Senin, 30 Agustus 2010

गम्बरण पेंदुदुक Tempel

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji dan syukur senantiasa kami panjatkan kehadirat Allah SWT atas rahmat, ridho dan pertolongan yang dilimpahkan-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan laporan hasil PKL Geografi Sosial dan Ekonomi dengan judul “Keadaan Sosial Budaya Penduduk Dusun Molodono Kelurahan Lumbungrejo Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman”.
Kami menyadari bahwa dalam penyusunan laporan ini bukan tanpa hambatan. Namun dengan dorongan, bantuan, dan dukungan dari berbagai pihak akhirnya kami dapat menyelesaikan laporan ini dengan lancar. Pada kesempatan ini, kami dengan segala kerendahan hati menyampaikan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah membantu dan membimbing dalam penyusunan laporan ini. Oleh karena itu, kami mengucapkan banyak terima kasih kepada :
1. Ibu Suparmini, M.Si, selaku dosen pembimbing kami atas segala arahan dan bimbingan beliau selama pelaksanaan PKL.
2. Kepala Dusun Molodono, atas bantuan dan pemberian ijin penelitian guna keperluan penyusunan penelitian ini.
3. Penduduk Dusun Molodono, atas kerja sama sehingga kami dapat melaksanakan penelitian dengan lancar.
4. Semua pihak yang tidak dapat kami sebutkan satu per satu yang telah memberikan dukungan selama ini.
Kami menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan, maka dari itu saran dan kritik yang membangun sangat diharapkan guna kemajuan penelitian yang lebih lanjut. Semoga laporan sederhana ini dapat bermanfaat bagi pembaca sekalian.

Yogyakarta, Juni 2010


Penulis
ABSTRAK

KEADAAN SOSIAL BUDAYA PENDUDUK
DUSUN MOLODONO KELURAHAN LUMBUNGREJO KECAMATAN TEMPEL KABUPATEN SLEMAN

Penelitian ini dilaksanakan di Dusun Molodono Kelurahan Lumbungrejo Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman yang bertujuan untuk mendeskripsikan kondisi sosial budaya . Sosial budaya tidak berdiri sendiri melainkan terkait erat dengan kegiatan lainnya, yaitu aspek ekonomi dan kelembagaan. Seringkali sulit untuk menemukan indikator yang sederhana dan hanya mengukur satu aspek saja karena keberhasilan pengembangan suatu kawasan sangat ditentukan oleh kinerja sektoral dan berbagai pelaku utama pembangunan (stakeholders) seperti pemerintah, swasta, dan masyarakat sendiri. Di bidang sosial budaya pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, perlu dilakukan penilaian atau analisis aspek social budaya di wilayah dan/atau kawasan.
Populasi dalam penelitian ini berjumlah 150KK dengan sampel yang diambil sebanyak 65 responden, sedangkan cara pengambilan sampel dengan systematic random sampling atau sampel acak sistematis. Metode pengumpulan data berupa observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik pengumpulan data editing, koding, dan tabulasi serta analisis datanya dengan deskriptif kuantitatif berupa tabel frekuensi tunggal dan analisis statistiknya dengan menggunakan analisis regresi ganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 65 responden yang diwawancara dapat diketahui berbagai variable jenis pekerjaan seperti buruh, petani, PNS dan pedagang. Dari hasil penelitian ternyata variable pendidikan sangat berpengaruh terhadap jenis pekerjaan masyarakat di Dusun Molodono. Sedangkan pendapatan masyarakat ternyata mempengaruhi kualitas perumahan.
















BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Hal ini dikarenakan jumlah penduduk Indonesia mencapai 206 juta jiwa (BPS. 2001). Selain itu Indonesia menempati urutan keempat dengan jumlah penduduk terbesar di dunia, setelah RRC, Amerika, India, jumlah ini bukanlah jumlah yang sedikit, karena jumlah ini dapat dimanfaatkan sebagai modal pembangunan, namun juga dapat menjadi beban pembangunan karena dapat menimbulkan berbagai macam masalah kependudukan.
Penduduk dapat dijadikan modal pembangunan apabila kualitasnya bagus. Indicator yang dapat digunakan untuk penentuan kualitas penduduk menurut HDI(Human Development Index) adalah harapan hidup (Life Expectancy), angka melek huruf (Adult Literacy Rate) dan rata-rata lamanya pendidikan yang diperoleh (Mean Years Of Schooling). Indikator lainnya adalah Indeks Mutu Hidup (Physical Quality of Life Index) atau PQLI yang merupakan gabungan dari indicator angka kematian bayi (IMR), angka harapan hidup pada umur satu tahun dan angka melek huruf penduduk dewasa (atau prosentase penduduk dewasa berumur 15 tahun ke atas). Baik indeks pembangunan manusia maupun indeks mutu hidup dapat menggambarkan keseluruhan hasil sosial ekonomi yang akan berpengaruh pada kondisi budaya penduduk setempat. Penduduk dapat menjadi beban pembangunan apabila banyak masalah yang ditimbulkan, contohnya adalah masalah pengangguran, kesehatan, dan pendidikan.
Dalam upaya untuk mencapai pemanfaatan sumberdaya alam secara berkelanjutan bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat, perlu dilakukan penilaian/analisis aspek sosial budaya di wilayah dan/atau kawasan. Penilaian/analisis aspek sosial budaya dapat diperoleh melalui hasil pengukuran beberapa indikator sosial (urban social indicator) misalnya struktur sosial budaya, pelayanan sarana dan prasarana budaya, potensi sosial budaya masyarakat atau kesiapan masyarakat terhadap suatu pengembangan. Sehingga dengan mengkaji kondisi sosial budaya masyarakat dapat menjadi ukuran untuk mengetahui faktor penghambat maupun pendukung pengembangan wilayah suatu daerah.
Dusun Molodono yang terletak di Desa Lumbungrejo Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman menjadi sasaran dalam penelitian ini. Dengan penelitian kami ini yang berjudul “Kondisi Sosial Budaya Penduduk Dusun Molodono Desa Lumbungrejo Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman Yogyakarta” diharapkan dapat diperoleh data kependudukan masyarakat Dusun Molodono yang meliputi struktur masyarakat berdasarkan demografi penduduk, tingkat pendidikan, jumlah angkatan kerja, pendapatan masyarakat, perumahan dan lingkungan serta tingkat kesejahteraan masyarakat dapat dijadikan acuan dalam pengambilan kebijakan bagi pemerintah setempat.

B. Identifikasi Masalah
Tingkat kesejahteraan masyarakat dapat diketahui dari indikator sosial budaya. Indikator sosial budaya tersebut meliputi tingkat pendidikan, pekerjaan, tingkat pendapatan, ketenagakerjaan, serta kondisi perumahan dan lingkungan.
Fenomena yang terjadi dalam masyarakat adalah rendahnya tingkat pendidikan berpengaruh terhadap pilihan jenis pekerjaan. Pekerjaan berkorelasi dengan pendapatan. Pekerjaan dengan tingkat pendapatan yang rendah berdampak pada kondisi perumahan dan lingkungan. Dari semua indikator tersebut dapat diketahui tingkat kesejahteraan penduduk.
Dalam penelitian ini kami membatasi kondisi demografi, tingkat pendidikan, pekerjaan, tingkat pendapatan, ketenagakerjaan, serta kondisi perumahan dan lingkungan yang dapat dijadikan pedoman dalam mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat di Dusun Molodono.

C. Fokus Penelitian
Berdasarkan identifikasi masalah diatas, maka perlu memfokuskan perhatian pada penelitian agar diperoleh kesimpulan yang benar dan mendalam pada aspek yang diteliti. Cakupan masalah difokuskan pada Kondisi Sosial Budaya Penduduk Dusun Molodono Desa Lumbungrejo Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman dengan mengkaji variabel-variabel sosial budaya seperti keadaan demografis, pendidikan, pekerjaan, pendapatan, perumahan dan lingkungan sehingga dapat menjadi ukuran tingkat kesejahteraan penduduk.

D. Rumusan Masalah
1. Bagaimana kondisi demografi penduduk di Dusun Molodono Desa Lumbungrejo?
2. Bagaimana tingkat pendidikan penduduk di Dusun Molodono Desa Lumbungrejo?
3. Apa saja pekerjaan penduduk di Dusun Molodono Desa Lumbungrejo?
4. Bagaimana tingkat pendapatan penduduk di Dusun Molodono?
5. Bagaimana keadaan ketenagakerjaan penduduk di Dusun Molodono Desa Lumbungrejo?
6. Bagaimana keadaan perumahan dan lingkungan tempat tinggal penduduk di Dusun Molodono?
7. Bagaimana tingkat kesejahteraan penduduk Dusun Molodono Desa Lumbungrejo yang diukur dengan variabel sosial budaya?

E. Tujuan Penelitian
1. Mengetahui kondisi demografis penduduk di Dusun Molodono Desa Lumbungrejo.
2. Mengetahui tingkat pendidikan penduduk Dusun Molodono Desa Lumbungrejo.
3. Mengetahui pekerjaan penduduk Dusun Molodono Desa Lumbungrejo.
4. Mengetahui tingkat pendapatan penduduk Dusun Molodono Desa Lumbungrejo.
5. Mengetahui keadaan ketenagakerjaan penduduk Dusun Molodono Desa Lumbungrejo.
6. Mengkaji keadaan perumahan dan lingkungan tempat tinggal penduduk Dusun Molodono Desa Lumbungrejo.
7. Mengkaji tingkat kesejahteraan penduduk Dusun Molodono Desa Lumbungrejo dengan ukuran variabel sosial budaya.

F. Manfaat Penelitian
1. Manfaat Teoritis
a. Penelitian ini diharapkan dapat menambah wawasan dalam kajian ilmu geografi khususnya geografi sosial.
b. Menambah perbendaharaan ilmu pengetahuan tentang analisis aspek sosial budaya.
c. Sebagai sumber informasi bagi penyusunan penelitian sejenis pada masa yang akan datang.

2. Manfaat Praktis
a. Sebagai acuan dalam menentukan perencanaan tata ruang wilayah atau kawasan serta pembangunan sosial budaya masyarakat.
b. Sebagai acuan pelaksanaan pemantauan, pelaporan dan penilaian program-program pembangunan sosial budaya secara integratif.







BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Kajian Teori
1. Geografi
a. Pengertian Geografi
1) Menurut seminar lokakarya di Semarang tahun 1988 disepakati definisi geografi adalah ilmu yang mempelajari persamaan dan perbedaan fenomena geosfer dengan sudut pandang kelingkungan dan kewilayahan dalam konteks keruangan (Suharyono dan Moch Amien 1994:15).
2) Menurut Ferdinant Von Ricthofen (1833-1905) pengertian geografi hanya pada permukaan bumi saja, dimana geografi sebagai ilmu yang mempelajari gejala dan sifat-sifat permukaan bumi dan penduduknya, disusun menurut letaknya, dan menerangkan baik tentang terdapatnya gejala-gejala dan sifat-sifat tersebut secara bersama maupun tentang hubungan timbal baliknya dari gejala-gejala dan sifat-sifat itu.
b. Konsep Geografi
1) Konsep Lokasi
Secara pokok dapat dibedakan antara pengertian lokasi absolut dan lokasi relatif. Lokasi absolut menunjukkan letak yang tetap terhadap sistem grial koordinat, yaitu garis lintang dan bujur. Dan lokasi relatif juga disebut letak geografis.
2) Konsep jarak
Jarak sebagai konsep geografi mempunyai arti penting bagi kehidupan sosial, ekonomi maupun juga untuk kepentingan pertahanan. Jarak berkaitan erat dengan arti lokasi dan upaya pemenuhan kebutuhan (air, tanah subur, pusat pelayanan, pengangkutan barang, dan pengangkutan).
3) Konsep keterjangkauan
Keterjangkauan tidak selalu terkait dengan jarak, tetapi lebih berkaitan dengan kondisi medan atau tidak adanya sarana angkutan, komunikasi yang dapat dipakai. Keterjangkauan umumnya juga berubah dengan adanya perkembangan perekonomian dan kemajuan teknologi
4) Konsep Pola
Pola berkaitan dengan susunan bentuk atau persebaran fenomena dalam ruang dimuka bumi baik fenomena yang bersifat alami (aliran sungai, persebaran vegetasi, jenis tanah, curah hujan) ataupun fenomena sosial budaya (permukiman, persebaran penduduk, pendapatan, mata pencaharian, jenis rumah, tempat tinggal, dan lainnya).
5) Konsep Morfologi
Morfologi menggambarkan perwujudan daratan muka bumi sebagai hasil pengangkutan atau penurunan wilayah (secara geologi) yang lazimnya disertai erosi dan sedimentasi. Morfologinya juga menyangkut bentuk lahan yang terkait dengan erosi dan pengendapan, penggunaan lahan, tebal tanah, ketersediaan air serta jenis vegetasi yang dominan.
6) Konsep Aglomerasi
Aglomerasi merupakan kecenderungan persebaran yang bersifat mengelompok pada suatu wilayah yang relatif sempit yang paling menguntungkan baik mengingat kesejenisan gejala maupun adanya faktor-faktor umum yang menguntungkan.
7) Konsep Nilai Kegunaan
Nilai kegunaan fenomena atau sumber-sumber di muka bumi bersifat relatif, tidak sama bagi semua orang atau golongan penduduk tertentu.
8) Konsep interaksi atau interdependensi
Interaksi merupakan peristiwa saling mempengaruhi daya-daya, objek atau tempat satu dengan yang lain. Setiap tempat mengembangkan potensi sumber dan kebutuhan yang tidak selalu sama dengan apa yang ada di tempat lain.
9) Konsep Deferensiasi Areal
Setiap tempat atau wilayah berwujud sebagai hasil integrasi berbagai unsur atau fenomena lingkungan baik yang bersifat alam atau kehidupan. Integrasi fenomena menjadikan suatu wilayah mempunyai corak individualitas tersendiri sebagai suatu region yang berbeda dari tempat atau wilayah lain.
10) Konsep keterkaitan Keruangan
Keterkaitan keruangan atau asosiasi keruangan menunjukkan derajat keterkaitan persebaran suatu fenomena dengan fenomena yang lain disatu tempat atau ruang baik, baik yang menyangkut fenomena dalam suatu region yang bersifat formal.

2. Kondisi Sosial Budaya Masyarakat
Secara garis besar fakta sosial yang menjadi pusat perhatian penyelidikan sosial terdiri atas dua tipe yaitu pranata sosial dan struktur sosial. Pranata sosial adalah himpunan dari norma-norma dari segala tingkah laku yang berkisar pada suatu kebutuhan pokok di dalam kehidupan masyarakat (Soekanto: 1970).
Unsur-unsur pokok dari struktur sosial adalah kelompok-kelompok sosial, lembaga-lembaga sosial atau institusi sosial, kaedah-kaedah atau norma sosial serta lapisan-lapisan sosial atau stratifikasi sosial. Interaksi sosial merupakan bentuk umum dari proses sosial. Dalam interaksi sosial terdapat hubungan-hubungan sosial yang dinamis yang menyangkut hubungan antara perorangan, antar kelompok manusia maupun antar perorangan kelompok manusia (Soekanto, 2005).
Kebudayaan menurut E.B.Taylor (1871) dalam bukunya Soerjono Soekanto mengartikan kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral,hukum, adat istiadat, dan lain-lain. Kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Sehingga kebudayaan bisa dikatakan sebagai semua yang didapat atau dipelajari oleh manusia sebagai anggota masyarakat. Kebudayaan sendiri memiliki tujuh unsur yang sering disebut dengan cultural universal dan salah satunya adalah bahasa.
Kebudayaan menurut Selo Soemardjan dan Soelaeman Soemardi merumuskan kebudayaan sebagai hasil karya, rasa, dan cipta masyarakat. Karya masyarakat menghasilkan teknologi dan kebendaan atau kebudayaan jasmaniah (material kultur) yang diperlukan oleh manusia untuk menguasai alam sekitarnya agar kekuatan serta hasilnya dapat diabdikan untuk keperluan masyarakat.
Rasa yang meliputi jiwa manusia mewujudkan segala kaedah-kaedah dan nilai-nilai sosial yang perlu untuk mengatur masalah-masalah kemasyarakatan dalam arti yang luas. Di dalamnya termasuk misalnya agama, ideologi, kebatinan, kesenian, dan semua unsur yang merupakan hasil ekspresi jiwa manusia yang hidup sebagai anggota masyarakat. Selanjutnya cipta merupakan kemampuan mental, kemampuan berpikir orang-orang yang hidup bermasyarakat, dan yang antara lain menghasilkan filsafat serta ilmu pengetahuan. Cipta merupakan baik yang berwujud teori murni, maupun yang telah disusun untuk langsung diamalkan dalam kehidupan masyarakat. Rasa dan cinta dinamakan kebudayaan rohaniah (spiritual atau immateral culture). Semua karya, rasa, dan cipta dikuasai oleh karsa orang-orang yang menentukan kegunaan agar sesuai dengan kepentingan sebagian besar atau dengan seluruh masyarakat.

3. Indikator Sosial Budaya
Pada hakekatnya pengukuran indikator sosial budaya tidak berdiri sendiri melainkan terkait erat dengan kegiatan lainnya, yaitu aspek ekonomi dan kelembagaan. Seringkali sulit untuk menemukan indikator yang sederhana dan hanya mengukur satu aspek saja karena keberhasilan pengembangan suatu kawasan sangat ditentukan oleh kinerja sektoral dan berbagai pelaku utama pembangunan (stakeholders) seperti pemerintah, swasta, dan masyarakat sendiri.
Dalam penyusunan indikator ini perlu digunakan prinsip “parsimony” yang artinya semakin sempit indikator yang digunakan semakin baik, untuk itu harus dipilih indikator-indikator yang paling efisien. Suatu wilayah dan/atau kawasan perencanaan mungkin terdiri dari dua wilayah otonom atau lebih maka pemilihan indikator bersifat umum dapat digunakan pada semua kelompok penduduk tanpa dibedakan.
Jenis indikator tidak hanya berupa indikator input dan proses, tetapi juga indikator output/outcome yang disebut “indikator keberhasilan” atau indikator dampak (impact indicators). Indikator keberhasilan digunakan untuk mengukur sejauh mana suatu keadaan telah dicapai sesuai ukuran tertentu yang telah ditetapkan. Angka partisipasi sekolah merupakan salah satu contoh, yang mencerminkan keberhasilan atau kegagalan di bidang pendidikan.
Salah satu indikator sosial budaya adalah “indikator komposit obyektif” yaitu indikator tunggal yang merupakan gabungan dari beberapa indikator kesejahteraan rakyat dari berbagai data sensus dan survey. Indikator komposit dipakai untuk membandingkan tingkat indikator tertentu atau tingkat kesejahteraan rakyat antar daerah di wilayah dan/atau kawasan. Indikator komposit obyektif yang digunakan adalah indeks pembangunan manusia (IPM)/Human Developments Indexs (HDI) yang merupakan gabungan dari tiga indikator tunggal yaitu angka harapan hidup (life expectancy), angka melek huruf (adult literacy rate) dan rata-rata lamanya pendidikan yang diperoleh (mean years of schooling).
Indikator angka melek huruf merupakan indikator yang penting karena merupakan ukuran kesejahteraan dan taraf keterampilan yang diperlukan dalam proses pembangunan. Tingkat melek huruf tidak dapat berkembang tanpa kemajuan yang memadai dalam masyarakat yang membuatnya sebagai suatu keterampilan yang secara luas diinginkan. Tingkat melek huruf dari kelompok penduduk miskin dapat memperlihatkan tingkat sumbangan yang mampu mereka berikan dalam pertumbuhan ekonomi atau dapat memberikan indikasi posisi wanita dalam masyarakat (Inkesra,1994).

B. Kerangka Berpikir
Meskipun banyak indikator sosial budaya yang dapat digunakan untuk mengukur kesejahteraan masyarakat suatu wilayah, tetapi dalam pedoman kelayakan sosial budaya ini hanya akan digunakan beberapa indikator yang dianggap dapat menggambarkan kesejahteraan masyarakat di suatu daerah. Kelompok indikator sektoral tersebut meliputi kependudukan, pendidikan, ketenagakerjaan, kesehatan perumahan dan lingkungan serta sosial budaya.





Secara singkat alur dalam penelitian ini dapat dilihat dari skema kerangka berfikir berikut ini :
















BAB III
METODE PENELITIAN

A. Desain Penelitian
Desain penelitian adalah suatu rencana tentang cara mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis data secara sistematis dan terarah agar penelitian dapat dilaksanakan secara efisien dan efektif sesuai dengan tujuannya (Pabundu Tika, 2005:12). Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif yang ditujukan untuk mendeskripsikan suatu keadaan atau fenomena-fenomena apa adanya, baik yang bersifat alam maupun rekayasa manusia.
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif. Deskriptif kuantitatif adalah langkah-langkah melakukan penelitian secara objektif tentang gejala-gejala yang terdapat didalam masalah yang akan diteliti.

