakan pula jaket, atau jas hujan dan tudung tas yang kedap air untuk melindungi barang bawaan agar tidak basah. Minyak antinyamuk silakan pula dibawa untuk menghalau serangga tersebut, terutama ketika kita hendak berjalan-jalan ke hutan atau perladangan Baduy.
Apabila kita menginap di perkampungan Baduy Luar, kita bisa menggunakan sabun atau sampo ketika mandi. Di Baduy Dalam kedua benda itu pantang dipakai. Obat-obatan pribadi harus dibawa, terlebih karena di dalam perkampungan Baduy tidak ada puskesmas atau apotek. Jadi, kalau sudah siap masuk ke kawasan Baduy, jangan lupa menyelesaikan segala urusan di kota terlebih dahulu karena akan sulit mendapatkan sinyal telepon seluler.
2. Mandiri pada sandang
Namun, selama menelusuri wisata Baduy ini, ada sesuatu yang menarik untuk dipelajari, yakni bagaimana warga Baduy menjadi masyarakat mandiri.Mereka bukan hanya mampu menjaga adat istiadat secara kuat, melainkan juga bisa menyediakan kebutuhan mereka sendiri, mulai dari baju, makan, sampai kebutuhan hidup lainnya.
Ada sensasi tersendiri ketika melihat pembuatan tenun khas Baduy. Pengunjung bisa melihat proses pemintalan benang hingga tenun. Pengunjung pun dapat melihat proses pemotongan, pencelupan, dan penjemuran ketika membuat baju jamang. Khusus jahit, biasanya kain yang telah dipotong dibawa ke Baduy Dalam. Masyarakat Baduy Dalam punya metode sendiri ketika menjahitnya. Hasilnya, berupa baju pangsi warna hitam dan putih, selendang, syal, serta sarung. Dalam acara adat, warga Baduy menggunakan beberapa hasil tenunan itu.
Pengunjung yang berminat, bisa membelinya langsung dari warga setempat dengan harga bervariasi. Baju lengan panjang warna hitam yang lazim disebut jamang dijual Rp 65.000, syal Rp 40.000, ikat kepala Rp 45.000, atau sarung Rp 60.000. Ada juga tas dan gelang dari anyaman kulit kayu teureup yang dijual Rp 60.000 dan Rp 10.000. Pengunjung pun bisa membeli madu hutan asli, dengan harga Rp 60.000 ukuran 1 liter, dan Rp 30.000 ukuran 0,5 liter.
Bila ingin mendapatkan oleh-oleh lainnya, pengunjung juga bisa mengunjungi pasar khusus di Terminal Ciboleger. Kios-kios ini biasanya dikelola oleh masyarakat luar Baduy, yang tinggal di sekitar permukiman Baduy. Di sana dijual kaus bertema Baduy, topi bundar yang biasa digunakan untuk berladang, tas dari karung, hingga golok.
3. Jiwa Mandiri Bertumbuh di Baduy
Kemampuan membaca secara otodidak. Mereka belajar membaca dari barang yang masuk di wilayah mereka. Misalnya saja rokok "GENTONG" ya "G"E"N"T"O"N"G".Hanya satu dari sekian kemandirian yang dimiliki warga Baduy. Selain itu rumah dan jalan-jalan yang ada di dalam permukiman Baduy, mereka bangun sendiri tanpa bantuan dari luar. “Kecuali kalau ada musibah, seperti kebakaran beberapa waktu lalu, kami mau dibantu. Tapi seperlunya saja,” ujar Jaro Dainah, Kepala Desa Kanekes. Sejauh bisa ditangani, warga Baduy akan mengerjakan sendiri pemenuhan kebutuhannya. Untuk membangun rumah pun mereka menggunakan bahan yang banyak terdapat di sekitar, mulai dari kayu, bambu, hingga daun-daun sebagai atapnya.
Kebutuhan makan pun, dicukupi dari hasil panenan padi di ladang. Baru ketika hasilnya tidak cukup, mereka membeli beras dari luar. Sayuran pun berlimpah. Akan halnya barang seperti garam atau ikan asin, dapat pula mereka beli dengan uang hasil penjualan hasil kebun seperti buah-buahan.
Ini pula yang dilakukan Idong, warga Baduy Dalam yang tinggal di Kampung Cibeo. Dengan berjalan kaki, turun naik bukit, ia memikul 14 butir durian untuk dijual ke Pasar Ciboleger. Satu butir durian dijualnya Rp 10.000. Di hari lain, warga dapat pula menjual hasil bumi seperti petai yang kini per biji laku dijual Rp 500, atau pisang yang per sisir Rp 5.000.
Kearifan warga Baduy menjaga alam terbayar dengan banyaknya sumber rezeki di lingkungan sekitar yang dapat dimanfaatkan warga. Hari-hari warga Cipaler, diisi kegiatan mencari lahan untuk dijadikan gula aren. Setiap pagi warga membawa lodong, gelonggong bambu sepanjang 1 meter, untuk menampung lahang (air nira) dari pohon aren yang tumbuh di sekitar kampung dan hutan. Setelah terkumpul, digodoklah lahang itu hingga kental sebelum kemudian dia cetak menggunakan tempurung menjadi gula aren yang siap jual. Dalam sehari, setidaknya dapat membuat 40 tangkup gula aren. Setangkup gula aren yang dihasilkan dari dua keping tempurung dijualnya Rp 4.000.
Sementara begitu fajar merekah, entakan alat tenun pun terdengar dari seantero kampung. Di salah satu rumah, Ambu Amin, perempuan yang menilik dari kerut wajahnya berusia di atas 60 tahun, masih tekun menenun benang untuk dijadikannya kain. Di rumah lainnya, Sarni yang masih berusia 10 tahun pun mulai belajar menenun dari bibinya. Disebabkan masih belia, Sarni pun hanya ditugasi membuat tenunan ukuran kecil, yakni selendang. Keterampilan menenun bagi masyarakat Baduy diwariskan turun-temurun. Di antara mereka saling mengajari, sehingga sampai kini pun mudah ditemui alat tenun di banyak rumah warga.
”Dulu untuk mewarnai kain agar hitam dipakai kulit jengkol. Kalau sekarang sudah memakai pewarna buatan untuk celup tenun,” ujar Sarni. Selain faktor keawetan warna dari kelunturan, mulai sedikitnya pohon jengkol merupakan salah satu penyebab beralihnya jenis pewarna tenun.
Hal yang sama terjadi di ladang, ketika kemampuan bercocok tanam pun diperkenalkan kepada anak-anak yang sering kali ikut berladang. Pola seperti ini menjamin beragam keterampilan bisa dipelajari secara mandiri di dalam lingkungan Baduy, untuk akhirnya bisa lestari hingga kini.
Menurut guru Besar Antropologi Universitas Padjadjaran, Kusnaka Adimihardja, mengatakan kemadirian mereka adalah bentuk pendidikan yang dimiliki masyarakat Baduy. Meski tidak mengeyam pendidikan formal, mereka memiliki bekal untuk hidup dengan aktivitas yang rutin mereka jalani setiap hari.
4. Baduy, “Negara” Tanpa Kelaparan
Punggung Gunung Kendeng di Desa Kanekes, Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, berangsur terang ketika matahari menyembul di langit timur. Udara masih dingin ketika satu demi satu warga mulai keluar dari pintu rumahnya. Aktivitas pagi masyarakat Baduy pun kembali berjalan. Asap keluar dari atap rumah warga, pertanda perempuan Baduy mempersiapkan makan dan bekal buat ke ladang. Sebagian perempuan lainnya menumbuk bulir padi dan biji kopi. Setelah semua beres, mereka bersama suami dan anak-anak berangkat ke ladang. Sementara perempuan yang tinggal di rumah mulai dengan aktivitas menenun.
Dari kejauhan di pinggir kampung, seorang lelaki berbaju putih terlihat memikul buntalan mendaki jalan setapak yang menanjak di Kampung Cipaler. Lelaki bernama Idong itu hendak pulang ke Desa Cibeo setelah malam sebelumnya menginap di Ciboleger untuk menjual buah. Baju putih yang dia kenakan adalah pakaian khas warga Baduy Dalam, yang tinggal di tiga kampung di Kanekes, yakni Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik.