B. Variabel Penelitian
Menurut Suharsimi Arikunto (2002:96) variabel merupakan objek penelitian atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian. Sedangkan menurut Muhajir, variabel penelitian merupakan satuan terkecil dari objek penelitian. Variabel dalam penelitian ini adalah:
1) Variabel Independent (variabel pengaruh) meliputi :
Variabel sosial budaya:
• Demografi
• Pendidikan
• Pekerjaan
• Pendapatan
• Ketenagakerjaan

2) Variabel Dependent (variabel terpengaruh) meliputi :
• Tingkat kesejahteraan penduduk Dusun Molodono
• Kualitas perumahan dan lingkungan

C. Definisi Operasional
Definisi operasional penelitian adalah unsur penelitian yang memberitahukan bagaimana caranya mengukur suatu variabel (Masri Singarimbun).
1) Kondisi sosial budaya merupakan keadaan yang berkenaan dengan masyarakat yang sudah menjadi kebiasaan.
2) Keadaan demografis adalah suatu gambaran kependudukan mengenai komposisi penduduk, distribusi penduduk dan jumlah penduduk.
3) Pendidikan adalah salah satu indikator untuk mengukur tingkat kesejahteraan masyarakat karena pendidikan merupakan usaha untuk meningkatkan kecerdasan dan keterampilan. Dengan adanya pemerataan pendidikan masyarakat diharapkan dapat meningkatkan taraf hidup dan kesejahteraan penduduk.
4) Pekerjaan adalah mata pencaharian yang dijadikan pokok penghidupan sesuatu yang dilakukan untuk mendapatkan nafkah.
5) Ketenagakerjaan adalah salah satu indikator yang terkait erat dengan kependudukan terutama tingkat pertumbuhan penduduk, tingkat pertumbuhan yang relatif tinggi akan mempengaruhi pertumbuhan angkatan kerja. Pertambahan penduduk usia kerja akan meningkatkan jumlah angkatan kerja yang tentunya harus tertampung dalam lapangan kerja baik formal maupun informal.
6) Keadaan perumahan merupakan salah satu indikator peningkatan kesejahteraan rakyat yang berhubungan dengan sarana dan fasilitas lingkungan rumah. Rumah yang layak tinggal adalah rumah dengan perbandingan luas lantai seimbang dengan jumlah penghuninya serta memiliki sarana perumahan seperti listrik, air bersih, tempat mandi, tempat buang air besar dengan tangki septik.
7) Lingkungan adalah suatu kenampakan yang ada disekitar tempat tinggal.
8) Pendapatan adalah upah atau hasil yang diperoleh setelah melakukan suatu pekerjaan.
9) Tingkat kesejahteraan dapat diartikan sebagai keamanan, keselamatan, ketentraman, kesenangan hidup dan kemakmuran. Untuk dapat mengetahui tingkat kesejahteraan rumah tangga ini berdasarkan pada kriteria dari BKKBN.

D. Waktu dan Lokasi Penelitian
Waktu : Tanggal 26-27 Juni 2010
Lokasi : Dusun Molodono Kelurahan Lumbungrejo Kecamatan Tempel Kabupaten
Sleman Yogyakarta.

E. Populasi dan Sampel
1. Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek/subjek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2008:82). Populasi dalam penelitian ini adalah kepala keluarga yang ada di Dusun Molodono sejumlah 144 kepala keluarga.
2. Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil dari populasi yang akan diteliti (Suharsimi Arikunto, 2006:131). Jika subjeknya besar dapat diambil 10%-15% atau 20%-25% dan lebih (Suharsimi Arikunto). Sampel dalam penelitian ini sejumlah 65 kepala keluarga yang merupakan 45 % dari seluruh populasi kepala keluarga yang ada di Dusun Molodono.

F. Teknik Pengumpulan Data
Teknik yang digunakan dalam pengumpulan data adalah:
a. Observasi Lapangan
Observasi dapat diartikan sebagai pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala yang tampak pada objek penelitian (Hadari Nawawi 1991:95). Observasi dilakukan untuk mendapatkan data awal tentang kondisi demografis dan kondisi geografis dengan memperhatikan keadaan riil atau fenomena yang ada di lapangan.
b. Kuesioner
Kuisioner adalah suatu alat pengumpul informasi dengan cara menyampaikan sejumlah pertanyaan tertulis untuk menjawab secara tertulis pula oleh responden (Margono, 1996:167).
Macam-macam kuisioner:
• Kuisioner berstruktur
Kuisioner ini disebut juga kuisioner tertutup. Berisi pertanyaan-pertanyaan disertai sejumlah alternatif jawaban yang disediakan.
• Kuisioner tak berstruktur
Kuisioner ini disebut juga kuisioner terbuka dimana jawaban responden terhadap setiap pertanyaan kuisioner bentuk ini dapat diberikan secara bebas menurut pendapat sendiri.
• Kuisioner kombinasi berstruktur dan tak berstruktur
Sesuai dengan namanya, maka pertanyaan ini disatu pihak member alternatif jawaban yang harus dipilih, dilain pihak memberi kebebasan kepada responden untuk menjawab secara bebas, lanjutan dari jawaban pertanyaan sebelumnya.
• Kuisioner semi terbuka
Kuisioner yang member kebebasan kemungkinan menjawab selain dari alternatif jawaban yang sudah tersedia.
c. Wawancara
Wawancara adalah tanya jawab lisan antara dua orang atau lebih secara langsung. Pewawancara disebut intervieuwer, sedangkan orang yang diwawancarai disebut interviewee (Usman 2004: 57-58). Dengan wawancara peneliti memperoleh informasi berdasarkan penuturan informan atau responden yang sengaja diminta oleh peneliti (Hamidi 2004:73). Metode ini merupakan metode pokok untuk memperoleh data primer yang diperlukan dalam penelitian, seperti identitas responden ataupun aktivitas responden.
d. Studi Dokumentasi
Metode dokumentasi diartikan sebagai cara mengumpulkan data melalui peninggalan tertulis terutama berupa arsip-arsip dan termasuk juga buku-buku tentang pendapat, teori dalil/hukum dan lainnya yang berhubungan dengan masalah penelitian (Hadari Nawawi 1991:95). Studi dokumentasi ini mempelajari dokumen atau data-data sekunder yang ada di perpustakaan, instansi pemerintah, meliputi kondisi fisik wilayah penelitian dan karakteristik penduduk didaerah penelitian.

G. Teknik Pengolahan Data
Sebelum dianalisis data harus diolah terlebih dahulu dengan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Editing
Memeriksa kembali data yang telah dikumpulkan dengan menilai data, apakah data yang telah dikumpulkan tersebut cukup baik atau relevan untuk diproses atau diolah lebih lanjut. Kegiatan ini bertujuan untuk mengetahui apakah data yang diperoleh sudah lengkap atau belum sehingga dapat memperbaiki kualitas data serta memperjelas data dari pedoman wawancara.
2. Koding
Tahapan pengolahan data dengan memberi kode pada setiap jawaban responden menurut macamnya baik jawaban yang terbuka, tertutup maupun semi tertutup sesuai buku koding. Tahapan ini bertujuan untuk memudahkan dalam menganalisis data.
3. Tabulasi
Proses penyusunan data dalam bentuk tabel. Sebagian data yang telah diklasifikasikan tersebut kemudian disusun dalam bentuk tabel frekuensi. Selanjutnya ada beberapa yang digambarkan dalam bentuk grafik atau diagram untuk memudahkan deskripsinya. Maksud pembuatan tabel-tabel ini adalah menyederhanakan data agar mudah dalam menganalisis.

H. Teknik Analisis Data
Setelah pengolahan data selesai, maka tahap selanjutnya yang harus dilakukan adalah analisis data. Analisis data adalah proses penyederhanaan data kedalam bentuk yang lebih mudah dibaca dan diimplementasikan. Sesuai dengan tujuan penelitian maka teknik analisis data yang dipakai untuk menganalisis data dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif. Analisis deskriptif kuantitatif merupakan langkah-langkah melakukan penelitian secara objektif tentang gejala-gejala yang terdapat didalam masalah yang akan diteliti. Analisis deskriptif kuantitatif digunakan untuk menjelaskan keadaan sosial budaya penduduk Dusun Molodono Kelurahan Lumbungrejo Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman Yogyakarta. Teknik analisis ini dengan cara memasukkan data ke dalam tabel frekuensi dan tabel silang, baik dalam bentuk angka maupun presentasi.



BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

A. Deskripsi Wilayah
1. Seputar Dusun Molodono, Desa Lumbungrejo, Kecamatan Tempel, Kabupaten Sleman, Propinsi Yogyakarta
a. Keadaan Administratif
Kecamatan Tempel berada di sebelah Barat Laut dari Ibukota Kabupaten Sleman. Lumbungrejo merupakan salah satu kelurahan yang ada di Kecamatan Tempel. Penelitian ini dilakukan di Dusun Molodono yang merupakan salah satu dusun di Desa Lumbungrejo.
Administrasi Dusun Molodono terbagi menjadi 4 Rukun Tetangga, yaitu :
1. Rukun Tetangga 01
2. Rukun tetangga 02
3. Rukun Tetangga 03
4. Rukun Tetangga 04
Batas administrasi Dusun Molodono adalah sebagai berikut :
1. Sebelah utara berbatasan dengan Dusun Bibis
2. Sebelah selatan berbatasan dengan Dusun Kepenjen
3. Sebelah barat berbatasan dengan Dusun Cuwo
4. Sebelah timur berbatasan dengan Dusun Kemendongan

Peta Kecamatan Tempel

b. Keadaan Geografi
Dusun Molodono di Desa Lumbungrejo berada di dataran tinggi. Wilayah tersebut berada pada ketinggian 320 meter diatas permukaan laut. Dusun Molodono beriklim sejuk. Suhu tertinggi yang tercatat di Dusun Molodono adalah 35ºC dengan suhu terendah 22ºC. Bentangan wilayah di Kecamatan Tempel berupa tanah yang berombak, termasuk di dalamnya Dusun Molodono. Luas lahan Dusun Molodono kurang lebih 32 ha.
c. Keadaan Penduduk
Dusun Molodono dihuni oleh 144 KK. Jumlah keseluruhan penduduknya adalah 530 jiwa dengan jumlah penduduk laki-laki 275 orang dan penduduk perempuan 255 orang. Sebagian besar penduduk Dusun Molodono bekerja sebagai buruh.
d. Potensi Ekonomi
Hampir setiap rumah di Dusun Molodono memiliki pekarangan yang luas dan ditanami pohon salak. Hal tersebut dapat menjadi sumber penghasilan tambahan bagi penduduk setempat. Meskipun termasuk dalam pertanian salak skala kecil, tetapi dapat menjadi potensi ekonomi yang dapat mendukung kehidupan penduduk setempat.
e. Pertanian
Produksi pertanian yang paling banyak di dusun ini adalah salak. Kemudian produksi pertanian padi, jagung, ketela rambat,ketela pohon dan sayuran.