Tak berselang lama, satu keluarga yang kesemuanya berpakaian hitam bergegas hendak ke ladang. Mereka adalah bagian dari masyarakat Baduy Luar yang tinggal di 56 kampung di Kanekes. Baju hitam adalah salah satu ciri khas pakaian mereka.
Sepintas Desa Kanekes yang hingga saat ini dihuni 11.175 jiwa warga Baduy, tak beda dengan desa-desa lainnya. Mereka tinggal di rumah panggung, lantainya berada sekitar 50 sentimeter di atas tanah. Dindingnya bambu, atapnya anyaman daun kelapa. Sejumlah literatur menyebut orang Baduy keturunan pengikut Kerajaan Padjadjaran dan mereka penduduk asli yang sangat perhatian terhadap lingkungan.
Kekhasan permukiman Baduy, terlihat dari bentuk rumah yang nyaris seragam. Hanya ada sedikit ruang yang tersisa antarbangunan rumah, sedangkan rumah-rumah Baduy umumnya tidak berjendela. Rumah mereka juga tidak memiliki jaringan listrik karena adat menabukan listrik.
Aturan adat berlandaskan nilai-nilai adat moyang mereka, yaitu tradisi Sunda Wiwitan. Tradisi itu menjadi pegangan dan pengetahuan masyarakat Baduy. Hingga saat ini adat tersebut masih tetap dijaga. Termasuk pula di antaranya, falsafah yang tergambar dalam peribahasa Baduy, Lojor teu menuang dipotong, pondok teu menang disambung, kurang teu menang ditambah, leuwih teu menang dikurang. Arti harfiahnya adalah ”panjang tidak boleh dipotong, pendek tidak boleh disambung, kurang tidak boleh ditambah, dan lebih tidak boleh dikurang”. Sampai sekarang masyarakat Baduy Dalam, masih berjalan kaki ke mana pun mereka pergi, termasuk hingga ke Jakarta. Lain halnya dengan masyarakat di perkampungan Baduy Luar yang sudah mau naik ojek sepeda motor, atau mobil angkutan antarkota ketika bepergian agak jauh dari desanya.
”Masyarakat Baduy tidak ada yang terlihat kaya, tapi juga tidak ada yang miskin. Di sini tidak ada pengangguran ataupun kelaparan,” ujar Jaro Pamarentahan (Kepala Pemerintahan) Baduy Dainah. Meski banyak yang berprofesi sebagai perajin kain tenun, penjual gula aren, atau memiliki warung penjual barang kebutuhan keluarga sehari-hari, warga Baduy selalu menganggap bahwa berladang adalah pekerjaan utama dan kewajiban. Dalam berladang, mereka memiliki kebiasaan yang dijalankan turun-temurun. Mereka antimenggunakan pupuk pabrikan dan senyawa kimia pembasmi hama dan gulma.
Warga Baduy Dalam hingga sekarang bahkan masih menabukan mandi menggunakan sabun dan sampo. Hal-hal semacam ini menghindarkan lingkungan, yang menjadi tempat mereka menggantungkan pendapatan harian mereka, dari pencemaran.
Hingga sekarang pun mereka kukuh mempertahankan kawasan hutan dan tak hendak mengubahnya untuk kepentingan lain. ”Dari 5.136,8 hektar (ha) kawasan di Baduy, sekitar 3.000 hektar dipertahankan sebagai hutan untuk menjaga 120 titik mata air,” kata Jaro Dainah.
Ketika jumlah warga terus bertambah, kebutuhan ladang untuk bertanam padi pun meningkat. Alih-alih mengubah hutan lindung untuk ladang, sebagian warga Baduy lebih memilih membeli tanah di luar kawasan Baduy. Setidaknya 700 hektar ladang di luar kawasan Baduy saat ini dimiliki warga. ”Selain itu, juga banyak yang menyewa, lebih luas lagi dibandingkan yang sudah dibeli warga,” ujar Jaro Dainah. Adapun sistem bagi hasil, dilakukan antara warga Baduy yang menyewa, serta menggarap ladang dan pemilik tanah.
Sekitar tahun 1980-an, tanaman albasia pun mulai banyak ditanam warga Baduy. Sekarang pun tanaman albasia yang bibitnya mulai ditanam di sela-sela padi ladang ini, dipetik hasilnya oleh warga Baduy setiap lima tahun sekali ketika ladang selesai di-beura, dibiarkan tidak ditanami setelah lewat tiga kali musim panen.
Kayu albasia hasil budidaya ini biasa dijual warga kepada bos pengumpul, yang sebagian juga orang Baduy, untuk kemudian dikirim ke pembeli di luar daerah. Sebatang kayu albasia umur lima tahun, bisa laku Rp 100.000. Rata-rata sekali memanen albasia di ladang miliknya tiap orang bisa mengantongi penjualan Rp 5 juta-Rp 15 juta.
Keseharian warga dalam bekerja itu, berjalan dalam bingkai adat yang terjaga. Guru Besar Etnobiologi Universitas Padjadjaran, Johan Iskandar mengatakan, Baduy mengenal dua sistem pemerintahan, nasional yang mengikuti aturan negara Indonesia dan adat yang mengikuti adat istiadat. Secara nasional, di Baduy ada Jaro Pamarentah, atau Kepala Desa Kanekes yang kini dijabat Dainah. Sementara itu, pimpinan adat tertinggi masyarakat Baduy, dipegang oleh tiga Pu’un yang tinggal di tiga tempat Baduy Dalam. Pu’un Cikeusik mengurus keagamaan, Pu’un Cibeo mengatur hubungan dengan daerah luar, serta Pu’un Cikertawana mengurus pembinaan warga, kesejahteraan, dan keamanan masyarakat Baduy.
Dalam kehidupan sehari-hari, tingkah laku Pu’un diatur ketat. Guru Besar Antropologi Universitas Padjadjaran, Kusnaka Adimihardja menjelaskan, Pu’un harus mengayomi masyarakat Baduy. Ia mengatakan, Pu’un harus mengayomi masyarakat Baduy dari dalam. Bahkan, hingga kepemilikan rumah, Pu’un, harus memiliki rumah paling sederhana. Mampu melayani masyarakatnya dengan baik, adalah penghargaan terbesar seorang Puun di Baduy. ”Inilah figur pemimpin sebenarnya. Masyarakat adat Baduy ibaratnya negara sejahtera ideal,” ujar Kusnaka.
Masa kekuasaan seorang Pu’un, tak pernah dibatasi aturan adat. Namun, seorang Pu’un yang sudah merasa tak sanggup menjalankan amanah, bisa meminta untuk segera diganti. Selain itu, pergantian seorang Pu’un juga, tergantung dari kondisi alam. Jika sering muncul bencana alam yang menimpa warga Baduy, atau panen rakyat gagal terus, menjadi alasan kuat untuk turunnya seorang Pu’un.
Warga Baduy meyakini, keberhasilan pemimpin berkaitan langsung dengan kesejahteraan rakyat. Disisi lain, mereka juga dikenal sebagai komunitas mandiri yang menghidupi diri sendiri, tetapi melimpahkan rezeki bagi warga sekitar mereka.
Warga Baduy membuktikan, bahwa ada korelasi antara alam yang terjaga dan kehidupan yang sejahtera, bagi mereka dan bagi warga di sekitarnya.
Masyarakat Baduy sejak dahulu memang selalu berpegang teguh kepada seluruh ketentuan maupun aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Pu’un (Kepala Adat – red) mereka. Kepatuhan kepada ketentuan-ketentuan tersebut menjadi pegangan mutlak untuk menjalani kehidupan bersama. Selain itu, didorong oleh keyakinan yang kuat, hampir keseluruhan masyarakat Baduy Luar maupun Baduy Dalam, tidak pernah ada yang menentang atau menolak aturan yang diterapkan sang Pu’un. Masyarakat setempat menjalani kehidupan sesuai adat dan aturan yang ditetapkan oleh Kepala Adat di sana, tercipta sebuah komunitas dengan tatanan masyarakat yang amat damai dan sejahtera.