B. Hasil Penelitian
1. Keadaan Demografi Penduduk Dusun Molodono
Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan kondisi demografis penduduk Dusun Molodono sebagai berikut :
1.1.Tabel Distribusi Penduduk Dusun Molodono Kecamatan Tempel
Golongan
Umur Jumlah Penduduk Jumlah Penduduk
Laki-laki+Perempuan
Laki-Laki Perempuan
0-4 9 6 15
5-9 7 6 13
10-14 9 73 22
15-19 12 72 24
20-24 9 9 18
25-29 15 10 25
30-34 7 7 14
35-39 11 9 20
40-44 11 9 20
45-49 14 5 19
50-54 3 10 13
55-59 4 5 9
60-64 4 5 9
65-69 6 2 8
70-74 3 1 4
75+ 4 2 6
Total 121 111 232

Analisis :

Dari tabel distribusi penduduk di atas dapat diketahui jumlah penduduk laki-laki Dusun Molodono adalah 121 jiwa, jumlah penduduk perempuan sebesar 111 jiwa. Sehingga dari keduanya dapat diketahui SEX RATIO penduduk Dusun Molodono yaitu sebesar 109,00%. Artinya, terdapat lebih banyak laki-laki di Dusun Molodono daripada jumlah perempuannya.
Jumlah penduduk yang berusia kurang dari 14 tahun sebanyak 50 jiwa, jumlah penduduk usia 15-64 tahun sebanyak 164 jiwa, dan jumlah penduduk usia 65 tahun ke atas sebanyak 18 jiwa. Sehingga dapat diketahui jumlah penduduk usia produktif dusun Molodono sebanyak 164 jiwa. Sedangkan jumlah penduduk usia tidak produktifnya sebanyak 68 jiwa. Dari angka-angka tersebut dapat diketahui Angka Ketergantungan (Dependency Ratio) di Dusun Molodono sebesar 41,46%.

2. Kondisi Pendidikan Penduduk Dusun Molodono
Pendidikan merupakan indikator tingkat kesejahteraan masyarakat. Kesejahteraan masyarakat tercermin dari tingkat pendidikan terakhir yang mereka tempuh. Kondisi pendidikan penduduk Dusun Molodono dapat dilihat dari tabel di bawah ini :





2.1.Tabel Jumlah Penduduk Berumur 10 tahun ke atas menurut Partisipasi Sekolah
Partisipasi Sekolah
Tidak/Belum pernah Masih sekolah Tidak sekolah lagi
20 56 156

2.2.Tabel Presentase Penduduk Berumur 10 tahun ke atas menurut Partisipasi Sekolah
Presentase Partisipasi Sekolah
Tidak/Belum pernah Masih sekolah Tidak sekolah lagi
8,62 % 24,14% 67,24%


Analisis :

Dari tabel 2.2, dapat disimpulkan bahwa terdapat 20 orang atau 8,62% penduduk yang tidak/belum pernah sekolah, terdapat 56 orang atau 24,14% penduduk yang masih sekolah, dan 156 orang atau 67,24% penduduk yang tidak sekolah lagi.
Dari tabel presentase di atas dapat diketahui angka tingkat melek huruf di Dusun Molodono sebanyak 91,38%. Sehingga dapat dikatakan bahwa tingkat melek huruf di Dusun Molodono sudah terbilang baik, dengan angka buta huruf sebanyak 8,62% yaitu sebanyak 20 orang dari 232 jiwa.
Kebanyakan penduduk di Dusun Molodono berpendidikan rendah. Hal ini dipengaruhi tingkat pendapatan penduduk yang juga rendah. Sehingga, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi tidak dapat dipenuhi oleh sebagian besar penduduk karena keterbatasan biaya. Hal ini juga dapat berarti bahwa kesadaran penduduk di Dusun Molodono akan pentingnya pendidikan masih tergolong rendah.

3. Pekerjaan Penduduk Dusun Molodono
Terdapat berbagai jenis pekerjaan yang ada di Dusun Molodono. Jenis pekerjaan tersebut dapat dilihat dari tabel di bawah ini :
3.1.Tabel Jenis Pekerjaan
No. Jenis pekerjaan Jumlah Presentase
1.
2.
3.
4.
5. Buruh
Petani
PNS
Pedagang
Lain-lain 27
12
6
4
16 41,54%
18,46%
9,23%
6,15%
24,62%
Jumlah 65 100%

Analisis :

Dari tabel di atas dapat disimpulkan bahwa terdapat 27 orang atau 41,54% penduduk yang bekerja sebagai buruh, 12 orang atau 18,46% penduduk yang bekerja sebagai petani, 6 orang atau 9,23% penduduk yang bekerja sebagai PNS, 4 orang atau 6,15% penduduk yang bekerja sebagai pedagang, dan 16 orang atau 24,62% penduduk yang bekerja di sektor lain.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa mayoritas penduduk Dusun Molodono bekerja sebagai buruh. Mereka bekerja sebagai buruh proyek dan juga buruh tani. Tingginya angka penduduk yang bekerja sebagai buruh tersebut dipengaruhi oleh tingkat pendidikan penduduk. Hal ini dapat dilihat pada grafik 7.1. (grafik hubungan pekerjaan dan pendidikan).
Sedangkan minoritas penduduk Dusun Molodono bekerja sebagai pedagang, itupun hanya pedagang kecil di Pasar Tempel yang penghasilannya tidak menentu.
Petani di Dusun Molodono kebanyakan berpenghasilan rendah dan tidak menentu. Sebagian dari petani mengusahakan lahan pertanian yang sempit sehingga penghasilan dari pertanian tidak dapat mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka.

4. Pendapatan Penduduk Dusun Molodono
Pendapatan penduduk Dusun Molodono dapat dilihat dari tabel berikut :
4.1.Tabel Pendapatan Penduduk di Dusun Molodono
NO. VARIABEL PENDAPATAN FREKUENSI KRITERIA PERUMAHAN
KURANG CUKUP BAIK SANGAT BAIK

1. Rp 150.000 - 750.000 6 13 21 0
2. Rp 750.000 - 1.350.000 1 3 5 1
3. Rp 1.350.000 - 2.100.000 0 4 5 1
4. > Rp 2.100.000 0 0 4 1
Jumlah 7 20 35 3


Analisis :

Dari tabel di atas dapat diketahui hubungan antara pendapatan dengan kriteria perumahan. Pada tingkat pendapatan Rp 150.000,00 - Rp 750.000,00 tingkat perumahan penduduk dengan kriteria kurang sejumlah 6 orang atau sebesar 8,23%, kriteria cukup sejumlah 13 orang atau sebesar 20%, kriteria baik sejumlah 21 orang atau sebesar 32,30%. Hal ini mengidentifikasikan bahwa tingkat pendapatan tidak mempengaruhi kondisi rumah. Rumah yang mereka bangun sudah mengalami kemajuan dalam hal lantai, tembok, atap, dan ketersediaan listrik. Selanjutnya pada tingkat pendapatan Rp 750.000,00 – Rp 1.350.000,00, tingkat pendapatan penduduk berada pada golongan menengah ke bawah. Rumah penduduk yang dalam kriteria kurang sejumlah 1 orang atau sebesar 1,53%, kriteria cukup sejumlah 3 atau sebesar 4,61%, kriteria baik sejumlah 5 orang atau sejumlah 7,69%, dan kriteria sangat baik sejumlah 1 orang atau sebesar 1,53%. Kondisi tingkat pendapatan menengah bawah hampir serupa dengan golongan menengah ke atas yaitu tingkat pendapatan Rp 1.350.000,00 – Rp 2.100.000,00 hanya saja pada golongan ini tidak ada rumah penduduk dalam kriteria kurang, kriteria cukup sejumlah 4 orang atau sejumlah 6,15%, kriteria baik sejumlah 5 orang atau sebesar 7,69%, dan kriteria sangat baik sejumlah 1 orang atau sebesar 1,53%. Sedangkan pada golongan orang berpenghasilan tinggi, yaitu berpenghasilan lebih dari Rp 2.100.000,00 kondisi rumah minimal dalam kriteria baik, yaitu sejumlah 4 orang atau sebesar 6,15% dan kriteria sangat baik sejumlah 1 orang atau sebesar 1,53%.

5. Ketenagakerjaan yang ada di Dusun Molodono
Ketenagakerjaan penduduk Dusun Molodono dapat dilihat dari tabel di bawah ini :.




5.1.Tabel Penduduk Yang Bekerja, Mencari Kerja, Tidak Bekerja dan Bukan angkatan Kerja
Dusun Molodono Kecamatan Tempel Kabupaten Sleman Yogyakarta
Indikator Penduduk Jumlah
Laki-laki Perempuan
Bekerja 82 40 122
Mencari Kerja 7 4 11
Tidak Bekerja 27 30 57
Bukan Angkatan Kerja 10 32 42

Analisis :

Dari table di atas maka dapat dihitung TPAK (Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja). Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja adalah angka yang menunjukan presentase angkatan kerja terhadap penduduk usia kerja. Secara umum TPAK dapat dirumuskan sebagai berikut:
TPAK : Angkatan Kerja x 100
Penduduk Usia Kerja

TPAK : 133 x 100 = 76
175
TPAK 76 berarti dari 100 orang penduduk usia kerja terdapat 76 orang angkatan kerja.



5.2.Tabel Penduduk Usia Belum produktif, Produktif, dan Tidak Produktif Penduduk di Dusun Molodono
Indikator Penduduk Jumlah
Laki-Laki Perempuan
Belum Produktif 10 32 42
Produktif 89 44 133
Tidak Produkrif 27 30 57

Analisis :

Dari tabel di atas dapat diketahui bahwa terdapat 82 penduduk laki-laki dan 40 penduduk perempuan yang bekerja, sejumlah 7 penduduk laki-laki dan 4 penduduk perempuan yang mencari kerja, 27 penduduk laki-laki dan 30 penduduk perempuan yang tidak bekerja, dan 10 penduduk laki-laki dan 32 penduduk perempuan yang bukan angkatan kerja.
Yang termasuk penduduk yang bekerja adalah mereka yang berusia di atas 15 tahun yang memiliki perkerjaan tetap maupun pekerjaan tambahan sebagai sumber penghasilan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari mereka.
Sedangkan yang termasuk penduduk yang mencari kerja adalah mereka yang berusia di atas 15 tahun yang belum memiliki pekerjaan tetap, dan sedang berupaya untuk memperoleh pekerjaan.
Penduduk yang tidak bekerja adalah mereka yang tidak mempunyai pekerjaan dikarenakan tidak memiliki kemampuan untuk melakukan pekerjaan lagi. Hal tersebut ditentukan oleh faktor umur.
Penduduk yang bukan angkatan kerja adalah mereka yang masih bersekolah dan ibu rumah tangga.

6. Kondisi Perumahan dan Lingkungan Dusun Molodono
Kondisi perumahan dan lingkungan di Dusun Molodono dapat dilihat dari tabel-tabel berikut ini :
6.1.Tabel Presentase Rumah Tangga menurut Sumber Penerangan di Dusun Molodono
No Sumber Penerangan Jumlah Persentase
1.
2.
3.
4. Listrik
Minyak Tanah
Lain-lain 64
1
98,46%
1,54%
Jumlah 65 100%

Analisis tabel 6.1. :

Dari tabel 6.1. dapat diketahui bahwa hampir semua penduduk di Dusun Molodono sudah memanfaatkan energi listrik sebagai sumber penerangan di rumah mereka. Hal ini menunjukkan bahwa listrik dari pemerintah sudah terjangkau oleh semua masyarakat.

6.2.Tabel Presentase Rumah Tangga menurut Sumber Air Minum di Dusun Molodono
No Sumber Air Minum Jumlah Persentase
1.
2.
3.
4. PAM
Sumur Sendiri
Sumur Bersama
Lain-lain 2
58
5 3,08%
89,23%
7,69%
Jumlah 65 100%

Analisis tabel 6.2. :

Dari tabel 6.2. dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk di Dusun Molodono sudah memiliki sumur sendiri sebagai sumber air bersih untuk menunjang kebutuhan sehari-hari. Meskipun begitu, masih terdapat beberapa penduduk yang belum memiliki sumur sendiri, sehingga mereka harus mengambil air dari sumur tetangga yang digunakan secara bersama-sama. Dan hanya sedikit sekali penduduk yang memanfaatkan sumber air dari PAM. Penduduk dengan kondisi ekonomi yang tinggi saja yang menggunakan sumber air dari PAM tersebut.

6.3.Tabel Presentase Rumah Tangga menurut Tempat Buang Air Besar di Dusun Molodono
No Tempat Buang Air Besar Jumlah Persentase
1.
2.
3.
4. WC sendiri
WC umum
Sungai
Lain-lain 20
13
28
4 30,77%
20%
43,07%
6,15%
Jumlah 65 100%

Analisis tabel 6.3. :

Dari tabel 6.3. dapat diketahui bahwa sebagian besar penduduk di Dusun Molodono belum memiliki kakus/WC sendiri. Sebagian besar penduduk buang air besar di sungai. Fakta ini kami jumpai dengan mudah di lapangan. Beberapa rumah yang memiliki sumur sendiri belum tentu mempunyai kakus/WC sendiri pula. Sebagian besar penduduk tersebut melakukan pembuangan di sungai yang berada tidak jauh dari lokasi permukiman penduduk.
Tidak semua penduduk tidak memiliki kakus/WC sendiri. Dari tabel 6.3. dapat diketahui bahwa terdapat 20 orang yang sudah memiliki kakus/WC sendiri. Dan 13 orang yang tidak memiliki WC sendiri menggunakan kakus/WC umum/bersama .
Dari fakta-fakta tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat sanitasi penduduk di Dusun Molodono masih tergolong rendah. Hal ini akan menunjukkan korelasi bila dikaitkan dengan tingkat pendapatan penduduk yang juga rendah. Tingkat sanitasi yang buruk juga dikarenakan kurangnya kesadaran penduduk akan kesehatan dan kebersihan.

6.4.Tabel Presentase Rumah Tangga menurut Tempat Mandi di Dusun Molodono
No Tempat Mandi Jumlah Persentase
1.
2.
3. Kamar mandi sendiri
Kamar mandi bersama
Lain-lain 53
5
7 81,54%
7,69%
10,77%
Jumlah 65 100%

Analisis tabel 6.4. :

Dari tabel 6.4. dapat diketahui bahwa terdapat sebanyak 53 orang di Dusun Molodono yang sudah memiliki kamar mandi sendiri, sebanyak 5 orang menggunakan kamar mandi bersama, dan 7 orang lainnya memanfaatkan selain kamar mandi sendiri dan kamar mandi bersama. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan kepemilikan penduduk akan sumur sendiri. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sebagian besar penduduk yang sudah memiliki sumur sendiri, mereka juga memiliki kamar mandi sendiri.

6.5.Tabel Presentase Rumah Tangga menurut Jenis Bahan Bakar untuk Memasak di Dusun Molodono
No Bahan Bakar Memasak Jumlah Persentase
1.
2.
3.
4. Listrik/gas
Minyak tanah
Kayu/arang
Lain-lain 26
1
38
40%
1,54%
58,46%
Jumlah 65 100%

Analisis tabel 6.5. :

Dari tabel 6.5. dapat diketahui bahwa terdapat sebanyak 38 orang yang masih menggunakan kayu bakar/arang sebagai bahan bakar untuk keperluan memasak mereka sehari-hari. Meskipun begitu, terdapat 26 orang yang sudah menggunakan gas sebagai bahan bakar untuk memasak mereka. Akan tetapi, dari penelitian kami di lapangan menunjukkan bahwa gas yang mereka gunakan berasal dari bantuan pemerintah, bukan dari usaha membeli sendiri. Hal tersebut menunjukkan bahwa sasaran pemerintah untuk konversi minyak tanah ke gas terbilang sudah cukup terealisasikan.

6.6.Tabel Presentase Rumah Tangga menurut Luas Lantai di Dusun Molodono
No Luas Lantai Jumlah Persentase
1.
2.
3.
4. ≤49 m2
50-99 m2
100-149m2
≥150 m2 39
6
9
11 60%
9,23%
13,84%
16,92%
Jumlah 65 100%




Analisis tabel 6.6. :

Dari tabel 6.6. dapat diketahui bahwa 60% penduduk di Dusun Molodono memiliki luas lantai sekitar ≤ 49 m2 , 9,23% penduduk memiliki luas lantai 50-99 m2 , 13,84% penduduk memiliki luas lantai 100-149 m2 , dan 16,92% penduduk memiliki luas lantai ≥ 150 m2 . Hal ini menunjukkan bahwa rumah yang mereka tempati berukuran sedang. Hanya orang-orang tertentu saja yang memiliki luas lantai berukuran besar.

6.7.Tabel Presentase Rumah Tangga menurut Jenis Dinding di Dusun Molodono
No Jenis Dindidng Jumlah Persentase
1.
2.
3.
4. Tembok
Kayu
Bambu
Lain-lain 59
2

4 90,77%
3,07%

6,15%
Jumlah 65 100%

Analisis tabel 6.7. :

Dari tabel 6.7. dapat diketahui bahwa hampir semua orang sudah menggunakan bahan tembok sebagai dinding rumah mereka. Hal ini berarti kondisi ekonomi yang terbilang masih rendah dapat memenuhi kebutuhan perumahan mereka untuk bahan dinding. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa terdapat beberapa rumah yang memiliki dinding tembok sekaligus dinding bambu. Pada umumnya dinding tembok dibangun untuk ruang-ruang yang dianggap cukup penting seperti ruang tamu, ruang tidur, dan ruang makan. Sedangkan untuk dapur dan kamar mandi masih menggunakan dinding dari bambu.


6.8.Tabel Presentase Rumah Tangga menurut Jenis Atap di Dusun Molodono
No Jenis Atap Jumlah Persentase
1.
2.
3.
4.
5. Beton
Kayu
Seng/asbes
Genteng
Lain-lain 1

5
59
1,53%

7,69%
90,76%
Jumlah 65 100%

Analisis tabel 6.8. :

Dari tabel 6.8. dapat diketahui bahwa hampir semua orang di Dusun Molodono menggunakan genteng sebagai atap rumah mereka. Hal ini menunjukkan bahwa kehidupan sederhana masih banyak dijumpai di Dusun Molodono.

6.9.Tabel Presentase Rumah Tangga menurut Jenis Lantai di Dusun Molodono
No Jenis Lantai Jumlah Persentase
1.
2.
3.
4.
5.
6. Keramik/marmer
Ubin/tegel
Semen/batu merah
Kayu
Tanah
Lain-lain 21
8
33

1
32,30%
12,30%
50,76%

1,53%
Jumlah 65

Analisis tabel 6.9. :

Dari tabel 6.9. dapat diketahui bahwa terdapat sebanyak 33 orang yang memiliki rumah dengan lantai dari semen/bata merah, sebanyak 21 orang yang memiliki rumahh dengan lantai dari keramik/marmer, sebanyak 8 orang yang memiliki rumah dengan lantai dari ubin/tegel, dan 1 orang saja yang memiliki rumah dengan lantai dari tanah. Artinya, kondisi perumahan untuk kategori bahan baku lantai dapat dikatakan cukup baik.

6.10.Tabel Presentase Rumah Tangga yang mendengarkan Radio, menonton Televisi, dan Membaca Surat Kabar seminggu yang lalu di Dusun Molodono
No Jenis Informasi Jumlah Persentase
1.
2.
3.
4. Mendengarkan Radio
Menonton TV
Membaca Surat Kabar
Lain-lain 3
59
2
1 4,62%
90,76%
3,07%
1,54%
Jumlah 65 100%

Analisis tabel 6.10. :

Dari tabel 6.10 dapat diketahui bahwa hampir semua orang di Dusun Molodono mengikuti atau mendapatkan informasi dan berita dari televisi. Meskipun kondisi ekonomi terbilang rendah, tetapi fakta di lapangan menunjukkan bahwa mereka mampu membeli televisi.