”Di masyarakat Baduy, tidak ada orang kaya, namun tidak ada orang miskin,”demikian dikatakan Jaro Dainah, Kepala Desa Kanekes yang membawahi seluruh wilayah tempat pemukiman Suku Baduy, di Kabupaten Lebak, Banten. Kehidupan mereka, hakekatnya, sama seperti layaknya kehidupan masyarakat lainnya. Hanya saja yang membedakannya adalah begitu banyak aturan tradisional yang terkesan kolot yang harus mereka patuhi.
5. Bulan Puasa/Kawalu
Salah satu ketentuan adat Baduy Dalam, mereka harus menjalani puasa yang mereka disebut “Kawalu” dan jatuh bulannya adalah di Bulan Adapt. Di saat Kawalu, ada banyak kegiatan adat dan tidak ada kegiatan lain. Semua kegiatan yang dilakukan difokuskan kepada prosesi Kawalu.
Pada bulan ini, mereka tidak diperbolehkan membetulkan rumah atau selamatan-selamatan, melainkan mempersiapkan penyambutan datangnya hari besar bagi masyarakat Baduy, yang disebut Seba, berakhirnya masa Kawalu. Satu-satunya kegiatan utama sebagai pesiapan yang mereka lakukan, adalah mengumpulkan hasil panen padi dari ladang-ladang mereka dan menumbuknya menjadi beras.
Dalam satu tahun, masyarakat Baduy melaksanakan puasa selama 3 bulan berturut-turut, sesuai dengan amanah adat-nya.
6. Pernikahan
Di dalam proses pernikahan yang dilakukan oleh masyarakat Baduy, hampir serupa dengan masyarakat lainnya. Namun, pasangan yang akan menikah selalu dijodohkan dan tidak ada yang namanya pacaran. Orang tua laki-laki akan bersilaturahmi kepada orang tua perempuan, dan memperkenalkan kedua anak mereka masing-masing. Setelah mendapatkan kesepakatan, kemudian dilanjutkan dengan proses 3 kali pelamaran. Tahap Pertama, orang tua laki-laki harus melapor ke Jaro (Kepala Kampung) dengan membawa daun sirih, buah pinang dan gambir secukupnya.Tahap kedua, selain membawa sirih, pinang, dan gambir, pelamaran kali ini dilengkapi dengan cincin yang terbuat dari baja putih sebagai mas kawinnya. Tahap ketiga, mempersiapkan alat-alat kebutuhan rumah tangga, baju serta seserahan pernikahan untuk pihak perempuan.
Pelaksanaan akad nikah dan resepsi, dilakukan di Balai Adat yang dipimpin langsung oleh Puun, untuk mensahkan pernikahan tersebut.Uniknya, dalam ketentuan adat, Orang Baduy tidak mengenal poligami dan perceraian. Mereka hanya diperbolehkan untuk menikah kembali jika salah satu dari mereka telah meninggal. Jika setiap manusia melaksanakan hal tersebut.
7. Hukum di Tatanan Masyarakat Baduy
Menurut keterangan Bapak Mursyid, Wakil Jaro Baduy Dalam, beliau mengatakan bahwa di lingkungan masyarakat Baduy, jarang sekali terjadi pelanggaran ketentuan adat oleh anggota masyarakatnya. Dan oleh karenanya, jarang sekali ada orang Baduy yang terkena sanksi hukuman, baik berdasarkan hukum adat maupun hukum positif (negara). Jika memang ada yang melakukan pelanggaran, pasti akan dikenakan hukuman. Seperti halnya dalam suatu negara yang ada petugas penegakkan hukum, Suku Baduy juga mempunyai bidang tersendiri yang bertugas melakukan penghukuman terhadap warga yang terkena hukuman.
Hukuman disesuaikan dengan kategori pelanggaran, yang terdiri atas pelanggaran berat dan pelanggaran ringan. Hukuman ringan, biasanya dalam bentuk pemanggilan sipelanggar aturan oleh Pu’un untuk diberikan peringatan. Yang termasuk ke dalam jenis pelanggaran ringan antara lain cekcok atau beradu-mulut antara dua atau lebih warga Baduy. Hukuman Berat, diperuntukkan bagi mereka yang melakukan pelanggaran berat. Pelaku pelanggaran yang mendapatkan hukuman ini dipanggil oleh Jaro setempat dan diberi peringatan. Selain mendapat peringatan berat, siterhukum juga akan dimasukan ke dalam lembaga pemasyarakatan (LP), atau rumah tahanan adat selama 40 hari.