7. Kesejahteraan Penduduk Dusun Molodono
Untuk mengukur tingkat kesejahteraan penduduk di Dusun Molodono, maka kami membuat analisis hubungan antara pendidikan dan pekerjaan yang merupakan indikator sosial budaya. Hubungan antara pendidikan dengan pekerjaan dapat dilihat dari tabel dan grafik berikut :




7.1.Tabel Hubungan Pendidikan dan Pekerjaan
sNO. VARIABEL PEKERJAAN FREKUENSI TINGKAT PENDIDIKAN Jumlah Pekerjaan
SD SMP SMA S1 / SEDERAJAT
1. Buruh 11 8 8 0 27
2. Petani 10 2 0 0 12
3. PNS 0 0 2 2 4
4. Pedagang 1 2 3 0 6
5. Lain-lain 2 2 10 2 16
Jumlah 24 14 23 4 65

7.2.1.Grafik Hubungan Pekerjaan dan Pendidikan





Analisis grafik hubungan pekerjaan dan pendidikan :

Dari grafik tersebut dapat diketahui terdapat sejumlah 27 orang atau 41,53% penduduk yang bekerja sebagai buruh, sebanyak 12 orang atau 18,46% penduduk bekerja sebagai petani, sebanyak 4 orang atau 6,15% penduduk bekerja sebagai PNS, sebanyak 6 orang atau 9,23% penduduk bekerja sebagai pedagang, dan sebanyak 16 orang atau 24,62% bekerja di sektor lain.
Pada grafik tersebut dapat dilihat bahwa pada tingkat Sekolah Dasar terdapat sejumlah 24 orang atau sebanyak 36,92%, tingkat SMP sejumlah 14 orang atau sebanyak 21,53%, tingkat SMA sebanyak 23 orang dan 35, 38%, sedangkan tingkat S1/sederajat sejumlah 4 orang atau 6,15%.
Dari grafik tersebut, dapat diketahui hubungan antara pekerjaan dengan tingkat pendidikan penduduk di Dusun Molodono. Penduduk yang bekerja sebagai buruh dan petani didominasi oleh penduduk dengan tingkat pendidikan rendah, yaitu hanya pada tingkat Sekolah Dasar. Sedangkan penduduk yang bekerja sebagai PNS, tingkat pendidikan mereka seimbang antara penduduk berpendidikan SMA dengan penduduk berpendidikan D3/S1 sederajat. Untuk golongan pedagang dan lain-lain, kebanyakan didominasi oleh penduduk dengan pendidikan tingkat SMA.
Sehingga dapat disimpulkan bahwa tingkat pendidikan penduduk di dusun Molodono masih tergolong rendah. Tingkat pendidikan tersebut berpengaruh terhadap pekerjaan yang ditekuni. Semakin tinggi tingkat pendidikan seseorang, semakin baik tingkat pekerjaannya.



7.2.2.Grafik Hubungan Tingkat Pendapatan dan Kriteria Rumah

Analisis grafik hubungan tingkat pendapatan dan kriteria rumah :

Dari grafik di atas dapat diketahui hubungan antara pendapatan dengan kriteria perumahan. Pada tingkat pendapatan Rp 150.000,00 - Rp 750.000,00 tingkat perumahan penduduk dengan kriteria kurang sejumlah 6 orang atau sebesar 8,23%, kriteria cukup sejumlah 13 orang atau sebesar 20%, kriteria baik sejumlah 21 orang atau sebesar 32,30%. Hal ini mengidentifikasikan bahwa tingkat pendapatan tidak mempengaruhi kondisi rumah. Rumah yang mereka bangun sudah mengalami kemajuan dalam hal lantai, tembok, atap, dan ketersediaan listrik. Selanjutnya pada tingkat pendapatan Rp 750.000,00 – Rp 1.350.000,00, tingkat pendapatan penduduk berada pada golongan menengah ke bawah. Rumah penduduk yang dalam kriteria kurang sejumlah 1 orang atau sebesar 1,53%, kriteria cukup sejumlah 3 atau sebesar 4,61%, kriteria baik sejumlah 5 orang atau sejumlah 7,69%, dan kriteria sangat baik sejumlah 1 orang atau sebesar 1,53%. Kondisi tingkat pendapatan menengah bawah hampir serupa dengan golongan menengah ke atas yaitu tingkat pendapatan Rp 1.350.000,00 – Rp 2.100.000,00 hanya saja pada golongan ini tidak ada rumah penduduk dalam kriteria kurang, kriteria cukup sejumlah 4 orang atau sejumlah 6,15%, kriteria baik sejumlah 5 orang atau sebesar 7,69%, dan kriteria sangat baik sejumlah 1 orang atau sebesar 1,53%. Sedangkan pada golongan orang berpenghasilan tinggi, yaitu berpenghasilan lebih dari Rp 2.100.000,00 kondisi rumah minimal dalam kriteria baik, yaitu sejumlah 4 orang atau sebesar 6,15% dan kriteria sangat baik sejumlah 1 orang atau sebesar 1,53%.

Dari tabel dan grafik tersebut dapat disimpulkan bahwa tingkat kesejahteraan penduduk di Dusun Molodono dilihat dari indikator sosial budaya yang meliputi tingkat pendidikan, jenis pekerjaan, tingkat pendapatan, ketenagakerjaan, serta kondisi perumahan dan lingkungan dapat dikatakan masih rendah.
Oleh karena itu perlu upaya-upaya nyata dari aparat/pemerintah untuk meningkatkan kesejahteraan penduduk setempat.






BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang telah kami lakukan di Dusun Molodono, maka dapat diperoleh beberapa informasi tentang kondisi sosial budaya di wilayah tersebut yang meliputi kondisi demografi, tingkat pendidikan, tingkat pekerjaan, tingkat pendapatan, ketenagakerjaan, perumahan, dan kesejahteraan.
Dari penelitian ini dapat diketahui bahwa kondisi demografi Dusun Molodono didominasi oleh penduduk usia produktif (15-65 tahun). Tingginya angka penduduk usia produktif sebanding dengan angka angkatan kerja penduduk setempat. Akan tetapi,
Banyaknya penduduk dengan tingkat pendidikan yang rendah juga berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia di dusun tersebut. Diantaranya jenis pekerjaan masyarakat, terlihat dengan banyaknya penduduk yang bermatapencaharian sebagai buruh, pedagang kecil, petani, dan hanya sebagian kecil penduduk saja yang memiliki mata pencaharian sebagai pegawai tetap misal TNI, dan PNS.
Kondisi tersebut berpengaruh terhadap tingkat kesejahteraan masyarakat di Dusun Molodono. Terbukti dengan kondisi perumahan di Dusun Molodono yang masih sangat sederhana, termasuk kondisi sanitasi yang masih rendah.
Hal ini terlihat pada kondisi perumahan penduduk yang sebagian besar belum memiliki WC sendiri bahkan ada juga beberapa rumah yang belum memiliki sumur sendiri.

B. Saran
Saran-saran yang dikemukaan oleh peneliti dari hasil penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Bagi pemerintah
a) Daerah penelitian adalah daerah yang sedang mengalami perkembangan bangunan, maka perlu adanya suatu persiapan perkembangan yang merupakan konsensus bersama antara pemerintah kabupaten dengan pemerintah provinsi, hal ini bertujuan agar jangan sampai terjadi staknasi pelaksanaan pengembangan di masa yang akan datang.
b) Diperlukan adanya suatu rencana penataan pembangunan desa Molodono sedini mungkin untuk menghindari terjadinya masalah-masalah dalam pelaksanaan pengmbangan desa yang akan datang.
c) Menyediakan modal dengan prosedur peminjaman yang mudah dengan suku bunga pinjaman rendah untuk pengembangan usaha tani di Dusun Molodono.
2. Bagi Kepala Dusun
a) Diharapkan Kepala Dusun bekerjasama dengan lembaga-lembaga sosial, pemerintah dan Universitas untuk melaksanakan pelatihan ketrampilan wirausaha pada warga Dusun Molodono.
b) Diharapkan Kepala Dusun lebih aktif dalam bersosialisasi dengan penduduk Dusun Molodono untuk memecahkan permasalahan-permasalahan yang dialami warga.
3. Warga Dusun Molodono
a) Diharapkan warga mempersiapkan pendidikan bagi anak mereka sedini mungkin.
b) Penelitian ini menyarankan kepada para warga agar memberikan perhatian dan dorongan kepada anak mereka agar lingkungan tempat tinggal dapat tercipta secara kondusif dan kemandirian yang dimiliki anak dapat meningkat serta penyediaan akses informasi yang baik bagi anak-anak terutama informasi yang bermanfaat bagi masa depan mereka, misalnya denga menyediakan surat kabar, pemilihan tayangan media elektronik yang bermanfaat bagi keluarga.
c) Sebaiknya para warga yang berprofesi sebagai para petani lebih mengembangkan usahatani mereka melihat kondisi topografi yang mendukung dan prospek usahatani salak sehingga produktifitas meningkat dan pemasaran dapat menjangkau tidak hanya lokal saja tetapi sampai daerah lain.













DAFTAR PUSTAKA
Tika, Pabundu. 1997. Metode Penelitian Geografi. Jakarta:Gramedia.
Arikunto, Suharsmi. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Margono. 1996. Metode Penelitian Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Sugiyono. 2007. Statistika untuk Penelitian.Bandung:Alfabeto
Mantra, Ida Bagoes.2003. Demografi Umum.Yogyakarta: Pustaka Pelajar Offset.

पकम कु

A. Judul
“KOMPOSTER KRAMAT”MEDIA PENGOLAHAN SAMPAH ORGANIK MENJADI PUPUK ORGANIK YANG RAMAH LINGKUNGAN DAN EFISIEN
B. Latar Belakang Masalah
Sampah berdasarkan Undang-Undang No. 18 Tahun 2008 tentang sampah, sampah adalah sisa kegiatan sehari-hari manusia dan/atau proses alam yang berbentuk padat. Pengelolaan sampah dimaksudkan adalah kegiatan yang sistematis, menyeluruh, dan berkesinambungan yang meliputi pengurangan sampah dan penanganan sampah.
Sampah merupakan masalah yang tidak pernah surut dibicarakan dalam kehidupan masyarakat kita. Masalahnya, sampah adalah hasil samping dari segala aktivitas yang dilakukan manusia baik langsung maupun tidak langsung, yang dibuang karena dianggap tidak berguna. Sayangnya, selama ini sampah kurang mendapat penanganan yang maksimal dari berbagai pihak, baik dari pemerintah, maupun masyarakat itu sendiri. Padahal sebagai orang yang bertanggung jawab atas menumpuknya produksi sampah, terutama sampah-sampah dari lingkungan rumah tangga, masyarakat sebenarnya merupakan pihak yang paling penting untuk berpartisipasi aktif dalam menanggulangi masalah ini.
Sampah erat kaitannya dengan kesehatan masyarakat, karena sampah- sampah itu merupakan awal dari penyebab berbagai penyakit (tempat hidup mikroorganisme patogen dan serangga sebagai penyebar penyakit). Oleh sebab itu, sampah harus dikelola dengan baik agar tidak mengganggu kesehatan masyarakat.
Sampah berdasarkan sifat fisik dan kimianya sampah dapat digolongkan menjadi: 1) sampah ada yang mudah membusuk terdiri atas sampah organik seperti Sampah sisa sayuran, Sampah sisa daging, Sampah daun dan Sampah lain-lain; 2) sampah yang tidak mudah membusuk seperti Sampah plastik, Sampah kertas, Sampah karet, Sampah logam, Sampah sisa bahan bangunan dan Sampah lain-lain; 3) sampah yang berupa debu/abu; dan 4) sampah yang berbahaya (B3) bagi kesehatan, seperti sampah berasal dari Sampah industri dan Sampah rumah sakit yang mengandung zat-zat kimia dan agen penyakit yang berbahaya. Tetapi dalam proposal pengabdian masyarakat ini akan dibatasi pada sampah dalam bentuk padat yang dihasilkan dalam lingkungan rumah tangga, yaitu sampah organik, sampah yang pada umumnya dapat membusuk, seperti sisa-sisa makanan, daun- daunan, buah-buahan, dan sebagainya.
Seperti yang penulis ketahui, pengetahuan masyarakat mengenai cara pengelolaan sampah yang mudah dan dapat mereka praktekkan secara langsung sangatlah minim. Sampai saat ini, cara yang umum digunakan masyarakat untuk mengolah sampah, terutama sampah organik, adalah dengan menguburnya dalam tanah atau membakarnya. Masalahnya, jika sampah organik itu dibakar, justru akan menambah jumlah polusi. Artinya, bukannya mengurangi sampah yang ada, tapi justru menambah jumlah sampah yang lain, yaitu dalam bentuk gas. Sedangkan, jika dikuburkan, sampah organik memerlukan waktu yang cukup lama untuk membusuk.
Warga masyarakat di Desa Kramat, Sidoarum, Godean, Sleman, Yogyakarta dalam mengolah sampah ternyata belum maksimal karena banyak sampah yang tidak dimanfaatkan oleh warga tetapi justru dibuang dan dibakar sehingga dapat mengganggu warga. Selain itu, belum adanya kesadaran warga Desa Kramat akan pengelolaan sampah, hal ini dikarenakan belum adanya pihak terkait yang mensosialisasikan akan pentingnya pengelolaan sampah, baik itu instansi dari pemerintah atau swasta seperti LSM. Dengan permasalahan tersebut sosialisasi dan penerapan komposter sebagai media pengolahan sampah yang ramah lingkungan sangat cocok diterapkan di daerah ini.

C. Rumusan Masalah
Berdasaran identifikasi masalah yang ada dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
1. Bagaimanakah pengetahuan warga masyarakat tentang penggunaan Komposter sebagai media pembuatan pupuk organik yang ramah lingkungan?
2. Bagaimanakah peran warga masyarakat dalam pengolahan sampah organic menjadi pupuk organik?

D. Tujuan
Dari rumusan tersebut, tujuan yang ingin dicapai penulis, yaitu:
1. Meningkatkan pemahaman masyarakat tentang cara pengolahan sampah organik dalam lingkungan rumah tangga.
2. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam penanggulangan masalah sampah organik di lingkungan masyarakat.
3. Mensosialisasikan penggunaan komposter sebagai media proses pengomposan sampah organik.
4. Memberikan pengetahuan pemanfaatan komposter sebagai media proses pengomposan sampah organik.
5. Memberikan pengetahuan tentang manfaat sampah organik yang berguna untuk pupuk organik yang ramah lingkungan.

E. Luaran yang Diharapkan
Luaran yang diharapkan dari kegiatan ini adalah:
1. Dapat mensosialisasikan penggunaan komposter sebagai media proses pengomposan sampah organik.
2. Masyarakat dapat menggunakan (memanfaatkan) sampah organic sebagai pupuk tanaman hias maupun tanaman buah-buahan.
3. Berkurangnya permasalahan sampah organik di lingkungan rumah tangga
4. Terciptanya lingkungan yang bersih dan asri tanpa polusi.


F. Kegunaan Program
Kegunaan dari program ini, antara lain:
1. Bagi masyarakat yaitu dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan kesehatan dengan cara mengurangi jumlah sampah dalam lingkungan masyarakat pada umumnya dan rumah tangga pada khususnya.
2. Program ini juga dapat meningkatkan daya guna dari sampah itu sendiri.

G. Keunggulan Pengolahan Sampah Organik Dengan Metode Komposter
1. Keunggulan dengan metode komposter
a) Ditinjau dari segi biaya yang dibutuhkan, pengolahan sampah dengan metode komposer ini membutuhkan biaya yang relatif murah karena bahan-bahan untuk membuat alat komposer bisa didapatkan dengan harga yang terjangkau.
b) Metode komposer lebih ramah lingkungan karena dalam pengolahannya tidak menggunakan bahan kimia yang membahayakan.
c) Kualitas pupuk yang dihasilkan dari penggunaan metode komposer lebih baik dibandingkan dengan pupuk kimia yang biasa digunakan.
2. Teknik Pengomposan
Sampah organik sering juga disebut sampah basah, memiliki sifat mudah diuraikan oleh mikrobia pengurai. Sampah organic dapat dibuat kompos dengan cara yang sangat sederhana, mudah, serta murah. Pembuatan kompos dapat dilakukan di rumah tangga, sekolah, kantor, atau tempat lain. Salah satu cara sederhana pembuatan kompos adalah sebagai berikut:
a. Alat dan bahan
1. Komposter
2. Sprayer
3. Alat pengaduk
4. Biostarter atau biang kompos
5. Sampah organik hasil sisa-sisa dapur dan hasil sapuan yang mudah busuk, sepeti daun-daunan, sisa makanan, sayur, dan kulit buah.
b. Langkah pembuatan komposter
Komposter adalah alat unuk pembuatan kompos. Alat ini sangat sederhana dan dapat dibuat sendiri. Bagian-bagian komposter meliputi:
1. Wadah/ bak/ ember bekas, guna menampung sampah organik
2. Kran untuk mengalirkan lindi yang dipasang di ujung bawah ember
3. Saringan untuk memisahkan sampah dan lindi dalam proses pengomposan
4. Pipa udara untuk memasukkan udara yang dibutuhkan dalam proses pengoposan.
c. Langkah pembuatan biostarter
Biostarter adalah cairan yang berisi mikrobia pengurai sampah menjadi kompos. Biostarter dapat dibuat dengan cara yang mudah dan murah. Bahan dasarnya adalah irisan pisang atau kulit pisang (2 genggam), irisan nanas atau kulit nanas (2 genggam), irisan bawang merah (5 siung), irisan tempe (2 genggam), dan gula pasir.
Cara pembuatannya adalah sebagai berikut:
1. Bahan diiris dan dipisahkan masing-masing.
2. Buat 4 gelas larutan gula, masing-masing 1 gelas air dicampur dengan 1 sendok teh peres gula pasir. Air yang digunakan adalah air dari sumur yang telah direbus dan didinginkan.
3. Masukkan larutan gula dalam 4 botol
- Botol pertama diisi irisan pisang atau kulit pisang
- Botol kedua diisi irisan nanas atau kulit nanas
- Botol ketiga diisi irisan bawang merah
- Botol keempat diisi irisan tempe
4. Botol ditutup jangan telalu rapat, agar udara tetap dapat masuk ke dalam botol.
5. Letakkan botol di tempat yang teduh tidak terkena sinar matahari langsung dan hujan
6. Diamkan selama 2 hari (2X24 jam)
7. Pisahkan antara air dan ampas dengan cara disaring
8. Air hasil saringan dari keempat botol tersebut dicampur menjadi satu dan masukkan ke dalam botol dan disimpan di tempat yang teduh tidak terkena sinar matahari langgsung dan hujan. Botol ditutup.
9. Cairan ini berfungsi sebagai biostarter, dan dapat disimpan sampai waktu sekitar 3 bulan.
10. Cara penggunaan: biostarter dicampur dengan air sumur dengan perbandigan 1 bagian biostarter dicampur dengan 10 bagian air.
11. Biostarter siap digunakan dengan cara menyemprotkan dengan sprayer
d. Langkah-langkah pembuatan kompos
1. Sampah organik seperti daun, sisa makanan, sayur, dan kulit buah dipotong (dicacah) kecil-kecil ±2cm.
2. Masukkan sampah yang sedah dicacah ke dalam komposter. Untuk sisa sayuran yang berkuah, ditiriskan terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam komposter.
3. Semprot sampah dalam komposter dengan biostarter sampai lembab. Penyemprotan jangan terlalu basah.
4. Tutup komposter dan letakkan komposter pada tempat teduh yang tidak terkena sinar matahari langsung dan hujan.
5. Setiap kali menambah/ memasukkan sampah organik baru, semprotkan biostarter.
6. Periksa sampah dalam komposter sekitar 3 hari sekali. Jika sampah terlalu kering, semprot atau percik dengan air dan aduk sampai rata. Jika terlalu basah, tambahkan serbuk arang atau bekatul atau serbuk sisa gergaji dan aduk hingga rata.
7. Dalam proses pengomposan ini juga akan terbentuk cairan yang disebut lindi. Lindi dapat berfungsi sebagai pupuk cair. Lindi diambil dari kran yang terpasang pada ujung bawah komposter. Untuk pemakaian, pupuk cair ini harus diencerkan 10 hingga 20 kali terlebih dahulu.
8. Jika komposter telah penuh dan ada sampah baru, maka sampah baru dimasukkan pada komposer ke 2. Namun jika hanya memiliki satu komposter, maka sampah yang ada dalam komposter dapat dimasukkan ke dalam karung plastik (bagor) untuk pematangan, dan komposter dapat digunakan untuk memproses sampah organik yang baru.
9. Kompos akan matang atau siap pakai kira-kira 4 minggu. Kompos matang ditandai oleh warna gelap dan remah.
10. Bongkar sampah yang telah matang dan angin-anginkan. Kompos langsung dapat dipakai untuk memupuk tanaman.
11. Jika akan dikemas, kompos diayak terlebih dahulu. Sisa kompos yang masih kasar dapat dimasukkan kembali ke dalam komposter guna mempercepat proses pengoposan yang ada di komposter.
Problem dan solusinya
1. Kompos bau busuk dan banyak lalat
Hal ini disebabkan kompos terlalu basah dan tidak cukup udara. Untuk mengatasinya tambahkan 2 atau 3 genggam penuh kapur. Aduk kompos agar mendapatkan udara.
2. Kompos menjadi sarang tikus, kecoa, semut, dan belatung
Untuk mengatasi masalah ini, tambahkan kapur dan aduk sampah untuk mengusir semut dan kecoa, kemudian tutup komposter. Jangan membuang susu, tulang, daging, dan makanan hasil laut terlalu banyak ke dalam komposter.
H. Gambaran Umum Masyarakat Sasaran
Sampah yang dihasilkan oleh rumah tangga memerlukan suatu tempat pengelolaan yang memadai. Jika tidak sampah akan menumpuk dan akan menyebabkan polusi sehingga dapat mengggangu kesehatan, Tetapi tidak semua daerah sadar dan tahu akan cara pengelolaan sampah yang baik dan benar. Seperti yang terjadi di Desa Kramat 01/19, Sidoarum, Godean, Sleman, Yogyakarta.
Masyarakat di Desa Kramat banyak yang belum tahu akan pentingnya pengelolaan sampah dan cara mengelola sampah. Mereka masih membuang sampah secara tradisional, seperti ditimbun, dibakar atau bahkan dibuang ke sungai. Ini sudah menjadi hal umum dimasyarakat, bahkan sudah menjadi budaya yang turun temurun dari generasi sebelumnya. Padahal sampah yang dibakar asapnya dapat menimbulkan polusi udara yang dapat mengganggu kenyamanan warga. Selain itu, asap hasil pembakaran sampah yang mengandung zat karbonmonoksida dapat berdampak pada penipisan lapisan ozon sehingga memicu sinar matahari banyak yang diserap oleh bumi dan menyebabkan peningkatan suhu di bumi. Peristiwa ini menyebabkan terjadinya global warming. Untuk sampah yang dibuang ke sungai dapat mengakibatkan penyumbatan aliran sungai sehingga memcu terjadinya banjir saat musim hujan tiba.
Belum adanya kesadaran warga Desa Kramat akan pengelolaan sampah, hal ini dikarenakan belum adanya pihak terkait yang mensosialisasikan akan pentingnya pengelolaan sampah, baik itu instansi dari pemerintah atau swasta seperti LSM. Padahal jika dilakukan secara serius, dan telaten, sampah yang dikelola bisa menjadi tambahan perekonomian warga. Bahkan tidak sedikit orang yang faham dan menekuninya, menjadikan pengelolaan sampah menjadi mata pencaharian mereka. Sampah non organik seperti plastik dapat dikumpulkan lalu dijual ke pengumpul sehingga bisa menambah pendapatan warga. Selain itu, untuk sampah organik seperti daun-daun yang dapat menimbulkan bau tak sedap dapat diolah menjadi pupuk organik dengan menggunakan media komposter.
Baru-baru ini harga pupuk dinilai sangat mahal dan langka, hal ini dapat menyusahkan para petani di Desa Kramat dalam mengolah sawahnya. Dengan pemanfaatan sampah organik tersebut diharapkan dapat membantu meringankan beban para petani untuk mendapatkan pupuk organik secara cuma-cuma karena pupuk organik dapat dibuat sendiri.
Dengan melihat permasalahan yang ada di Desa Kramat yakni belum tahunya masyarakat akan cara pengelolaan sampah, maka pengelolaan sampah dengan media komposter ini sangat cocok untuk disosialisasikan di desa ini, karena disamping untuk meminimalis polusi yang ditimbulkan sampah ,juga media komposter ini ramah lingkungan dan bernilai ekonomis.