Selain itu, jika hampir bebas, akan ditanya kembali apakah dirinya masih mau berada di Baduy Dalam, atau akan keluar dan menjadi warga Baduy Luar di hadapan para Pu’un dan Jaro. Masyarakat Baduy Luar lebih longgar dalam menerapkan aturan adat dan ketentuan Baduy.
Rutannya Orang Baduy, atau lebih tepat disebut tahanan adat, sangat jelas berbeda dengan yang dikenal masyarakat umum di luar Baduy. Rumah Tahanan Adat Baduy, bukanlah jeruji besi yang biasa digunakan untuk mengurung narapidana di kota-kota, melainkan berupa sebuah rumah Baduy biasa dan ada yang mengurus/menjaganya.
Selama 40 hari sipelaku bukan dikurung atau tidak melakukan kegiatan sama sekali. Ia tetap melakukan kegiatan dan aktivitas seperti sehari-harinya, hanya saja tetap dijaga sambil diberi nasehat, pelajaran adat, dan bimbingan.
Uniknya, yang namanya hukuman berat disini, adalah jika ada seseorang warga yang sampai mengeluarkan darah setetes pun, sudah dianggap berat. Berzinah dan berpakaian ala orang kota, sebagaimana kita berpakaian di masyarakat kota, juga termasuk pelanggaran berat yang harus diberikan hukuman berat. Ternyata masyarakat Baduy tidak pernah berkelahi sama sekali, paling hanya cekcok mulut saja.
Setelah melihat dan melakoni sepenggal perjalanan ini, dapat dipahami bagaimana patuhnya masyarakat Baduy terhadap segala peraturan yang telah ditetapkan oleh Pu’un mereka.Kepatuhan dan ketaatan itu, dijalani dengan ringan tanpa penolakkan apapun. Hasilnya? Kekaguman akan dirasakan oleh semua orang yang berkunjung ke sana. Mereka amat rukun, damai, dan sangat sejahtera untuk ukuran kecukupan kebutuhan hidup sehari-hari.
Perkampungan Baduy dihuni oleh komunitas yang selain kental dengan ketentuan adat, mereka juga murah senyum. Secara jujur, setiap kita enggan berpaling dari pandangan kepada sosok Orang Baduy, terutama yang tinggal di Baduy Dalam.
Ternyata wajah dan tubuh Orang Baduy, sangat bersih tanpa cacad dan noda! Seperti wajah Bapak Mursyid, Wakil Jaro Baduy Dalam yang sempat ditemui, tidak ada yang namanya jerawat menempel di wajahnya, amat mulus walaupun mereka mandi tidak diperbolehkan menggunakan sabun, shampoo serta sikat gigi.
Setiap Orang Baduy Dalam yang dijumpai di perjalanan, juga memiliki penampilan tubuh yang sama, bersih, jernih, tanpa kudis, kurap dan sebagainya. Seperti halnya para lelaki, wanita Baduy pun memiliki badan yang putih, bersih, tanpa noda dan cantik-cantik. Tapi sayang, sebagai masyarakat luar Baduy, yang bukan dari suku Baduy Dalam maupun Baduy Luar, tidak diperbolehkan untuk meminang gadis Baduy.

Sebagian petuah leluhur Baduy yang terdapat di pintu masuk kampung Baduy :

gunung teu meunang dilebur
lebak teu meunang dirusak
larangan teu meunang dirempak
buyut teu meunang dirobah
lojor teu meunang dipotong
pondok teu meunang disambung
nu lain kudu dilainkeun
nu ulah kudu diulahkeun
nu enya kudu dienyakeun
gunung tak boleh dihancurkan
lembah tak boleh dirusak
larangan tak boleh dilanggar
buyut tak boleh diubah
panjang tak boleh dipotong
pendek tak boleh disambung
yang bukan harus ditiadakan
yang jangan harus dinafikan
yang benar harus dibenarkan

Sekian dulu mungkin dapat menambah wawasan saudara..!!! Selamat Berwisata ke Baduy...