I. Metode Pelaksanaan Program
1. Tempat dan Waktu
Pelaksanaan program pengabdian masyarakat ini dilakukan selama 4 bulan, bertempat di Desa Kramat 01/19, Sidoarum, Godean, Sleman, Yogyakarta 55564
2. Strategi Pelaksanaan Program
a. Persiapan
Persiapan pelaksanaan program terdiri dari pengiriman surat kepada ketua Pemuda-pemudi Wahana Cipta Cakra Mandiri (WCCM),Desa Kramat, Sidoarum, Godean, Sleman, Yogyakarta. Surat tersebut berisikan permohonan izin untuk melaksanakan kegiatan diskusi dengan Pemuda-pemudi WCCM desa Kramat terkait penyuluhan, pelaksanaan kegiatan dan pembagian selebaran pedoman pengolahan sampah organik. Selanjutnya akan dilakukan persiapan materi diskusi penyuluhan, tempat serta waktu pelaksanaan dilanjutkan dengan konfirmasi mengenai jadwal kegiatan yang akan dilaksanakan. Konfirmasi ini bertujuan untuk memastikan jadwal kegiatan sehingga masyarakat dapat mengikuti pelaksanaan kegiatan dengan baik.
b. Rencana Pelaksanaan Program
Dalam rangka meningkatkan pemahaman masyarakat tentang pengolahan sampah organik rumah tangga di Desa Kramat 01/19 maka akan dilakukan beberapa kegiatan yang mendukung pelaksanaan penyuluhan pengolahan sampah yaitu diskusi dengan warga masyarakat, pemberian penyuluhan, pelaksanaan kegiatan dan pemantauan. Secara rinci sebagai berikut:
1) Diskusi dengan Warga
Diskusi ini bertujuuan untuk mengetahui upaya apa saja yang telah dilakukan oleh warga masyarakat dalam pengolahan sampah organik. Dalam diskusi ini juga akan diberikan pengarahan mengenai tujuan program, sasaran program serta diharapkan warga dapat melaksanakan metode pengolahan sampah seperti yang telah diarahkan.
2) Penyuluhan
Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan warga tentang cara pengolahan sampah organik yang baik dan efisien. Adapun materi yang akan diberikan adalah sebagai berikut:
• Pengertian sampah organik
• Proses pembusukan sampah organik
• Pengertian dekomposer
• Cara-cara pengolahan sampah organik dengan bantuan dekomposer
• Penjelasan mengenai pengisian kuisioner
3) Pelaksanaan Kegiatan
Kegiatan ini dilakukan di depan warga masyarakat yang bertujuan untuk memberikan contoh tentang cara pengolahan sampah organik yang efisien dilakukan di lingkungan rumah tangga.
J. Metode Pengumpulan Data
Adapun metode pengumpulan data yang digunakan dalam program ini adalah:
a. Wawancara mendalam (Indepth Interview)
Metode ini digunakan untuk informasi-informasi yang perlu diketahui secara lebih detail dan menda¬lam. Wawancara mendalam ini dilakukan dengan cara mengadakan wawancara secara mendalam kepada informan dan informan kunci dengan tujuan untuk menggali infor¬masi-informasi. Dari wawancara mendalam tersebut diperoleh data primer atau data kualitatif, yaitu berupa tanggapan atau pendapat warga terhadap masalah sampah organik.
b. Dokumentasi
Metode ini digunakan untuk mengumpulkan data-data yang sifatnya sudah tersedia dalam bentuk catatan-catatan atau dokumen. Metode ini digunakan sebagai pelengkap dan pendukung bagi data-data primer yang diperoleh melalui wawancara mendalam. Untuk memperoleh data-data yang berupa dokumen ini, peneliti akan mendatangi Desa Kramat 01/19.

K. Jadwal Kegiatan
Adapun susunan jadwal kegiatan program pengabdian ini adalah sebagai berikut :

No Kegiatan Bulan ke
1 2 3 4
1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4
1. Penyusunan Proposal √ √
2. Observasi awal √
3. Sosialisasi teknik Komposter √ √
4. Pelaksanaan Program √ √ √ √ √ √ √ √
5. Evaluasi Program √ √
6. Penyempurnaan dan Penyusunan laporan √ √ √
7. Penyusunan Laporan Akhir Program √ √





L. Rincian Biaya
Rancangan Biaya
Persiapan Program
 Pembuatan dan Penggandaan Proposal Rp. 200.000,00
 Observasi tempat kegiatan Rp. 300.000,00
Jumlah Rp. 500.000,00
Pelaksanaan Program
Pembuatan media komposter
• Ember (5 buah @ Rp 50.000,00) Rp 250.000,00
• Kran ( 5 buah @ Rp 10.000,00) Rp 50.000,00
• Saringan (5 buah @ Rp 10.000,00) Rp 50.000,00
• Pipa (5 meter @ Rp 30.000,00) Rp 75.000,00
• Karung / bagor (5 buah @ Rp 2.000,00) Rp 10.000,00
• Lem Kastol (1 kaleng) Rp 50.000,00
Rp 455.000,00

Pembuatan Biostarter
• Pisang (1 Lirang @ Rp 10.000,00) Rp 10.000,00
• Nanas (3 buah @ Rp 3.000,00) Rp 9.000,00
• Bawang merah (1/4kg) Rp 5.000,00
• Gula pasir (1/4kg) Rp 3.000,00
• Tempe (5 bungkus@ 2.000,00) Rp 10.000,00
• Botol semprotan/sprayer (5 buah @ Rp 5.000,00) Rp 25.000,00
• Serbuk gergaji Rp 5.000,00
Jumlah Rp 67.000,00
Konsumsi
 Pra kegiatan ( 60 x Rp 10.000 ) Rp. 400.000,00
 Pelaksanaan kegiatan(4 x 60 x Rp 10.000,00) Rp. 1.600.000,00
 Pasca kegiatan( 60 x Rp 10.000,00) Rp. 400.000,00
Jumlah Rp. 2.400.000,00

Transportasi
 Pra Kegiatan Rp. 300.000,00
 Pelaksanaan Progam Rp.1.200.000,00
 Pasca Kegiatan Rp. 500.000,00
Jumlah Rp. 2.000.000,00
Bahan atau Peralatan
 Sewa Handycame Rp. 250.000,00
 Kaset Handycame (5 buah x @ Rp 35.000,00) Rp. 175.000,00
 Sewa Kamera Digital Rp. 100.000,00
 Sewa Komputer Rp. 50.000,00
 Kertas Karton (10 Lembar @ Rp 5.000,00) Rp. 50.000,00
Jumlah Rp. 525.000,00


Tahap Akhir Program
 Penyusunan Rp. 190.000,00
 penggandaan laporan Rp. 450.000,00
Jumlah Rp. 640.000,00
Jumlah Anggaran Rp. 6.587.000,00